Dari sekian banyak hal yang tak bisa aku kontrol, kenapa tidak ada yang mendukungku?
Aku sudah muak gagal bertemu Ole. Sudah delapan kali kami gagal bertemu karena hal-hal di luar dugaan.
Setiap kali kami janjian, ada hujan badai, kecelakaan lalu lintas, lembur dadakan, keluarga masuk RS, kebakaran dan hal besar lain yang terjadi pada waktu yang tak tepat.
Aku hampir berhenti berharap. Mungkin kami tidak berjodoh. Mungkin kalau kami bertemu, akan ada hal mengerikan yang akan menimpa kami. Mungkin Ole akan berhenti menghubungiku setelah tahu seperti apa rupaku. Mungkin aslinya Ole adalah bapak-bapak iseng berkumis keriting dengan perut buncit. Mungkin Ole adalah saudaraku lain ibu?
Oke… yang terakhir itu karena aku terpengaruh cerita yang kubaca seminggu lalu.
Tapi serius, aku mulai menerima kalau kami hanya akan jadi teman curhat daring saja. Hanya teman ngobrol dan bertukar pikiran kala malam hari sepi.
Sampai tiba-tiba saja pagi ini Ole mengajakku bertemu di sebuah kafe dekat kantor. Tidak biasanya Ole mengirim pesan pagi-pagi. Kami selalu berkomunikasi saat matahari telah terbenam. Atau setidaknya setelah jam kerja selesai.
Aku mematut diri di cermin kecil yang kusandarkan di monitor. Memastikan kalau alas bedak tidak pecah dan perona bibir masih melekat.
“Mau kemana Ar? Rapi banget.”
Dari sekian banyak orang di dunia, suara itu adalah suara terakhir yang ingin kudengar.
“Mau kencan, ya?” Dia melihatku dari ujung rambut hingga kaki.
“Diem lo!” kataku ketus. Kulirik jam di sudut kanan bawah monitor. Lima menit lagi jam kerja usai. Aku akan pergi untuk bertemu Ole. Memikirkan hal itu saja membuatku senyum-senyum sendiri.
“Oh… beneran kencan,” kata Marcello. Rekan kerjaku yang satu itu memang agak menyebalkan. Dari 1-100, level nyebelinnya 88%.
Pernah satu hari Marcello membuatku terpaksa lembur di hari ketika aku janjian dengan Ole. Kemudian dia juga pernah pura-pura berbaik hati mengantar pulang dan membuatku terjebak macet dan kembali gagal menemui Ole.
Marcello adalah salah satu hal yang paling menentangku untuk bertemu Ole. Selain cuaca dan lalu lintas yang semrawut.
Kulirik Marcello. Waspada. Siapa tahu dia membuat kami lembur lagi sampai malam. Tapi kulihat lelaki berkacamata itu pergi begitu saja.
Kuembuskan napas lega. Kumatikan komputer dan melangkah ke kamar mandi. Aku kembali mematut diri. Kubuka kunciran dan menyisir rambut dengan jari. Akan kubiarkan pesona rambut ikal panjang ini tersebar. Kurapikan blazer dan membenarkan liontin kalung yang miring.
Hanya perlu berjalan kaki selama sepuluh menit untuk sampai di kafe Kopi Hitam. Sebuah kafe yang terdengar apa adanya di dekat perempatan.
Sepanjang perjalanan aku sangat berhati-hati. Hujan tidak akan bisa menghalangiku. Macet tidak bisa menghentikanku. Tidak ada telepon darurat karena ponsel sudah kubisukan.
Ini adalah hari itu. Hari aku akan bertemu Ole setelah delapan kali kegagalan yang mengecewakan.
Aku tiba di kafe dengan sedikit gugup. Tiba-tiba kepercayaan diriku yang sepanjang jalan menggebu itu perlahan susut. Kulangkahkan kaki menuju sebuah meja kosong di dekat jendela.
Sekilas kulihat Marcello di sudut. Tapi aku tidak yakin kalau itu dia. Lelaki itu tidak memaka kacamata. Dia memakai kaus putih. Rambutnya memiliki gaya, sedikit bervolume dan terlihat lebih fresh. Kalau itu bukan Marcello, aku tidak akan heran.
Tiba-tiba aku khawatir. Keberadaan Marcello adalah ancaman. Kugigit kuku untuk mengurangi rasa cemas.
Ponsel kukeluarkan. Beberapa pesan pemberitahuan dari salah satu sosmed. Dari Ole.
OleOleOLe: Nanti gue langsung ke kafe begitu pulang kerja.
OleOleOle: Dar… gue udah nyampe. Lo dimana?
Kuedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Ada beberapa lelaki yang terlihat sendiri. Seorang dengan kemeja dan celana chinos terlihat terlalu rapi untuk Ole yang memiliki sedikit pemikiran yang absurd. Ada lagi seorang berjenggot tebal dengan celana cingkrang. Jelas bukan Ole. Kemudian ada lelaki muda yang mengenakan hoodie putih yang tengah bermain dengan ponselnya. Mungkin Ole?
Darling57: Gue juga udah nyampe, Le. Gue pake baju baby blue.
Kukirim teks itu pada Ole yang langsung dibaca olehnya. Tidak lama sebuah balasan datang.
OleOLeOle: Kirim nomor lu, dong….
Tanpa ragu segera kukirim nomorku. Kulihat sekeliling, hanya lelaki ber-hoodie putih yang masih berkutat dengan ponselnya. Aku semakin yakin kalau itu adalah Ole.
Kemudian ponselku bergetar. Segera kuraih benda persegi panjang yang tergeletak di meja itu. Aku yakin pasti Ole menelepon. Tapi di layar itu tertulis Ello-Marcello. Kuletakkan lagi ponsel di meja.
Tinggal sedikit lagi aku bertemu Ole. Tidak akan kubiarkan apa pun menghentikanku. Kali ini harus berhasil karena jika tidak, aku akan membunuh harapan untuk bisa berjumpa dengan teman ngobrol daringku itu.
Ponsel kembali bergetar. Kutolak panggilan itu. Tapi benda itu kembali bergetar. Dengan kesal kutekan tombol mode pesawat.
Kulihat lagi lelaki dengan hoodie putih. Dia masih sendirian. Aku berdiri. Kukumpulkan tekad untuk menghampirinya. Tiba-tiba seseorang sudah berdiri di depanku. Menghalangi pandangan.
Marcello? Jelas itu dia, meski dengan tampilan kasual begitu dia kelihatan lebih ganteng. Kalau dari jarak segini, aku yakin kalau itu memang rekan kerjaku.
Kumiringkan tubuh untuk melihat si hoodie putih. Tapi dia sudah bersama seorang wanita berkacamata berambut pirang. Mereka terlihat tertawa dan bercanda.
Kecewa menghampiriku. Ingin sekali rasanya aku menangis. Tapi aku ingat kalau Marcello sedang berdiri di hadapanku. Mau apa sih dia?
“Hai, Darling….”
Kutatap wajah Marcello yang sedang menyeringai. Kemudian dia menjulurkan tangan sambil berkata, “Gue Ole.”
“Hah?”
Itu adalah kemungkinan terakhir yang tidak ingin kubuktikan. Mengetahui kalau orang yang paling mengerti dirimu adalah orang yang paling menyebalkan.
Ole tersenyum kemudian duduk di hadapanku. “Kalau tahu lo itu Darling, dari dulu gue ga bakal gagalin kencan kita berkali-kali,” katanya.
Aku duduk. Masih tidak percaya apa yang sebenarnya terjadi.
“Lo udah ga punya alasan buat nolak gue, kan?” Ole—bukan—maksudku Marcello menopang wajahnya dengan telapak tangan sambil menatapku lekat.
Sial!
Sekarang di mataku, Marcello terlihat sempurna.