Sajen

Seorang lelaki dengan perut buncit berjalan mengikuti langkah lelaki kurus, memasuki hutang yang katanya angker. Ingin sekali dia meminta berhenti untuk rehat sejenak. Namun, diawal sudah diwanti-wanti untuk tidak menyerah sebelum sampai tujuan.

Dengan napas tersengal, si perut buncit kepayahan membawa nyiru berisi dua sisir pisang raja, tiga buah lepat ketan, satu ayam panggang utuh beserta jeroannya, satu butir kelapa hijau, satu gelas kopi hitam, dan bunga setaman.

"Sebentar lagi sampai." Si kurus berucap dengan suara parau.

Lelaki di belakangnya, hati-hati membasuh peluh sebesar biji jagung di kedua pelipis. Sudah tiga kali si kurus mengatakan hal yang sama, tetapi mereka masih terus berjalan membelah hutan tanpa henti.

Entah sudah berapa jauhnya mereka, tidak ada hal selain pohon-pohon tinggi menjulang yang bisa dipandang.

"Nah!" Si kurus berhenti di depan pohon paling besar, sepasang mata kecilnya berbinar.

Sedangkan si perut buncit menghela lega. "Akhirnya sampai juga."

"Taruh itu di sana." Si kurus menunjuk akar pohon besar yang menjalar di atas tanah.

Ada beberapa nyiru tergeletak dengan dupa dan kembang setaman yang telah layu berserakan.

"Itu berarti sesajennya diterima," bisik si kurus memberi tahu, tentang nyiru-nyiru dengan sisa bunga layu.

"Oh ... " Si perut buncit manggut-manggut. "Mudah-mudahan punya saya juga diterima," ujarnya berharap.

Kalau sesajen diterima, berarti apa yang diinginkan akan segera terkabul. Begitu keyakinan orang-orang yang datang ke dalam hutan tersebut.

Si kurus menangkupkan kedua tangan di depan dada menghadap ke arah pohon terbesar, kedua matanya memejam erat, dan bibirnya merapalkan mantra. Sedangkan si perut buncit mengikuti gerakan si kurus tanpa rapalan apa-apa.

Setelah selesai dengan ritualnya, si kurus mengajak si perut buncit untuk berbalik dan kembali meninggalkan hutan.

"Kita hanya perlu menunggu sajenmu diterima. Setelah itu, kamu pasti kaya raya tanpa perlu usaha," janji si kurus.

Lelaki yang satunya mengangguk senang. Berandai-andai hari esok dan seterusnya dia bisa menikmati hidup dengan ongkang-ongkang kaki. Duit datang sendiri.

"Jangan pernah menoleh ke belakang!" larang si kurus mengingatkan ketika samar-samar terdengar suara derap langkah di sekitar pohon besar yang mereka tinggalkan. "Mereka sedang menerima sajenmu."

Si perut buncit tentu menurut. Tidak mau sajennya gagal diterima karena melanggar larangan.

Nyiru yang ditinggal pergi, benar-benar telah diambil isinya, hanya menyisakan kembang setaman dan segelas kopi.

Derap langkah itu semakin samar, menjauhi pohon besar.

"Aki! Aki! Kita dapat makanan lagi dari orang luar!"

Bocah lelaki kurus bertelanjang dada, dengan tergesa menghampiri seorang kakek renta di dalam gubuk reyot. Tangan kanan si bocah menggenggam erat kaus lusuh yang dipakainya untuk membungkus pisang raja, lepat, dan ayam panggang. Sedangkan tangan kirinya menenteng kelapa hijau.

©Lovaerina

1 disukai 874 dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction