Sibuk

Sinar matahari sore memasuki jendela sebuah ruko. Alisa, gadis 17 tahun sedang sibuk-sibuknya dengan hidup. Kring…kring… handphonenya sudah berdering sejak pukul 13.00 tadi. Tanpa melihat nama kontak, ia menekan tombol accept. “Halo?” tanyanya sambil fokus ke laptop mengerjakan tugas Fisika.

“Toko roti Abundant ya?”

“Benar Bu,” jawab Alisa masih menatap layar laptop.

“Oh… ini Bu Helmi yang kemarin pesan buat ulang tahun. Sudah bisa diambilkah?”

Alisa melirik sekilas ke rak berisi tumpukan roti lalu menjawab “Bisa, bisa Bu.”

“Oke deh saya langsung ke sana ya!” Bu Helmi mematikan panggilan.

Alisa menghela napas, kepalanya menengadah ke atas, mulutnya terpelanga melihat jam dinding menunjukkan pukul 15.00. Saatnya mengambil laundry! Alisa segera beranjak dari kursi namun tersentak mengingat Bu Helmi akan datang. Di tengah kebingungannya, Alisa memutuskan untuk mengambil laundry dulu. Cuman sebentar kok, pikirnya. Untung laundrynya berjarak 5 ruko dari rukonya. Kring…kring… Alisa mengangkat dengan jengkel. Teman sekelasnya mengingatkan ada tugas kelompok B.indo tenggat jam 6 sore.

Sehabis menerima telpon, Alisa segera mengambil 2 bungkus plastik berisi baju. Bruk… Alisa melepaskan kedua plastik itu ke lantai dan merengangkan otot-otot kakinya di kursi. Baru saja ingin bersantai…. ting tong. “Hei Alisa.” Bu Helmi sudah di depan pintu ruko. Alisa memutar bola matanya dan mengusap-ngusap rambutnya yang tak gatal. “Masuk, Bu.” Alisa tersenyum paksa. Klik klik... sebuah notif WA masuk. Alisa tidak menghiraukan. “Jadi 800.000 ribu.” Bu Helmi membayar. Akhirnya selesai juga 2 masalah. Eits masih ada tugas B.indo. Alisa mengebut tugas Fisikanya kemudian lanjut ke B.indo.

Matahari telah tenggelam. Begitupun Alisa tenggelam dalam kelelahannya. Ia menyeduh secangkir kopi lalu menyeruputnya. Teringat akan notif WA tadi, ia mengecek.

Hai Lis, apa kabar? Kamu sibuk gak?

“Hahaha si Reta pakai nanya lagi aku sibuk atau enggak. Dasar Reta udah sahabatkan 10 tahun juga masih aje kayak gitu.”

Alisa mengetik dengan jari-jari lentiknya. Hai Ret… sibuk banget nichh.

Klik klik. Oh ya udah kalau gitu besok aja.

Alisa menjauhkan ponselnya lalu melihat to do list. Masih ada ngecek novelnya keterima atau enggak, kasih makan kucing, ngecek supplier roti, dan belajar buat ulangan besok. Hufff rasanya ingin nyerah saja.

Kini sudah pukul 21.00. Alisa mengucek matanya karena ngantuk. Klik klik, sebuah notif masuk lagi. Lis, semangat yah. You can pass this! Reta memang sahabat yang tepat banget buat Alisa yang super sibuk.

3 hari kemudian, Reta mengirim pesan lagi ke Alisa. Mengalami kemajuan Alisa merespon sedikit lebih banyak dari sebelumnya. Ia juga cerita ke Reta kalau novelnya keterima editor. Hari-hari terus berlanjut hingga suatu ketika...

Kring… kring

Alisa menerima telpon dari nomor Reta tetapi bukan Reta yang bicara, melainkan ibunya. Nadanya tersedu-sedu. Ponsel langsung terlepas dari tangan Alisa mendengar sahabat karibnya sudah tiada. Betapa bodohnya Alisa tak menanyakan kabar Reta waktu itu. Justru ditengah sakit, Reta malah menyemangatinya. Dan ternyata Reta ingin memberitahu bahwa dia terkena covid 19. Namun Alisa yang terlalu sibuk tidak memberi kesempatan Reta untuk menceritakan. Sekarang, Alisa hanya bisa menangis di sudut ruko dan meratapi kesibukannya.

1 disukai 457 dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction