Kumohon Kembalikan

“Sayang, kamu kenapa?” tanya Mirna pada Arsya yang muram.

“Rasanya aku enggak bahagia.”

“Lah, kenapa?”

“Entahlah. Aku cuma…enggak bahagia.”

“Kamu itu ibarat cowok paling keren sekampus yang nongol pakai sedan Bespoked. Dan kamu masih enggak bahagia?”

“Entahlah, Mir. Aku juga bingung menjelaskan supaya kamu ngerti.” Arsya ingin menjelaskan masalahnya pada Mirna, tapi bibirnya seolah dikunci. “Kamu tahulah kalau semua yang kamu sebut itu bukan kebahagiaan yang sebenarnya. Pokoknya aku enggak bahagia, titik.”

“Iya, bercanda kok! Aku ngerti. Tapi kan kamu punya aku, Mas…”

“Iya sih…tapi kenapa aku ngerasa bener-bener kosong dan kesepian?”

“Sudahlah Mas, itu semua cuma ada di dalam pikiran kamu. Kamu itu sudah punya segalanya! Kamu punya aku, kamu sudah tiga kali masuk Forbes, dan kamu punya dua orang anak yang manis-manis. Kita punya rumah bak istana! Apakah itu enggak cukup buatmu, Mas?”

“Ya, nggak ngerti, aku cuma ngerasa…ada yang hilang.”

“Memangnya apa yang hilang?” tanya Mirna.

“Entahlah. Aku gak tau.”

“Kamu enggak tau? Sadar Mas! Kamu punya hidup terbaik yang cuma bisa diimpikan manusia normal manapun! Bisa-bisanya kamu merasa kasihan pada diri kamu sendiri!?”

“Ya mungkin aku cuma benci hidupku sendiri.” Arsya melihat ke tumpukan dokumen tua di atas mejanya. Itu adalah tumpukan bakal novelnya yang tidak pernah terbit. Arsya ingat ayahnya pernah membuang semua tulisannya ke dalam tempat sampah. Saat menceritakan kejadian itu pada temannya, mereka cuma tertawa, “Kamu enggak bakal jadi penulis! Kamu kan enggak bisa nulis!” sementara teman lain berujar, “Alah! Udah lanjutin aja bisnis orangtua kamu. Duit mereka kan banyak. Habis itu, kamu bisa beli penerbitnya!” Ayah Arsya sangat marah karena Arsya seperti kehilangan harapan hidup setelah menerima surat penolakan dari penerbit.

Gumam Arsya lirih, “Kata mereka tulisanku hanya akan jadi sampah kalau tidak dikirim ke mereka untuk diterbitkan. Resmi sudah. Tulisanku memang sampah!” Ayahnya menggelegar, “Halah! Sudah cukup! Berikan semua tulisan kamu ke Papa! Kamu tidak boleh menulis lagi! Mulai sekarang, kamu harus berurusan dengan angka dan grafik!”

Kata Mirna, “Fine. Kamu benci hidup kamu. Terus bagaimana denganku? Dengan anak-anak kita?”

“Lucu, ya. Temenku bilang kalau bintang di langit itu indah karena gelapnya malam. Itu sih sama saja dengan mengatakan bahwa hidup itu indah karena hidup juga menyakitkan…”

“Bima Arsyanendra! Berani-beraninya kamu menghindari pertanyaan istri kamu!” Mirna gelisah.

“Aku yakin kamu bisa menjaga anak-anak kita. Jangan salah paham, aku sangat menyayangi mereka. Kerjapan pertama mata mereka adalah momen paling menakjubkan dalam hidupku. Dan hari aku bertemu denganmu, perama kali melihat wajahmu, adalah hari paling indah dalam hidupku. Tapi semua sudah selesai. Mungkin kamu bener, ini semua cuma ada di pikiranku. Tapi aku enggak bisa mengendalikannya. Aku. Benci. Hidupku!”

“Sayang, kamu enggak bisa mengubah segalanya. Kamu enggak bisa mengubah masa lalu…”

“Masihkah kamu enggak ngerti, Sayangku, kalau tidak akan ada masa depan buatku mulai sekarang!?”

“Demi Tuhan, Mas! Aku enggak kenal lagi denganmu!” Mirna jengkel dan masuk ke kamar. Dibantingnya pintu keras-keras hingga seluruh dokumen Arsya berhamburan ke segala penjuru ruangan. Ada berlembar-lembar novel gagal terbit, dan ada sepucuk surat dari Rumah Sakit bertuliskan, “Sdr Bima Arsyanendra, 35 tahun, Kanker Metastasis.”

5 disukai 3.1K dilihat
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Tidak ada komentar
Saran Flash Fiction