Hari Tua Sang Raja

“Sudah empat abad sejak ayahku memberikan wilayah ini kepadaku,” batinku, “tapi rasanya baru kemarin ayah mengajariku cara berburu zebra dan manusia, serta cara mengalahkan Raja Buaya. Aku tinggal tarik napas, mengaum sekeras-kerasnya, dan Raja Buaya penguasa Nil Selatan langsung menarik mundur pasukannya supaya aku bisa bebas menyeberang.”

Kuputuskan untuk memperluas wilayahku lewat perjanjian dengan Raja Kuda Nil dan Raja Harimau. Ayahku bermimpi bisa menaklukkan wilayah Harimau yang penuh dengan hewan buruan. Namun tidak seperti Raja Kuda Nil, Raja Harimau menolak untuk menandatangani perjanjian yang tidak menguntungkan buatnya. Aku tidak sudi menjadi mata rantai takhta yang lemah. Yang sudah ya sudah, dan sekarang wilayahnya sudah jadi milikku. Lewat sebuah pertarungan sengit.

Pertarungan terjadi dua tahun setelah Sulaiman yang Agung mangkat. Kukalahkan Raja Harimau yang tak berkutik tanpa bantuan dari Sulaiman. Dengan kekuatanku serta dukungan dari Raja Buaya dan Kuda Nil, aku tidak terkalahkan. Menantangku adalah maut buat Raja Harimau yang bodoh. Aku ingat menghabisi para istri dan anaknya supaya tidak ada yang menuntut balas. Aku tidak boleh membiarkan ancaman semacam itu menghantui.

“Kugigit leher Raja Harimau dan kuremukkan tengkoraknya. Kuperintahkan Raja Buaya untuk memenggal kepalanya menggunakan gigi berliannya. Sungguh sebuah kemenangan besar. Manis sekali rasa-nya darah. Kuakui aku tidak takut pada apapun, tidak ada yang mesti kutakuti. Aku mengendalikan seluruh wilayah sabana. Raja Ular dan Raja Manusia hormat padaku. Akulah Raja Dunia. Tapi…ada yang mengganggu pikiranku belakangan ini. Tiap malam aku susah tidur. Aku merasa usiaku semakin tipis. Ayahku berusia 5 abad sebelum mangkat. Apakah aku bisa hidup selama dia? 60 tahun yang lalu, aku melihat dua istriku tidur dalam tidur abadi, pergi ke akherat. Aku merasa seperti…seperti sedang dikalahkan oleh usiaku sendiri. Oleh Waktu. Memang teramat kuat ia sang Waktu.”

Kuteringat pohon Beringin bijaksana yang tumbuh di mata air tempatku membasuh taring-taringku yang berlumuran darah setelah kuhabisi Raja Harimau. Kuteringat dunia di masa lalu, dunia yang amat berbeda dengan sekarang. Dunia yang hanya ada sang Raja dan Pangeran Hutan—aku, berburu Kijang bersama. Oh alangkah masa-masa yang indah. Kini aku bahkan kesulitan mendaki bukit. Kesunyian padang rumput membuatku terngiang perkataan pohon itu:

“Waktu berlari sangat cepat. Singkirkan kebanggaan dari wajahmu, karena tiada kebanggaan dari membunuh yang bernyawa. Aku mendengar Tuhanku sedang berbisik kepadamu. Tapi surga amatlah jauh letaknya sehingga kamu baru bisa mendengarnya ratusan tahun mendatang. Takkan ada kebanggaan, bahkan secercah senyuman pun di wajahmu. Nanti, kau akan memohon sang Waktu untuk melambat, karena kau tak bisa menyusul cepat larinya.”

Tuhan membisikkan penyesalanku kini sejak dulu. Raja Umat Pagan telah menemukan Belati Kilimanjaro. Katanya, Tuhan bersalah telah menciptakan belati itu sehingga Ia ciptakan Pedang Seribu Gua untuk mengalahkannya. Hanya Raja sejati kaum Harimau yang tahu keberadaan pedang itu, karena Tuhan menganugerahkannya pada kaum Harimau. Tugas mereka adalah menumpas kejahatan yang ditimbulkan oleh Belati Kilimanjaro. Namun aku telah membunuh Raja mereka. Maka ini semua bukan salah Tuhan melainkan kesalahanku sendiri. Aku tersenyum, lalu seiring waktu aku menangis, mengingat dosa yang kusangkal, meratapi dari neraka pasukan anak-anakku yang tewas berhasil ditaklukkan kaum Pagan. Kebanggaanku kini bersisa tak lebih tinggi dari seekor cacing.

4 disukai 1.5K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction