Selamat Jalan Papa

Hanya rasa sesal dan merasa bersalah, selalu menyelimuti hati perasaan Herman yang berkepanjangan.

"Pa, ayo makan"berapa suap nasi terasa berat untuk masuk kedalam mulut Rahman, Papanya Herman terbaring sakit di dipan kecil. Tetesan air mata hanya menjadi jawaban Rahman akan jawabannya. Makin sedih Herman menyeka air mata Rahman sedikit tersenyum.

Herman berlari keluar dari dalam kamar, serasa makin tidak kuasa untuk menahan tetesan air mata. "Papa ngak boleh pergi. Walau gua tahu kondisi Papa makin kritis"makin sembab wajah Herman sudah tidak bisa menahan tetesan air matanya. Herman berdiri di depan pintu, wajahnya sedikit mengintip kearah Rahman sedikit menoleh tersenyum pada Herman makin sedih.

Setiap hari Herman tidak kenal lelah merawat Rahman di bantu Sonya, adik perempuannya. "Kasihan Papa"lirih sedih terucap dari mulut Sonya menatap sendu pucat wajah Rahman seakan makin tidak berdaya. Sesendok air masih juga tidak masuk kedalam mulut Rahman, makin sedih Herman dan Sonya.

Sonya sedih meraih tangan kanan Rahman hanya sedih teteskan air mata, seperti ada sesuatu yang akan di ucapkan, tetapi seperti mulutnya terkunci. "Pa bicara saja, apa yang Papa mau sampikan"kata Herman rada membungkuk kedua tangannya mengelus wajah Rahman makin sedih. Sonya makin tidak kuasa menahan sedih, lantas Sonya keluar dari dalam kamar.

"Aku sadar akan ucapan Papa di hari raya kemarin, dia minta maaf sama aku. Tidak ada orang tua yang meminta maaf pada anaknya, Pa. Justru aku yang minta maaf pada Papa. Tapi semoga saja pikiranku salah, tentang Papa. Aku mau Papa sehat selalu"tutur sedih Herman bercampur haru perhatikan Rahman hanya teteskan air mata atas jawabannya.

Sonya makin tidak kuasa menguping berdiri di depan pintu, mendengar ungkapan Herman yang sebegitu sabarnya merawat Rahman, walau Herman dan Sonya terpancing sedikit emosi.

Hari semakin terus berlalu, makin membuat Rahman tidak berdaya, asupan makan dan minuman tidak masuk kedalam tubuhnya. Sampai di titik terakhir Rahman sedikit ingin berbicara. Ternyata selama ini Rahamn ingin kasih tahu, bila dirinya telah bertemu dengan Elya, almarhumah istrinya. Dimana Elya ingin mengajaknya pergi bersama.

"Pa, Papa ta, tadi ketemu Mama"ucap terbata-bata dari mulut Rahman. Makin sedih Herman serasa pasrah melihat keadaan Rahman makin kritis. "Jika Papa mau pergi, pergilah. Berbahagia selalu bersama Mama di sana"makin sedih Sonya pegang erat dua tangan Rahman sedikit tersenyum tersirat sedih. Herman melirik Sonya makin sedih membungkuk, menciumi wajah Rahman.

Hari makin larut, makin sepi dalam kesunyian. Herman terasa lelah capek terbaring tidur di sopa, sementara Sonya masih terjaga, wajahnya menatap sendu wajah Rahman. Tangan kanan Rahman mengelus wajah sedih Sonya sedih. Tidak ada kata terakhir saat Rahman menghembuskan napasnya setelah mengelus wajah Sonya berteriak sedih.

"Selamat jalan Papa. Berbahagia selalu bersama Mama di sana"ucap sedih Herman mengelus kening Rahman terbaring tidur selamanya. "Berbahagia selalu bersama Mama"sambung Sonya sedih.

4 disukai 2K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction