Akhir-akhir ini aku lebih sering termenung di dekat jendela, pandangan kosong menuju hamparan pesawahan di belakang rumah. Saat istriku datang, aku tergesa menyudahi renunganku itu.
Seseorang dari kota datang, dia mengutarakan maksud hatinya ingin meminang Amelia, putri bungsuku. Katanya mereka satu kantor, dan sudah saling mengenal satu sama lain.
Setelah kuberikan restu, Rayn bernapas lega. Seminggu setelahnya ia datang lagi membawa rombongan keluarga besar. Amelia dan Rayn bertunangan.
Ah, aku menyeka sudut mata yang terasa berembun. Putriku yang kujaga dan kucintai, akhirnya melabuhkan hatinya pada seseorang. Rasanya masih tidak percaya. Rasanya masih tidak rela.
Aku masih menganggap Lia (panggilan akrabnya) sebagai anak kecil. Tetapi ternyata ia telah dewasa.
Rasanya baru kemarin ia menjerit keluar dari perut ibunya. Rasanya baru kemarin ia belajar merangkak, dan menangis setelah gagal mencoba menggapai sesuatu. Rasanya baru kemarin aku dan istriku berdebat mau memasukkan Amelia ke sekolah yang mana. Rasanya baru kemarin aku menyaksikannya beranjak remaja.
Dia merengut, menangis, tertawa bahagia, gelisah. Serta segala ekspresi yang Amelia tampilkan sejak kecil, mendadak kembali merongrong ingatan.
Tiba-tiba dia besar, kuliah, wisuda, mengeluh dan menangis karena pekerjaan yang sulit.
Lalu matanya berbinar lagi begitu ia memperkenalkan seseorang pada kami. Dengan malu-malu Amelia menunjukkan Rayn melalui video call.
Proses dari lamaran sampai menikah, tidak lama. Mungkin hanya beberapa bulan.
Kemudian putriku itu disibukkan dengan persiapan pernikahannya. Beberapa kali aku mendengar ia bertengkar dengan Rayn, entah apa yang diributkan, tetapi putriku sampai mendesah berkali-kali.
Saat aku mengelus pundaknya dan bertanya, apakah ia baik-baik saja? Amelia mengangguk ragu.
"Doakan Lia, Yah." Amelia menyeka air matanya.
Hari H pernikahan Amelia, semua orang datang, sibuk mengatur ini dan itu. Namun, aku hanya terdiam di kamar. Sarapan yang disajikan pihak catering, tak kusentuh sedikitpun. Aku hanya meneguk kopi pahit untuk menghilangkan kegugupan di dada.
Aku memasukkan tangan ke saku celana, lalu menyandarkan punggung ke sofa beludru itu. Aku sibuk dengan pikiran sendiri, sampai tak sadar istriku datang.
"Yah, Amelia sudah selesai make up, mau melihat?"
Selanjutnya aku membiarkan istriku mengaitkan tangannya, membawaku masuk ke kamar di mana Amelia berdandan.
Aku terpaku di ambang pintu, mataku menatap antara haru dan getir.
Ameliaku tersenyum-senyum saat beberapa kamera membidiknya. Saudara dan sahabat terdekatnya berjingkrak ria untuk melakukan swafoto.
Melihatku dan ibunya datang, penata rias dan pagar ayu segera memberikan jalan.
Aku tak sanggup melihat Amelia, dia terlalu cantik hari ini.
Kebaya berwarna putih itu membungkus tubuh tingginya. Aksesories dan bunga melati yang menjuntai itu tampak membuat kepala Amelia berat. Ingin mengecup tanganku saja, ia perlu dibantu beberapa orang.
Semoga ia tidak tersiksa dengan pernak-pernik itu.
"Bunda, Ayah ... selalu doakan Lia, ya."
"Ya, pasti akan kami doakan selalu, Neng," jawab istriku, berkaca-kaca.
"Pengantin lelaki sudah datang, Pak. Mari ikut bersama saya." Seorang lelaki berjas necis mengajakku masuk ke aula pesta.
Sebelum aku melenggang, sempat kutatap Amelia dalam. Jika boleh jujur, aku belum mempunyai kesiapan untuk mengantarnya pergi bersama orang lain.
Hiruk pikuk pesta aku tinggalkan, menaiki anak tangga satu-persatu untuk sampai di kamar hotel.
Aku merogoh saku celana, lantas menemukan sebatang rokok lengkap dengan korek apinya. Sudah lama aku meninggalkan rokok, mungkin sudah 10 tahun, sejak kesehatanku perlahan-lahan menurun. Kali ini aku ingin mencobanya lagi, tadi aku memintanya pada Raka, menantu yang paling tua.
Sekali, dua kali aku terbatuk. Sampai akhirnya bisa menyeimbangkan sesapan itu. Aku berdiam di balkon, sibuk dengan berbagai pemikiran.
Aku mendengar sepintas dari kakak Amelia, kalau adik bungsunya itu akan diboyong untuk tinggal di luar negeri. Tepatnya di Amsterdam. Karena katanya Rayn ditugaskan di kantor pusat yang ada di sana.
Aku menganggukan kepala, sebab tidak mempunyai hak untuk melarang Amelia. Aku hanya berdoa semoga Rayn bisa menjaganya dengan baik.
Benar saja, beberapa bulan setelah resepsi pernikahan, Amelia dan Rayn datang ke rumah untuk berpamitan. Mereka memutuskan untuk tinggal di luar negeri.
Kata istriku, aku cengeng. Meski usiaku tak muda lagi, tetapi saat ditinggalkan anak-anakku, aku akan menangis. Lalu dengan rewel meminta istriku untuk menghubunginya setiap hari.
Sekarang putri bungsuku akan pergi jauh, aku tengah menahan diri untuk tak menitikan air mata begitu ia melenggang. Anak-anakku yang lain mengejek di telepon, mereka juga memberikan kekuatan agar aku tidak terlalu mengkhawatirkan Amelia.
"Yah, Lia sudah dewasa, dia juga pergi sama suaminya. Jangan terlalu cemas," ucap putri sulungku.
Aku mengangguk, meskipun perkataannya tak bisa menenangkan perasaan gelisahku.
Lambaian tangan Amelia dan Rayn dari balik kaca mobil membuatku mendesah panjang. Sebelum mobil itu benar-benar menghilang, aku terus memerhatikannya. Doa-doa terus melapal dalam hati. Istriku mengusap-usap bahuku sebagai sinyal menguatkan.
Satu bulan ... dua bulan ... dan seterusnya, kami lancar berkomunikasi. Amelia selalu mengirimkan foto-foto saat ia sedang di kantor, berjalan-jalan, atau saat sedang membersihkan rumah bersama suaminya.
Satu tahun setelah pernikahannya, Amelia hamil. Dia menceritakan kesulitan bekerja. Dia juga mengatakan ingin pulang dan menemani ibu kontrol ke rumah sakit. Amelia meminta maaf berkali-kali karena tidak bisa membersamai kami.
"Gak apa-apa, Neng, yang penting kamu sehat di sana." Aku melambaikan tangan sebagai tanda mengakhiri perbincangan kami.
Mataku menyapu ke lorong rumah sakit yang sunyi. Kedua putriku--Lina dan Salsa, sudah pulang karena harus mempersiapkan ujian anak-anak mereka. Kini aku terdiam di sini, sesekali menyeruput kopi panas, sesekali melirik istriku yang terbaring lemas.
Diabetes yang menyerangnya selama bertahun-tahun mampu menurunkan berat badan istriku. Dia menjadi kurus dan menyedihkan.
Aku menemani istriku dengan tertidur di sofa. Namun, pada tengah malam aku mendengar riuh orang yang perlahan memasuki ruanganku ini. Para dokter dan suster. Entah apa yang mereka lakukan pada istriku, aku kurang mengerti. Namun, di menit ke 15 sejak mereka datang, mereka menunduk lesu.
Dokter menepuk pundakku, memberitahukan bahwa belahan jiwaku baru saja pergi.
Ke mana? Entah, mungkin ke atas sana, yang jauh.
Mataku meredup, seiring dengan badan yang ambruk tak tertahankan.
Tiba-tiba saat aku terbangun, aku sudah ada di antara Lina dan Salsa. Mereka menggenggam tanganku, dibarengi air mata yang berderai.
....
Istriku sudah beristirahat sekarang. Beristirahat dari dunia yang kacau ini. Beristirahat dari mengurus aku, anak-anaknya beserta cucu. Beristirahat dari rasa sakit yang dideritanya cukup lama.
Sengaja aku menaburkan bunga pelan-pelan, sembari mengingat jelas dan mendetail perjalanan kehidupan kami.
Istriku yang sempurna. Istriku yang bisa diandalkan. Istriku yang membuat banyak perempuan iri karena katanya dicintai.
Kami pernah mempunyai anak yang meninggal, rasanya kala itu seperti hancur. Aku dan istriku berkabung dengan durasi yang lama. Entah berapa bulan, mungkin saja bertahun. Lalu, luka kami terobati dengan lahirnya Lina. Selanjutnya Salsa, dan terakhir Amelia. Semua rasa sakit kami, hilang sekejap, diganti dengan kebahagiaan yang lebih besar.
Namun, hari ini ... jauh lebih sakit. Jiwaku seperti koyak, dirobek satu-persatu dan menghilang.
Lina dan Salsa menggandengku untuk pulang. Aku melangkah dengan tongkat di genggaman.
Amelia tidak bisa pulang karena keadaannya sedang sulit. Rayn berjanji akan segera pulang jika pekerjaannya membaik.
Namun, sudah lama sejak itu, Amelia melahirkan. Mereka tertahan lagi untuk pulang. Dan aku menghela napas berat.
Keputusanku untuk pergi ke panti jompo, semula ditentang. Namun, Salsa dan Lina mempunyai kehidupan yang sibuk. Aku juga tidak ingin menyusahkan dengan tinggal bersama mereka. Akhirnya aku tetap bertekad untuk pergi ke panti jompo sendirian.
Kukemasi pakaian yang sekiranya aku perlukan, tak lupa album foto dan jaket rajutan terakhir istriku.
Di panti itu aku bertemu banyak teman-teman sebaya. Kami melakukan banyak kegiatan sehingga tidak terasa membosankan.
Meskipun saat malam hari--setelah suster mematikan lampu, aku menatap nyalang langit-langit yang gelap.
Ah, benar, pada akhirnya aku hidup sendiri. Sekarang aku hanya melakukan kegiatan untuk mengisi kekosongan, sebelum akhirnya dijemput untuk pulang.
Aku dan istriku akan berkumpul lagi, bukan?
Aku memercayainya demikian.