TAKJIL

Thea sedang dilanda kebingungan lantaran baru saja dirumahkan oleh perusahaan tempatnya bekerja.

Memang pesangon yang ia dapatkan lumayan, tapi yang namanya uang, lambat laun pasti akan habis, jadilah Thea mencoba mencari cara, bagaimana memutar pesangon yang ia terima.

Karena bertepatan dengan bulan Ramadhan, jadilah Thea mencoba peruntungan dengan berjualan takjil.

Bukan tanpa rintangan sebenarnya, bagi Thea, bisnis kuliner merupakan sesuatu hal yang baru, jadi tentu tidak mudah bagi Thea untuk mengawali semuanya.Terlebih Thea sama sekali tidak memiliki basic soal kuliner, ibarat berjalan dalam kegelapan.

Meskipun media sosial cukup membantu, tetap saja, ada saja rintangan yang Thea alami, termasuk ketika akan mengantar takjil di sebuah warung, sepeda yang Thea gunakan, tiba-tiba disenggol oleh sebuah sepeda motor, alhasil semua takjil yang seharusnya Thea titipkan ke warung, tumpah semua.

Thea tidak tahu harus bagaimana, kalau marah-marah, Puasanya bisa batal, tapi menahan amarah bukan sebuah perkara mudah.

"Maaf, saya yang salah, dihitung saja semua takjil yang jatuh, nanti saya bayar, maaf sekali lagi, saya soalnya sedang buru-buru." Ucap seorang pemuda yang kini tepat berada di hadapan Thea.

"Bayar semampu Abang saja, nggak apa-apa." Ujar Thea sembari memunguti bungkusan takjil yang kini berserakan, dan bermaksud untuk dibuang ke tempat sampah.

Melihat Thea memungut bungkusan takjil, pemuda tersebut juga ikut membantu, dan tentu saja hal ini membuat Thea salah tingkah.

Thea memperhatikan pakaian pemuda yang ada dihadapannya, seperti setelan untuk ke undangan. Mana ada, orang bikin hajatan di bulan puasa, batin Thea.

"Kalau Abang, buru-buru, nggak apa-apa, biar saya saja, yang membereskan sisanya." Ucap Thea.

"Nggak apa-apa, sudah terlambat juga, dan seharusnya tidak boleh di cegah, jahat kalau saya tetap egois." Ujar pemuda tersebut, yang tentu saja membuat Thea kebingungan, dengan apa maksud dari perkataan pemuda tersebut, dan ketika Thea memperhatikan tangan pemuda tersebut, nampak ada luka lecet, seperti bekas jatuh, dan benar saja, di sepeda motor pemuda tersebut, nampak lebih jelas lagi, kalau sebenarnya pemuda tersebut, baru saja terlibat kecelakaan, sebelum dia akhirnya menyenggol sepeda Thea.

Thea ingin sekali bertanya apa sebenarnya yang terjadi, tapi ragu, karena kenal saja tidak, dan pertemuan keduanya pun karena kebetulan.

"Ngomong-ngomong kamu antar takjil di warung yang mana?" Tanya pemuda tersebut, sembari menyodorkan beberapa lembar uang ratusan ribu.

"Kebanyakan ini." Sembari Thea mengembalikan satu lembar uang ke tangan pemuda tersebut.

"Itu, warung yang paling pojok." Ucap Thea.

Wajah pemuda tersebut jelas menurut Thea, tiba-tiba berubah, dari yang murung, terlihat sumringah.

"Itu warung milik ibu ku, antar saja setiap hari, selepas bulan puasa pun tidak apa-apa." Ujar pemuda tersebut sembari tersenyum ke arah Thea.

Benar saja, setelah kejadian yang terduga tersebut, Thea dan pemuda yang ternyata bernama Bahari, akhirnya menjadi dekat, dari mulai hanya teman ngobrol, sampai akhirnya, Bahari berniat untuk melamar Thea, meskipun Bahari tahu, kalau Thea sudah pernah menikah, dan bahkan sudah memiliki anak, meskipun saat ini anak Thea, berada dalam pengasuhan mantan suaminya.

"Mungkin karena kita sama-sama pernah terluka, jadi dengan perantara takjil, Allah mempertemukan kita, dan kemudian menyembuhkan luka itu secara perlahan-lahan." Ujar Bahari.

Mendengar ucapan Bahari, Thea hanya tersenyum, sembari menyandarkan kepalanya di bahu Bahari.

5 disukai 899 dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction