Ketika takbir berkumandang, konon rantai iblis terlepas. Seluruh manusia terlahir kembali. Tapi bukan untuk mereka yang sudah mati. Mereka menunggu.
Rumput-rumput liar yang memenuhi area pemakaman sudah habis dicabut. Tersisa nisan dan batu penanda pusara. Beberapa bernama beberapa tidak.
Bunga-bunga dan air doa ditaburkan. Kendi dan botol kaca penuh bunga. Seketika kesuraman di pemakaman sirna. Manusia berkumpul dan berdoa.
Ketika para manusia pulang, hanya suara daun bergesekan tertiup angin yang terdengar. Alam kembali bergeming seolah mempersilakan para penghuni kuburan beristirahat dalam damai.
Seekor tupai muncul di antara pepohonan di pinggir area makam.
“Ayah, kenapa kuburan itu tidak dibersihkan?” tanya tupai itu pada ayahnya yang baru saja mendarat tepat di samping. Ditatapnya batu-batu hitam tajam yang tertutupi rumput dan dililit tanaman rambat. Kontras sekali dengan makam lain yang bersih seolah penghuninya baru dikubur kemarin.
“Mungkin beliau tidak memiliki keturunan yang mengingatnya,” jawab sang ayah.
“Apakah manusia itu pendosa semasa hidup?” tanya tupai kecil itu lagi sambil menggosok hidungnya yang gatal.
“Kenapa kamu berpikir begitu, Nak?”
“Sebab kuburan lain dipenuhi bunga dan basah,” jawab si tupai. Sedikit kasihan memandang kuburan di tengah-tengah area pekuburan itu.
Sang ayah tupai tersenyum. Dia melompat turun mendekati kuburan rimbun itu. Anaknya mengikuti.
“Lihat, Nak. Bagaimana menurutmu?”
Mata si tupai berkedip. Di antara hijaunya rumput dan tanaman rambat, tumbuh bermekaran bunga kuning cerah dan ungu berbentuk terompet. Bertebaran di antara daun hijau yang teduh. Beberapa kupu-kupu terbang dan hinggap di bunga-bunga kecil itu.
“Ini makam terindah di sini, Ayah.”
Sang ayah tupai tersenyum. “Alam tidak akan pernah melupakan kebaikanmu, Nak. Tidak seperti manusia.”