Kutukan kastil tua

Di dalam hutan desa Puraga, berdiri sebuah kastil tua yang megah. Semua warga desa tidak ada yang tahu, siapa pemilik kastel, yang konon katanya berhantu dan terkutuk. Rimbunnya pohon pinus dan banyaknya akar yang menjalar, menambah kesan aura mistis di sekitar kastel tersebut. Warga desa yang melewati kastel sering mendengar suara jeritan dan tangis dari dalam kastel.

Mereka selalu mengira kalau suara itu berasal dari hantu atau demit penghuni kastel. Tapi sebenarnya suara itu berasal dari seorang pria yang sedang menjalani hukuman akibat sifat dengki dan keserakahannya.

Pria itu adalah Aku. Yah, aku adalah penghuni abadi dari kastel berhantu dan terkutuk itu. Aku tidak hidup dan tidak juga mati, tidak makan dan tidak pula minum. Tubuh ini hanya tergantung bagai seonggok daging mentah.

Masih teringat jelas di ingatanku bagaimana indah dan riuhnya tempat ini, yang selalu di isi dengan gelak tawa dan cinta. Tapi semua berubah saat aku mengingikan sesuatu yang bukan milikku. Aku seorang prajurit biasa yang jatuh cinta pada seorang putri raja. Namun karena nasib yang baik, aku pun dapat menikah dengan wanita pujaanku itu.

Seharusnya aku cukup berbahagia dengan keluarga kecil kami, namun setan berbisik ke dalam hatiku, mereka selalu berbisik dari hari ke hari, setiap jam, bahkan setiap diriku menghirup udara. Hingga pada akhirnya aku terpengaruh, dan aku rela mengorbankan orang yang aku cintai, mati begitu saja di depan mata ini.

kastel ini pun dalam sekejap berubah menjadi lautan darah manusia. Dan keinginan jahatku akhirnya berhasil aku dapatkan. Dengan tidak tau malu, aku duduk di singgahsana dan memakai jubah raja. Aku tertawa besar seperti orang kesetanan.

Namun setelah itu, jauh di dalam hati yang terdalam, aku menjerit menangis. kini kesenangan itu hanya ada kehampaan. Lalu bayang-bayang dosa dan kerinduan akan dirinya datang menghampiri diriku.

Tidak sampai di situ, tuhan pun marah dan menghukumku dengan menancapkan sebuah tombak yang kokoh ke dadaku. Membuatku merasakan sekarat selama bertahun-tahun, tanpa bisa untuk di lepas. Setiap detik aku berharap untuk mati, namun kematian itu tak kunjung datang kepadaku. Seolah Tuhan enggan untuk menerima jiwaku yang terlalu kotor ini. Bahkan rayap pun tak Sudi mendekati tubuhku.

Sampai suatu malam yang gelap, petir menyalang dan menyambar pepohonan yang ada di sekitar kastil. kastil terkutuk ini pun runtuh menenggelamkan tubuhku bersama puing-puing bangunan. Tidak ada rasa takut mau pun sedih, yang ada hanya rasa bahagia.

Hari pembebasanku akhirnya tiba, jiwaku lepas dari jasad jahat itu, dan aku dapat meninggalkan kastel tua itu untuk selamanya. Akhirnya Tuhan mau berbaik hati mengambil jiwa yang paling hina ini.

5 disukai 3.5K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction