Flash Fiction
Disukai
0
Dilihat
22
Jadi, Ternyata...
Romantis

“Nih!” Seno menyodorkan sebuah boneka sapi yang didapatkan dari mesin capit. “Gimana, Jan?”

Gadis berambut pendek itu mengerutkan kening. Kemudian ia tertawa. “Lucu, ya?” Jani mengelus boneka sapi pelan. Ia memandangnya kagum. 

“Gue mah emang lucu dari dulu,” celetuk Seno sambil nyengir. 

Jani melirik sebal. Cowok yang rajin menemaninya kemana-mana itu masih cengengesan. 

“Eh, laper nih… makan, yuk!” Seno menggaet lengan Jani dan menariknya menjauh dari mesin capit. “Mau makan apa?”

“Es teler!” sahut Jani menunjuk sebuah kedai di ujung koridor mal.

“Oke!”

Baru beberapa kali melangkah, dari lorong kiri, Jani melihat seseorang. Tidak salah lagi. Itu adalah Siti, anak tercantik satu fakultas. Primadona kampus sekaligus sahabat Jani. 

Jani mengerem langkah. Ditariknya Seno berlawanan arah. 

“Eh… es telernya di sana!” seru Seno. 

Tanpa mengurangi kecepatan berjalan, Jani tetap menyeret Seno. “Gue baru inget ada diskon di toko buku. Kalau kelewat, rugi!” ujar Jani. 

Seno akhirnya mengekor Jani menuju toko buku di lantai empat. Namun, tidak ada tanda-tanda diskon seperti yang Jani katakan. Seno mengerutkan kening hendak protes tetapi mendadak bisu. 

Diam-diam Seno pura-pura memilih-milih buku. Padahal ia hanya mengobservasi wajah Jani. 

“Buku apa? Filsafat? Kayaknya di situ, deh….”

Telinga Jani berdenging. Ia yang hanyut dalam buku terlempar menuju dunia nyata. Jani buru-buru meletakkan buku dan menarik Seno keluar dari toko. Sambil celingak-celinguk, Jani terus berlari. 

“Jan… kenapa sih?” tanya Seno dengan napas tersengal. 

“E-eee… anu… kita pulang aja, yuk, Sen. Gue kelupaan sesuatu di rumah,” kata Jani. Tidak mungkin jika ia harus jujur kalau mereka berlari menghindari Siti. 

Beberapa bulan belakangan, Jani menjaga jarak dari Siti. Seorang kakak tingkat yang Jani dekati malah menembak Siti setelah tahu kalau Jani dan Siti bersahabat. 

Itu bukan kasus pertama. 

Sudah seringkali. Ketika Jani merasa dekat dengan seorang cowok dan cowok itu kemudian berkenalan dengan Siti, maka dalam satu atau dua bulan cowok itu akan mendekati Siti bahkan menembaknya. 

Awalnya, Jani merasa itu adalah hal wajar. Siti sangat cantik. Sementara Jani biasa saja. Tapi lama-lama Jani muak. Ia merasa tidak berharga di sisi Siti. Meski Siti adalah sahabat yang baik, Jani merasa hubungan itu tidak sehat baginya. Bagi mentalnya yang semakin insecure

Karena itu Jani menyibukkan diri dengan mengikuti organisasi Mapala. Hal yang tidak akan bisa Siti sentuh. Karena Siti manja dan tidak akan tahan berkotor-kotor dan bercapek-capek. 

Namun, melalui organisasi itu Jani bisa bertemu dengan Seno. Mahasiswa ilmu komunikasi yang ternyata asik diajak nongkrong. Mereka akhirnya berteman dan sering jalan bareng. 

Hati Jani diam-diam selalu was-was. Takut kalau suatu saat Seno akan pergi darinya untuk mendekati Siti. Makanya Jani berusaha setengah mati untuk menghindari Siti.

Siti juga sebenarnya—setelah Jani pikir-pikir pasca menjauhi Siti—agak mencurigakan. Siti cantik dan populer. Cowok-cowok di kampus dan luar kampus berbondong-bondong mengharapkannya. Tapi cewek itu masih jomblo sampai sekarang. Siti selalu menolak cowok yang menembaknya—termasuk yang tadinya dekat dengan Jani. 

Jani sekali waktu pernah bangun di sepertiga malam hanya untuk memohon pada Tuhan agar Siti secepatnya punya pacar. Agar Jani tidak perlu cemas setiap kali dekat dengan seorang cowok. Tapi doanya tak kunjung dikabulkan. Padahal setahu Jani, Siti bukan termasuk golongan yang menganggap married is scary, bukan juga golongan ukhti yang mengharamkan pacaran. 

Pernah juga Jani bertanya langsung kenapa Siti belum punya pacar.

“Belum nemu yang cocok,” jawab Siti kala itu. Membuat jantung Jani kembang-kempis karena dia sedang dekat dengan Pio—manajer baru minimarket di dekat rumah Jani. 

Apa yang Jani khawatirkan akhirnya terjadi. Pio mulai menghindari Jani setelah mengetahui keberadaan Siti. Dan dua bulan kemudian Pio menembak Siti—Siti sendiri yang cerita. 

Bahkan sekarang, ketika Jani sudah berhasil menjauh dari Siti, ketakutan itu masih saja mencolek hatinya. Membuat Jani tidak bisa tenang. 

“Jan… gimana?” tanya Seno yang membuyarkan semua pikiran Jani. 

“Apa?” Jani balik bertanya. 

Seno tersenyum kecil. Kemudian tangannya meraih tisu dan mengelap sudut bibir Jani yang penuh saos. 

Jani seketika membeku tapi dadanya memuai dan berdentum. Apa ini pertanda hubungan mereka makin dekat? 

“Lo kalo makan bakso gragas, ya?” tanya Seno. 

“Huh?” Jani bengong sebentar. Tidak menyadari kalau pipinya memerah. Tapi kemudian mata Jani membulat melihat kedatangan dua orang gadis yang merebut perhatian semua orang di kedai bakso.

Itu Siti! 

Sialnya Siti langsung menyadari keberadaan Jani. Gadis cantik itu melangkah lurus menuju meja Jani dan Seno. 

Jani mulai gugup, seolah ketahuan selingkuh. Tapi Jani tidak mau kehilangan lagi kali ini. Tidak lagi. Jani mengumpulkan kekuatan untuk menghadapi keadaan yang bisa membuat hubungannya dengan Seno berakhir tanpa pernah dimulai. Jani sudah membuka mulut tapi—

“Jan… jadi lo menghindari gue karena cowok ini?” kata Siti sedikit menaikkan alis.

“Eh—bukan gitu. Gue….” Jani tidak bisa berkata-kata untuk menjelaskan diri.

“Udahlah… sekarang gue udah ada Andin. Kita udah jadian dan jangan harap lo bisa sama gue lagi!” Siti mengibaskan rambutnya yang hitam tergerai sambil melengos menuju meja pojok.

Jani cuma terdiam menatap sahabatnya mengamit gadis bernama Andin dengan mesra. Sedikit gemetar, Jani meneguk sisa es teh di gelasnya sampai tuntas. Kemudian matanya bertemu mata Seno yang keheranan.

“Siapa tadi?” tanya Seno menanti dengan sabar jawaban Jani.

“Dia temen gue,” jawab Jani sekenanya. 

“Kayaknya hubungan lo sama dia lebih dari temen, tuh!” ujar Seno sambil melirik Siti yang sedang menggenggam tangan Andin.

Jani sudah membuka mulut tetapi tidak ada kata yang kunjung keluar. Ditelannya ludah yang terasa getir.

“Gue pikir kita dulu emang sahabat,” kata Jani. “Tapi…. gue ga nyangka kalau Siti nganggap lebih.”

Jani memberanikan diri untuk menatap wajah Seno yang ternyata sedang memandangnya dengan curiga.Kedua tangan Seno bersilang di dada.

“Gue straight!!!” seru Jani dengan bola mata membulat. Ia masih sangat terkejut dengan apa yang Siti katakan. Pantas saja Siti belum punya pacar. Dia menganggap Jani sebagai pasangan. Bulu kuduk Jani berdiri.

Seno tertawa kecil. “Oke… jadi, kalo emang straight, berarti lo mau, kan, sama gue?”

“Hah?” Otak Jani membeku. Lagi. 

“Gue suka sama lo, Jan,” kata Seno menatap mata Jani lurus.

Rasanya udara di kedai bakso itu naik drastis. Dada Jani berdebar-debar. Wajahnya membara. Tiba-tiba saja perut Jani dipenuhi oleh kupu-kupu yang beterbangan.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Romantis
Rekomendasi