Lembur

Kamis sore pukul 5 lewat 55 menit, kedua mata Eko masih fokus menatap deretan kalimat yang terpampang pada layar monitor. Sepuluh jarinya dengan lincah menari di atas papan ketik.

"Mas Eko kerjaannya masih banyak, ya?" Seorang rekan menghampiri Eko. "Ada yang bisa aku bantuin?" imbuhnya menawarkan diri.

"Enggak perlu. Terima kasih. Ini tinggal sedikit lagi kok," tolak Eko.

"Kalau gitu, aku pulang dulu, Mas."

"Ya, silakan. Hati-hati di jalan."

Dari sebelas orang rekan Eko, sepertinya satu per satu mulai meninggalkan meja kerja masing-masing. Menyisakan Eko seorang diri ditemani detak jarum jam yang mengisi sunyi.

"Jangan pulang di atas jam enam kalau malam Jumat!"

Sial sekali, Eko tiba-tiba teringat pesan dari seorang senior yang sudah berhenti bekerja di sana.

"Biasanya mereka suka nongol di lantai atas."

Eko tidak perlu menegaskan bahwa maksud dari kata 'mereka' adalah makhluk-makhluk tak kasatmata yang menampakkan eksistensi setelah petang menggantikan siang.

Dengan waspada, Eko melirik penunjuk waktu pada sudut kanan bawah layar monitor.

'Dua menit lagi,' batin Eko.

Buru-buru Eko menyelesaikan pekerjaan, sambil berharap tidak akan ada yang mengganggunya. Namun, suara ringisan di belakang, membuat bulu kuduk Eko meremang.

Suaranya lirih, tetapi seperti sedang menahan perih sekali.

Napas Eko memberat, tidak berani menoleh untuk memastikan sosok si pembuat suara. Apalagi ruangan kerja tanpa sekat itu mendadak terasa lebih dingin dibandingkan sebelumnya.

Tanpa pikir panjang, Eko menyimpan hasil kerjanya dan mematikan komputer dengan segera. Begitu layar monitor menggelap, ada bayangan yang memantul dari sana. Sosok perempuan sedang duduk di meja belakang Eko. Rambutnya terurai panjang.

Eko beristighfar dalam hati, lalu bergegas pergi membawa tas kerjanya, tanpa berminat mencari tahu sosok itu.

"Mas Eko ... " Terdengar rintihan memanggil.

Jantung Eko berdegup dua kali lebih kencang.

"Tunggu ... " Rintihan itu justru membuat Eko semakin memacu langkahnya menuruni anak tangga menuju lantai bawah.

Eko hampir saja terjatuh. Beruntung masih bisa menyeimbangkan diri.

"Lho, Pak Eko? Ada apa? Kok lari-lari," tanya sekuriti.

"Anu ... anu ... di atas ... " Eko sesak napas, peluhnya mengalir deras.

Jawabannya tidak jelas, sekuriti langsung mengecek ke lantai atas setelah Eko ngibrit meninggalkan kantor.

Suara merintih terdengar. Sekuriti melangkah hati-hati. Dia mengintip dari ujung tangga dan mendapati sosok perempuan menelungkupkan wajah.

Sekuriti memberanikan diri mendekat. Sambil menelan ludah gugup, sekuriti memegang pundak sosok itu. Sok berani. 

"Astaghfirullah!" pekik sekuriti terkejut saat sosok perempuan itu mendongak, menampilkan wajahnya yang pucat pasi sambil meringis nyeri.

"Pak ... "

"Mbak Eri kok belum pulang?"

"Perut saya mendadak sakit. Tadi niatnya mau nebeng Mas Eko pulang, tapi malah ditinggal lari."

©Lovaerina

4 disukai 1 komentar 1K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
hahahaha. lucu banget akhirnya.
Saran Flash Fiction