Papa Pungut

Sepasang bocah kembar tidak identik tengah bergandengan tangan menyusuri jalan di sekitar taman kota. Dilihat dengan saksama, bocah laki-laki dan perempuan berusia 6 tahun itu tampak berbeda. Eko berkulit kecokelatan seperti daging sawo matang, sedangkan Eri putih bersih bak hamparan salju.

Bocah kembar tersebut keluar bukan untuk bermain dengan teman sebaya, tetapi untuk menjalankan sebuah misi rahasia, yaitu menemukan Papa baru untuk menjadi teman hidup Mama mereka.

Papa kandung Eri dan Eko sudah pulang ke rumah Tuhan tepat satu tahun yang lalu dan tidak pernah kembali. Entah apa sebabnya mereka tidak tahu. Mama bilang, Papa sudah bahagia dan terus mengawasi dari jauh. Kalau mereka menjadi anak nakal dan membuat Mama sedih, maka Papa akan mengirim Dementor untuk memberi mereka mimpi buruk.

"Kita cari Papa baru di mana?" tanya Eko.

"Enggak tau." Eri menggeleng pasrah. "Tapi kata Tante Binta kalau hari minggu begini banyak Om ganteng di sini," imbuhnya.

Eri dan Eko menatap seseorang yang sesuai dengan kriteria Papa idaman mereka. Mukanya tampan, berbadan tinggi dan memiliki senyum menawan.

Sebelum membawa pulang papa barunya, Eri harus mengajukan beberapa pertanyaan. Bibit, bebet, dan bobot harus dipastikan. Sebab, selain visual, Eri dan Eko ingin papa baru mereka memiliki banyak uang untuk membeli jajan dan punya mobil supaya bisa jalan-jalan.

"Nama Om siapa? Eri tanpa ragu mendekati sosok incaran.

"Candra." Om ganteng menjawab dengan kerutan pada keningnya..

"Om punya uang berapa?" timbrung Eko.

"Kenapa Om harus jawab?" Candra balik bertanya.

"Kami mau papa baru yang punya uang banyak dan mobil bagus buat jalan-jalan sama mama," jelas Eri polos.

Candra mengernyit. Ia memang sedang dikejar deadline untuk menikah sebelum akhir tahun. Mungkin memang seperti ini jalan Candra bertemu jodoh.

"Om punya banyak uang dan mobil bagus. Rumah Om juga besar. Ada kolam renangnya di belakang," pamer Candra bangga.

"Okesip. Om resmi kami pungut jadi Papa." Final Eri.

Eko manggut-manggut setuju.

Candra menerimanya dengan senyuman lebar. Jodoh siapa yang tahu?

Akhirnya Eko dan Eri berjalan beriringan mengajak Candra pulang ke rumah mereka yang jaraknya satu blok dari taman.

"Mama! Mama!" Eri dan Eko berteriak memanggil, begitu sampai di halaman rumah bercat biru langit.

Candra menunggu dengan jantung bertalu-talu.

"Mama! Kami pulang bawa Papa pungut!" teriak Eri dan Eko berbarengan.

Pintu dibuka dari dalam. Candra membelalakkan kedua mata. Sebab, perempuan yang berdiri di ambang pintu adalah mantan gebetannya waktu SMP kelas satu.

Lovaerina.

6 disukai 867 dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction