Coklat di hari Valentine

Kaki kecil ini melangkah menyusuri lorong sekolah baru. Hatiku sedikit takut akan seperti apa perlakuan teman baruku nanti. Lalu seorang anak lelaki menabrak diriku hingga terjatuh. Rasanya aku ingin menangis saat itu juga, tapi dia segera bangkit, dan menadahkan tangan untuk membantu.

Untuk sesaat aku terpana padanya, perasaan aneh dan asing mulai menjalar dihatiku. Ketakutan pun hilang dalam seketika. Berikutnya hari yang ku lalui di isi dengan hal yang menyenangkan tentangnya.

Suatu hari sahabatku Mira memberikan usul, agar aku mengungkapkan perasaan yang tersimpan cukup lama ini kepada dia, melalui coklat di hari Valentine.

Hingga tiba waktu yang di tunggu pun datang, aku membeli sekotak coklat berbentuk hati, dengan menyelipkan sepucuk surat pernyataan cinta.

Dengan rasa gugup dan cemas aku menunggu di lapangan, sesekali aku melirik dia dari kejauhan, yang sedang asik bermain basket bersama teman-temannya.

Saat ku lihat dia telah selesai bermain, aku segera berlari menghampirinya. Nafasku tersenggal-senggal saat tiba di hadapannya. Dia menatap khawatir kepadaku, dan aku sangat suka dengan perhatiannya itu.

Tanpa basa-basi lagi, aku mengutarakan tujuan dan keinginanku, sambil menyodorkan sekotak coklat padanya. Aku merasakan tubuh ini akan roboh sebentar lagi, karena gugup yang terlampau tinggi.

"Iya," seperti itulah jawabannya. Detik itu juga aku meloncat kegirangan, rasanya bahagia bukan main. Apalagi saat aku melihatnya membentangkan kedua tangan, seolah memanggilku untuk kepelukannya.

"Oh my God, kau kabulkan doa ku selama ini. terima kasih," ucapku dalam hati. Setelahnya aku berhamburan ke dalam pelukan hangat itu, namun siapa sangka kakiku lebih dulu tersandung sebelum aku sampai ke pelukannya. Dan aku terjatuh, merasakan sakit di wajahku.

Kemudian seseorang menepuk pundakku, sambil berkata; "Nak, ngapain tidur di sini? Ayo pulang hari sudah mau gelap!" Ucapnya yang ternyata penjaga sekolah kami.

Untuk sesaat aku bingung dengan kejadian yang baru saja aku alami. Tapi melihat kotak coklat yang masih utuh, membuatku sadar kalo semua hal manis barusan hanya sebuah mimpi.

Lalu hujan turun, membuatku berlari kecil ke arah parkiran untuk berteduh. Tapi aku malah melihat Mira dan dia yang sedang bergandengan tangan di bawah rintik hujan. Mereka saling bersenda gurau dengan dia yang setia memegang payung untuk Mira.

Seketika adernalinku memacu lebih kencang dari biasanya, darah ini panas seperti gumpalan magma yang siap meledak. Dan pada akhirnya aku tidak bisa menahan gejolak emosi yang ada saat ini.

"Aaaaa!!" Teriakku sambil berlari dan terus berlari menembus hujan. Tidak peduli jika ada yang mengatakan aku gila sekalipun. Aku marah pada diriku sendiri, bisa-bisanya aku meminta saran kepada Mira, wanita penghianat itu.

Sejak hari itu, aku tidak pernah lagi kembali. Aku pun menjadi benci sesuatu yang berhubungan dengan coklat. Apalagi di saat semua orang merayakan valentine, aku malah mengutuknya, dan berharap valantine menghilang untuk selamanya. Karena disaat semua orang menadapatkan cinta mereka, aku malah kehilangan cinta.

3 disukai 1.7K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction