Kami masih berseragam saat itu.
Liburan, katanya. Ke sekolah Jawa yang bangunannya tua, berasrama, dan terlalu tenang untuk disebut ramah.
Awalnya biasa saja—keliling, kenalan, tertawa seperti anak sekolah yang belum tahu apa-apa. Sampai satu anak berhenti di tengah lapangan.
Ia memegang kepalanya sendiri.
Dan menjatuhkannya.
Tak ada jeritan panjang. Hanya bunyi tumpul kepala mengenai tanah. Badan dan kepala terpisah di hadapan kami, seperti demonstrasi kematian yang terlalu rapi untuk disebut kecelakaan.
Setelah itu, satu per satu dari mereka menghilang.
Bukan kabur. Bukan diculik.
Seolah seseorang meneriaki kami untuk berlari.
Kami mencoba keluar. Pagar sekolah keras seperti besi yang menolak harapan. Dari luar, tak ada yang mencari. Tak ada yang bertanya. Seolah sekolah ini tak pernah ada di peta.
Aku dan Tasya mengurung diri di kamar asrama. Dua ranjang. Satu ketakutan yang sama. Seorang teman sempat berbisik, “Malam ini ada yang datang.”
Lampu di kamar kami mati.
Entah dari mana, aku memeluk daster pink bermotif bunga milik mamaku. Tanganku gemetar. Napasku tersengal.
Terdengar ketukan diluar pintu kamar kami.
Tapi yang datang bukan hantu. Melainkan Ayahku dan kedua pamanku—Uwak Anul dan Uwak Abal. Mereka tertawa prank, katanya. Seolah kejadian berdarah itu tak pernah terjadi.
Kami keluar dari tempat itu.
Sekolah itu berubah jadi cafe terbengkalai. Meja berdebu. Kursi patah. Tak ada papan nama. Tak ada jejak anak-anak yang mati.
Aku pergi naik mobil. Sendirian.
Hanya bersama Ayahku dan kedua pamanku.
Sawah-sawah lewat di kanan kiri jalan. Hijau. Tenang. Terlalu tenang.
Aku baru sadar satu hal saat mobil menjauh:
Tak ada kuburan.
Tak ada perpisahan.
Dan Tasya… entah di mana.
Mungkin sekolah itu pulang lebih dulu. Meninggalkan kami yang tak sempat dipanggil.