Mawar Tak Berduri

Ada rasa cemburu tersirat dari tatapan wajah Lona, seorang kakak penyabar dengan Mawar, adik keras kepala. "Bilang aja loe cemburu'kan kak kalau gua jalan sama Angga?"tuding Mawar makin jengkel keluar dari dalam kamar.

"Kamu cantik juga, Mawar"puji Angga melirik Lona berdiri di balik pintu. "Gua pulang malam ya, kak"sahut Mawar sambil berjalan di rangkul Angga masih melirik Lona menahan cemburu. Lona berdiri di balik jendela perhatikan Mawar dan Angga di dalam mobil berjalan di kemudikan Angga.

"Sebegitu polosnya cinta Mawar dengan Angga. Gua merasa curiga ada sesuatu yang aneh aja dari sikap Angga"guman terduduk Lona di sopa perhatikan ruangan tengah, sempat sedih Lona melihat foto Ayah dan Ibu, yang telah tiada.

Langit siang itu sangat cerah sekali, awan putih bergulung seraya menari kegirangan dengan terpaan sinar matahari makin terik. Sinar matahari masuk lewat celah tirai jendela, pintu terbuka masuk Lona. "War, Mawar bangun udah siang"berapa kali tangan Lona colek perut samping Mawar masih tertidur pulas.

Lona melirik keatas meja, tergeletak paper bags coklat. Penasaran Lona mendekati meja dan mengambil paper bags coklat, sontak terkejut Lona melihat isinya. "Uang siapa ini banyak sekali"guman bingung Lona dalam hatinya berdiri bingung di depan meja. "Apa-apaan si loe, kak! Sini!'bentak Mawar sambil rampas paper bags dari tangan Lona.

"Itu uang siapa, Mawar?"tanya Lona penasaran melirik Mawar menciumi uang di atas ranjang. "Bukan urusan loe!"sahut ketus Mawar tersenyum hitung uang. "Kok perasan kakak ngak enak ya dengan uang itu? Pasti kamu dan Angga udah berbuat sesuatu yang ngak baik'kan?"duduk Lona di samping Mawar. "Hah bilang aja loe cemburu, kak. Tuduhan loe ngak beralasan!"balik tuding Mawar makin jengkel.

"Mawar sejak Ayah dan Ibu ngak ada, cuman kakak yang harus jaga kamu. Ngak ada rasa sedikitpun kakak cemburu sama kamu jalan dengan Angga. Kamu harus seperti mawar yang berduri, agar tidak mudah sesorang meriah kamu dan membujuk rayu kamu, Mawar. Kamu seperti mawar yang tak berduri, mudahnya di rayu sama Angga"menahan marah Lona beranjak bangun lalu keluar dari dalam kamar. "Kok gua jadi bingung ya. Apa benar kata Lona?"guman Mawar letakan uang diatas ranjang.

Sedih bercampur marah Mawar, jika dirinya sudah di perdayai Angga. Ternyata Angga memberikan Mawar banyak uang, hanya untuk membujuk rayu dirinya saja. Ternyata Angga diam-diam akan menjual Mawar keluar negeri untuk di jadikan wanita penghibur.

Mawar tidak sengaja mendengar Angga menjawab telpon dari seseorang yang tidak kenal. "Oke, oke gua ada wanita yang sangat cantik sekali, pasti loe bakalan suka"ponsel di letakan Angga di atas meja setelah menjawab. "Dasar penipu loe! Ini gua balikin uang loe!" tuding Mawar sambil lempar paper bags kewajah Angga.

"Dasar gadis tolol loe! Mau aja gua bujuk rayu dengan uang banyak! Loe tetap harus gua jual!"tuding Angga cekek leher Mawar menahan sakit. "Lepasin adik gua! Prug!"suara kayu di hantam kepundak Angga terjatuh. "Kak" sedih Mawar peluk Lona. "Benar kata loe, kak. Gua harus jadi mawar berduri, jadi ngak mudah gua di perdayai sama siapapun"lirih sedih Mawar peluk erat Lona tersenyum haru tatap wajah sedih Mawar.

2 disukai 1.2K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction