Marice kaget ketika mendapati harga kolor serupa dengan yang dia pakai sehari-hari.
Pedagang itu berteriak, “Lima belasan! Lima belasan!”
Padahal dalam ingatan Marice, kolor yang terbikin dari sisa-sisa potongan bahan itu hanya gocengan.
Marice menyimpan keterkejutannya baik-baik di kepala.
Seorang ibu menyelanya, mengambil dua potong kolor bercorak bunga-bunga yang berlainan warna antara depan dan belakang.
Marice tak ingin kalah. Dia menarik sebuah corak batik elegan dari tumpukan kolor yang menggunung. Dibentangkannya kolor itu. Rupanya ada sedikit kesalahan cetak di bagian bawah. Dimana harusnya ada warna hitam membingkai motif batik parang, ternyata hilang. Terlalu memperlihatkan ‘kesalahan’.
Marice melemparnya dan mengambil sebuah kolor krem yang cantik. Polos dan elegan. Sayang, di bagian dekat pantat ada tulisan bercat kuning mencolok.
RB-8051 00857
Tulisan yang Marice tak mengerti artinya tapi dia tahu akan abadi menempel di kolor itu. Sebab Marice punya yang bertulisan seperti itu di rumah.
Seluruh kolor itu memang cacat. Tapi uang Marice hanya tersisa tiga puluh ribu. Dia perlu dua kolor untuknya dan suaminya. Jika Marice membeli kolor normal, dia hanya akan mendapatkan satu.
Marice akhirnya memilih kolor hitam dengan noda cat putih dan satu lagi motif floral biru dengan tumpahan cat hitam blobor.
Sepanjang perjalanan pulang, Marice terus memelihara kedongkolannya.
Bagaimana mungkin harga kolor cacat bisa naik tiga kali lipat dalam lima tahun sementara gaji suaminya hanya naik seratus ribu per tahun— tidak sampai sepuluh persen.
Bibir Marice terus mengerucut karena batal membeli bakso yang dipikirnya masih bisa terbeli dengan sisa uang membeli kolor. Dia hanya mampu menghisap aroma kuah bakso banyak-banyak ketika melewati kedai bakso terenak di kampungnya.