Keluarga

Hema mau tidak mau, harus tinggal sementara dengan teman ibunya, dikarenakan ibunya mendadak ada tugaskan ke luar kota. Karena bagi ibu Hema, temannya tersebut sudah seperti keluarga baginya.

Meskipun Hema sudah cukup dewasa, tapi ibunya masih ragu membiarkan Hema tinggal sendirian, apalagi itu untuk jangka waktu yang lumayan lama, yaitu satu minggu.

Hema sejujurnya bosan berada di rumah teman ibunya tersebut, lantaran Hema, sering ditinggal sendirian, sementara teman ibunya tersebut bekerja.

Walaupun teman ibunya tersebut memiliki seorang anak perempuan yang juga sebaya dengan dirinya, tapi tetap saja bagi Hema, suasana rumah yang saat ini ia tempati, benar-benar tidak nyaman, dan itu dikarenakan, anak teman ibunya tersebut, terlalu pendiam, bahkan dengan ibunya sendiri saja, bisa dikatakan sama sekali tidak ada interaksi.

Haru, itu nama anak perempuan tersebut, saat Hema tanpa sengaja mendengar obrolan ibunya dan temannya.

"Keluarga yang aneh," gumam Hema sembari melihat-lihat foto-foto keluarga yang terpajang di dinding, dan juga dinding pintu kamar Hema yang terkunci.

"Kenapa tidak ada foto Haru, dari semua foto yang di pajang?" Pikir Hema bingung.

Tidak hanya soal foto saja, Haru hanya akan keluar kamar, jika ibunya sudah pergi dan anehnya dia hanya berjalan mengitari rumah, dan memasuki semua ruangan yang ada, seakan-akan mencari sesuatu dan kemungkinan juga orang.

Sebenarnya Hema ingin sekali bertanya soal Haru, tapi apa daya, teman ibunya tersebut, pergi pagi pulang malam, dan kesempatan untuk berbicara sangat terbatas, dan Hema juga sebenarnya tidak ingin terlalu ikut campur dalam urusan keluarga orang, jadi Hema memilih mengabaikan semuanya.

Memasuki hari ke tiga, perasaan Hema semakin tidak nyaman, karena tingkah laku Haru semakin tidak jelas, berulang kali Hema bertanya tentang apa yang sebenarnya Haru cari, tapi tidak ada tanggapan, dan seakan sama sekali tidak mendengar apa yang Hema ucapkan.

Hema yang penasaran, akhirnya mengikuti kemana saja Haru pergi, termasuk semua ruangan yang ia masuki, dan hasilnya Hema shock berat, karena ternyata semua ruangan yang Haru masuki, semuanya terkunci rapat, lalu bagaimana caranya Haru bisa masuk ke dalam ruangan tersebut, batin Hema.

Sampai pada ruangan terakhir, yaitu gudang, berbekal senter ponselnya, Hema mengikuti Haru yang terlihat sedih saat memandang pintu gudang tersebut.

Hema mencoba bertanya kepada Haru, kenapa dia berhenti di depan pintu gudang, dan bagaimana caranya dia bisa masuk ke ruangan yang terkunci, apakah selama ini, Haru belajar sulap, dan karena tidak diizinkan oleh ibunya, makanya Haru mempraktekkan keahliannya saat ibunya pergi.

Tapi ternyata dugaan Hema salah, semua hal ganjil yang ia alami bukan karena Haru sedang belajar sulap, melainkan Haru sebenarnya sudah lama meninggal begitu juga dengan ayahnya, dan yang lebih mengagetkan Hema lagi, ternyata Haru memiliki seorang adik, meskipun statusnya adik tiri.

Ternyata selama ini ibu Haru berbohong soal ayah Haru yang kabur dengan uang tabungan mereka dan membawa serta anak tirinya, dan bahkan mengatakan kalau kondisi Haru baik-baik saja.

Akhirnya penyebab Haru keluar masuk ruangan, terjawab sudah, rupanya Haru mencari ayah dan adiknya, yang mayatnya sengaja ibunya sembunyikan di gudang, setelah terlebih dahulu di awetkan, sementara jenazah Haru, sang ibu biarkan di dalam kamar, dengan kondisi seperti orang sedang tertidur.

5 disukai 2 komentar 1.6K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
@alwindara : Terimakasih sudah mampir, saya newbie soal FF, terharu jadinya.
Kok serem ya. Jadi terharu
Saran Flash Fiction