Ruang Tunggu

Aksara bingung dengan apa yang baru saja terjadi padanyaĜŒ dia diminta seseorang yang tidak ia kenal untuk menunggu di ruang tunggu rumah sakit, dan orang tersebut mengatakan, jangan beranjak kemanapun, sampai dia datang.

Aksara paling benci menunggu, tapi entah kenapa kali ini, meskipun dia ingin beranjak dari tempat duduknya, tapi tubuhnya seakan tidak bisa bergerak, jadilah Aksara hanya duduk manis di ruang tunggu rumah sakit, yang lengang dan sepi.

Tapi suasana lengang dan sepi hanya sebentar, karena tiba-tiba suasana mendadak ramai dengan tangisan yang cukup histeris dan membuat Aksara bingung karenanya.

Ingin Aksara bertanya apa yang sebenarnya terjadi, tapi anehnya tidak ada satupun yang bisa ia ajak bicara, semuanya larut dengan perasaan masing-masing, dan kemudian pergi meninggalkan Aksara begitu saja, seolah-olah mereka tidak menganggap keberadaan Aksara.

"Ada apa dengan orang-orang ini, aku benar-benar merasa tidak dianggap." Ujar Aksara sembari menggoyang-goyangkan kakinya, sementara matanya mengitari sekeliling ruang tunggu.

Seseorang tiba-tiba menepuk pundak Aksara, dan ketika Aksara menoleh, ternyata seorang anak kecil.

"Di suruh nunggu juga ya Om?" Tanya anak kecil tersebut kepada Aksara.

"Ia, kamu kok sendirian saja, ini sudah malam loh, nanti orang tuamu khawatir." Ujar Aksara.

"Mereka sudah nggak khawatir lagi Om, tadi aku lihat, raut wajah mereka tenang, karena mereka sudah ikhlas."

"Ikhlas, Apa maksudnya?" Tanya Aksara pada anak kecil tersebut.

"Om lupa ya, bukannya tadi kita bertemu di jalan raya."

"Jalan raya?" Gumam Aksara dengan wajah yang masih dipenuhi kebingungan.

"Oh ia, mungkin yang membuat Om lupa, karena masih ada yang belum ikhlas dengan apa yang terjadi pada om."

"Ikhlas? Apa sih maksud dari perkataan mu?" Tanya Aksara yang masih diliputi kebingungan.

Tapi belum sempat anak kecil tersebut menjelaskan apa yang ia maksudkan, anak kecil tersebut justru dibawa pergi oleh orang yang meminta Aksara untuk menunggu di ruang tunggu rumah sakit.

"Hei...!!! Mau dibawa kemana anak itu?!" Tanya Aksara sembari berteriak, soalnya dia benar-benar tidak bisa meninggalkan tempat duduknya untuk menolong anak tersebut, yang terlihat raut wajahnya sendu sembari sesekali melambaikan tangan ke arah Aksara.

"Apa sebenarnya yang terjadi, kenapa aku tidak bisa mengingat apapun?" Ujar Aksara sembari memandang pintu ruang tunggu yang masih terbuka.

Saat memandang ke arah pintu ruang tunggu, tiba-tiba ingatan Aksara kembali, dan bukankah seharusnya dia datang ke pesta pernikahan adiknya malam ini, tapi kenapa dia justru berasa di ruang tunggu rumah sakit.

Aksara tersenyum ketika melihat adiknya yang baru saja datang ke rumah sakit, tapi anehnya dengan terburu-buru, bahkan sembari menangis sesenggukan, dan masih mengenakan gaun pengantin.

Sesuatu yang janggal menurut Aksara, karena ketika dia memanggil adiknya berulang kali, tidak ada tanggapan, seolah-olah Aksara sama sekali tidak terlihat oleh adiknya.

Aksara akhirnya sadar dengan situasi yang sedang ia alami, termasuk kata ikhlas yang dikatakan anak kecil yang belum lama berbicara padanya.

Saat menuju tempat resepsi pernikahan adiknya, Aksara menjadi korban kecelakaan beruntun, termasuk anak kecil yang tadi berbicara padanya.

Aksara memandang ke arah orang yang memintanya untuk tetap menunggu sampai ia kembali.

"Sebentar saja, izinkan aku melihat wajah adikku untuk yang terakhir kali." Aksara meminta waktu.

9 disukai 2.5K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction