Aku tidak tahu sejak kapan aku mulai membuka ponsel setiap kali sampai di halte. Awalnya hanya untuk melihat jam. Memastikan aku tidak terlalu cepat. Atau terlalu berharap. Tapi malam-malam berikutnya, aku tahu itu kebohongan kecil yang kubiarkan hidup.
Sosoknya tanpa nama dan tanpa suara. Namun, ia hadir dengan keakraban sebuah lagu yang melintasi sekat kamar—kau mungkin tak tahu liriknya, tapi kau mengenali getaran emosinya.
Malam itu hujan turun tipis. Lampu halte memantul di genangan, membuat kota terlihat seperti sedang mengingat sesuatu yang ingin dilupakan. Aku berdiri di tempat biasa. Tempat ia biasanya berdiri.
Kosong.
Aku membuka aplikasi pesan. Bukan karena ada yang menunggu, tapi karena aku ingin mencoba. Jari-jariku mengetik satu kalimat pendek. Terlalu pendek untuk disebut berani. Terlalu jujur untuk disebut aman.
“Kamu juga pulang jam segini?”
Aku terpaku menatap kalimat di layar, menanti sebuah alasan atau dorongan untuk berani mengirimnya. Tapi kesunyian itu tetap tidak memberi jawaban.
Pesan itu terhapus. Kucoba tulis ulang dengan bahasa yang lebih aman, lalu kuhapus lagi. Setiap rangkaian kata terasa membebani, seolah aku sudah terlambat dalam menentukan pilihan.
Transportasi sampai. Orang-orang berangkat. Malam berjalan tanpa menungguku untuk siap.
Aku menutup ponsel. Pesan itu tersimpan sebagai draf—bersama semua hal yang hampir terjadi tapi tak pernah benar-benar dimulai.
Dan untuk pertama kalinya aku mengerti:
bukan karena tidak ada kesempatan,
tapi karena aku memilih diam.