Dirimu Bagaikan Bulan

Matahari telah tenggelam, meninggalkan kegelapan yang sunyi dan sepi. Malam, itulah sebutannya setelah ditinggal oleh sang surya. Suasana Gelap dalam pergantian hari menuju hari baru. Kegelapan yang sangat lama bagiku, tidak ingin berlama-lama dalam situasi ini.

Jika siang hari ada matahari yang menyinari, malam akan ditemani oleh cahaya bulan yang temaram. Remang-remang cahaya bulan membuat dinginnya malam menjadi seperti hatiku yang gelap dan kelam. Detik demi detik, menit demi menit aku lalui, memperhitungkan waktu untuk menanti hari baru cahaya baru yang menyinari bumi ini

Gelap malam seperti cerminan diriku. Dingin, sepi, sunyi seolah hati ini seperti tidak memiliki arti hidup. Kehadiran dirimu dalam hidupku bagaikan bulan yang datang menyinari malam. Ya, dirimu adalah bulan yang menghiasi malamku. Cahaya temarammu begitu indah menemani gelapnya malamku, memudarkan kegelapanku dengan sayup-sayup sinarmu. Entah apa yang yang aku rasakan saat ini. Apakah aku harus merasa bahagia, bersyukur kepada tuhan telah karena telah mempertemukan kita.

Aku merasa ini seperti mimpi belaka, berharap ini semua tidak hilang jika diriku terbangun. Inilah yang mengganggu didalam benakku. Jika ini semua benar sebuah kenyataan, maka aku sangat ingin dirimu menjadi bulan yang selalu menyinari malamku

Sekarang aku mengagumimu yang telah menjadi bulan yang indah dalam hidupku. Senyummu bagai cahaya yang indah menembus kegelapan malamku. Tetaplah indah, tetaplah berada dilangit untuk menghiasi malamku. Janganlah engkau pergi dan meredup menjauh dari diriku meninggalkan sepi dan sunyiku dalam kedinginan gelap gulita ini.

1 disukai 1.9K dilihat
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Tidak ada komentar
Saran Flash Fiction