Mendua

Sudah empat puluh hari Heni meninggalkan Budi sendiri. Setidaknya itu yang diketahui tetangga. Budi menjadi pemurung dan tidak terlalu banyak bicara lagi.

“Memangnya Heni nggak masak?” tanya warga sewaktu Budi makan nasi di warung tadi pagi.

"Heni tidak ada."

"Memangnya dia pergi ke mana?"

“Entahlah, sepertinya dia pergi dengan lelaki lain. Mungkin dia tidak tahan dengan kemelaratanku.”

"Apa dia pergi dengan Julian, mantan pacarnya itu? Kulihat mereka masih cukup akrab."

"Aku tidak berani menuduh," kata Budi dengan wajah tertunduk lesu.

“Lupakan Heni dan menikah saja dengan Siska, Bud, kelihatannya dia naksir kamu," kata seorang tetangga.

"Ya, benar itu. Perempuan di dunia ini yak hanya satu," ucap tetangga yang lain.

Budi hanya menyeringai.

Malam itu Budi membuka kamarnya, tampak jasad Heni yang mengering. Wanita itu telah dijadikannya tumbal pesugihan. Empat puluh hari Heni menjadi persembahan untuk dedemit junjungan Budi. 

“Siska, cinta kita akan menyatu, dan kita sekarang kaya raya!” seru Budi sambil menghambur-hamburkan emas di sisi jasad Heni.

677 dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction