Satu-satunya tentang Ibu yang masih kental di dalam ingatan, adalah saat beliau meninggalkan kami. Aku, kakak dan nenekku. Ibu pergi membawa tas besar, pagi-pagi sekali. Bahkan nenek baru saja selesai berwudhu, wajahnya masih basah saat Ibu mencium tangannya.
"Mau ke mana?" Pertanyaan nenek tak digubrisnya. Ibu malah menurunkan matanya padaku dan Kak Anna yang masih terbaring di ranjang.
"Di, kamu jagain nenek sama kakak, ya. Ibu mau pergi, nyusul bapak."
Nenek menutupi keterkejutannya dengan memalingkan wajah. Sepertinya beliau muak mendengar ibu yang terus-terusan bertekad ingin menyusul bapak pergi, tetapi kemudian kembali karena tidak tega meninggalkan kami.
Sekelebat ingatanku tentang Bapak, beliau pergi dua bulan sebelum masuk bulan ramadhan. Katanya, mau mencari pekerjaan agar Ibu, aku dan kakak bisa menggunakan baju baru saat lebaran nanti.
Tetapi Bapak tidak pernah kembali. Entah ke mana. Nenek hanya bisa menangis dan merutuki putranya karena meninggalkan kami.
Sejak bapak pergi, Ibu berjualan makanan di pasar. Aku tidak diperbolehkan ikut karena harus menjaga kakak di rumah. Kadang aku merengek ingin ikut ke pasar, bermain dan jajan sepuasnya di sana.
"Kalau Dian ikut, Kak Anna sama siapa? Temanin, ya, Dek." Begitu perkataan Ibu selanjutnya.
Ah, benar, jika tidak ada aku, Kak Anna akan habis dijahili anak tetangga. Bahkan kakakku itu pernah hilang, sehingga aku dan nenek mencari kelimpungan. Akhirnya kami menemukan Kak Anna di gudang bekas pabrik roti, dia sedang bermain dengan boneka kesayangannya.
Nenek memarahi Kak Anna, apalagi saat melihat kotor4nnya di lantai.
Namun, nenek kembali memeluk Kak Anna setelah sadar bahwa ini bukan salahnya. Kakakku memang sakit. Usianya sudah besar, tetapi perlakuannya seperti anak usia tujuh tahun.
Akhirnya Ibu pergi ke terminal di antar Mang Ojak--tukang ojek sekaligus orang yang bekerja di ladang nenek.
Aku takut Ibu tidak kembali seperti Bapak. Lagi pula, Bapak itu jauh sekali. Konon, beliau bekerja di luar negeri. Entah di mana tepatnya.
Dugaan dan ketakutanku benar, Ibu tidak pulang, tidak ada kiriman baju dan kue-kue seperti Ibunya Laila yang bekerja di Arab. Ibu juga tidak mengirim surat apapun. Sempat aku ingin mengirimnya surat saat nenek sakit, tetapi tidak jadi, karena tidak tahu harus kukirim ke mana.
Beruntunglah aku mempunyai nenek yang bertanggung jawab. Beliau juga masih mempunyai ladang, sehingga untuk urusan makan kami tidak perlu dikhawatirkan.
Biaya kehidupan sehari-hari dan sekolahku ditanggung Tante Yanti. Beliau adik Bapak, yang mempunyai nasib baik. Suaminya pegawai BUMN, Tante Yanti sendiri mempunyai usaha toko pakaian yang sukses di kota.
"Dian, kamu bantu urusin nenek, ya. Urusan jajan sama sekolah mah, insha Allah tante bisa bantu."
Tante Yanti menepati janjinya, dia bahkan menawariku untuk masuk ke perguruan tinggi. Akhirnya aku berkuliah berkat dukungan Tante Yanti.
Di tengah perjalanan itu, nenek meninggal. Keadaan menjadi sangat sulit untukku. Di mana Tante Yanti pindah ke rumah nenek, karena suaminya kena PHK, dan rumah mereka harus dijual. Usaha baju Tante Yanti juga terancan bangkrut, sedangkan Kak Rara masih harus melanjutkan pendidikan dokternya.
"Tante minta maaf, Di. Bukan Tante bermaksud mengusir, tetapi ...." Tante Yanti mendesah panjang, setelah melihat rumah berantakan akibat ulah Kak Anna.
Aku memahami perkataannya. Aku juga mengerti beliau tidak nyaman. Aku sering melihat Tante Yanti dan suaminya beradu mulut di kamar, mereka kesal dengan Kak Anna yang selalu mengamuk dan bertengkar dengan anaknya yang paling kecil.
"Rara banyak teman di kota, beliau bisa bantu kalau kamu mau ngekos. Siapa tahu di sana juga ada pekerjaan, kamu bisa ngambil kerjaan pas nggak kuliah," lanjutnya lagi.
Mencari kontrakan yang bisa friendly terhadap orang disabilitas seperti Kak Anna juga tidak mudah. Beberapa kali aku dan Kak Rara ditolak.
Sampai akhirnya ada ibu-ibu yang menghampiri kami, beliau bilang mempunyai kos-kosan di rumahnya. Aku berbicara apa adanya tentang Kak Anna, dan beliau mengerti. Karena putra bungsunya juga mengidap penyakit yang sama seperti kakakku.
Bertahun-tahun aku dan Kak Anna tinggal di sana, sampai aku lulus kuliah dan bekerja. Kami sudah melewati pahit, getir bersama-sama. Tidak jarang Tante Yanti juga datang dan memberikan uang saku. Padahal aku tahu beliau juga kesulitan sejak suaminya meninggal.
....
Aku tertekan, lingkungan kerjaku benar-benar dikelilingi orang toxic. Dan saat pulang, aku harus dihadapkan dengan keadaan kosan yang berantakan seperti kapal pecah.
Aku memijat kening, lantas memungut barang-barang yang berserakan. Aku menangis melihat kotoran Kak Anna yang berceceran. Demi Tuhan aku lelah sekali.
Tetapi membiarkan Kak Anna bermain di luar juga bukan solusi yang bagus. Apalagi kosan kami dekat dengan jalan raya, sehingga aku takut terjadi sesuatu kalau seandainya kakakku dibiarkan berkeliaran.
Saat aku sedang mencuci piring, Kak Anna bangun dari tidurnya. Dia menyeret kakinya mendekatiku.
"Aku lagi nyuci piring, Kak. Sebentar, ya," bisikku, sembari membiarkan ia terus menarik belakang baju.
Tak sedikitpun aku lirik apa yang Kak Anna tunjukkan. Dia paling memperlihatkan alat-alat lukis baru yang ingin dibelinya.
Sepertinya Kak Anna kesal karena aku seperti tak memedulikannya, dia menangis dan meracau. Lalu terjatuh karena lantai licin setelah mengepelnya beberapa saat yang lalu.
Aku menoleh, menarik napas berat, sebelum akhirnya berjongkok untuk bisa berhadapan dengan Kak Anna. Seperti biasa dia tantrum lagi, segala barang yang ada di sana dilemparkan ke sembarang tempat.
"Ada apa?" Aku menggoyangkan bahunya. Namun, Kak Anna tidak menjawab, ia terus menangis sekeras-kerasnya.
Aku mendengar pintuku digedor beberapa kali oleh tetangga kos, mereka pasti terganggu, aku sangat malu sekali.
Akhirnya kucengkram bahunya kuat-kuat, seraya kutatap mata indahnya. Kak Anna berhenti menangis, ia menunjuk ponsel yang tergeletak di dekat kulkas. Saat aku meraihnya, ponsel itu sudah retak di beberapa bagian. Layarnya sudah berubah warna, sepertinya Kak Anna melemparkan ponsel itu sampai LCD-nya rusak.
Aku mengusap dada, padahal ini baru aku berikan empat bulan yang lalu, tetapi lagi-lagi sudah rusak. Tak terhitung berapa ponsel yang sudah aku berikan agar Kak Anna anteng di rumah. Namun, selalu saja tidak bertahan lama. Entah dia menceburkannya ke bak mandi, atau memukul-mukulnya dengan talenan sampai tidak terbentuk.
Kak Anna merengek sembari memeluk ponselnya erat-erat.
"Besok aku coba cari lagi hp baru, ya, Kak." Aku mendesis, kembali kuangkat badanku yang terasa sakit untuk menggosok piring-piring kotor itu.
Kak Anna tentu saja tidak mengerti, ia menarik tanganku brutal. Akibatnya aku ikut terjatuh. Sampai tanganku menjadi memar.
"Gila ...!"
Reaksi kakakku adalah menatap nanar, ia seolah paham apa yang aku ucapkan.
Kak Anna melenggang setelah ponselnya dibiarkan terjatuh dengan layar berkedip-kedip.
Aku mengobati luka di tangan sendirian. Sudah biasa.
....
Seharusnya hari ini aku mencari ponsel baru untuk Kak Anna, tidak apa murah, yang penting ia tidak lagi tantrum sampai memukul-mukulku. Namun, ajakan jalan-jalan dari Rindi jauh lebih menggiurkan.
Akhirnya aku pergi berbelanja dan makan di resto mewah. Menyenangkan sekali, aku seperti bebas, tanpa beban yang menggunung di pundak.
Sesampainya di rumah, aku tersenyum melihat keadaan rumah yang terlihat cukup baik-baik saja. Tidak ada kotoran, ataupun air yang tumpah-tumpah di lantai. Hanya sampah camilan dan tissue yang teronggok di dekat tong sampah.
Mataku menyapu pada meja makan, Kak Anna makan dengan baik. Dia bahkan masih menyisakan telor rebus yang aku masak tadi pagi. Remahan nasi dan lauk segera aku bersihan menggunakan lap.
Malam ini aku bisa beristirahat lebih cepat, maka dari itu sembari menunggu nasi, aku pergi bersiap mandi.
Namun, aku penasaran dengan Kak Anna. Apa saja yang ia lakukan seharian ini tanpa ponsel?
Kudorong pintu kamarnya pelan. Ah, aku menemukan Kak Anna tengah duduk di sofa yang menghadap cermin. Aku mendekat, lantas mencium bau bedak dan minyak telon. Kemudian tanganku meraba rambutnya yang basah, ternyata Kak Anna melakukan itu dengan baik.
Aku memeluknya, menghirup bau bayi dari badan gendutnya. Kuusap-usap punggungnya penuh sayang. Aku baru menyadari bahwa Kak Anna mengganti bajunya dengan baju yang aku belikan saat lebaran lalu. Baju itu tampak manis, berwarna pink dengan motif bunga-bunga.
Kak Anna menyodorkan lukisan karya tangannya. Cantik sekali. Di sana ada aku, kakak, ibu dan bapak.
"Aku juga rindu ibu dan bapak, Kak." Aku menatap lukisan itu getir.
Sesaat sebelum aku beranjak, tangan Kak Anna mencengkram lenganku. Ekspresinya menandakan ia menagih sesuatu.
Aku bergetar, aku melupakan hal yang penting hari ini. Seharusnya aku sadar kalau Kak Anna tidak sabaran. Dia bisa memecahkan semua perabotan rumah kala keinginannya tidak dituruti. Aku harus bersiap, membujuknya agar dia mengerti.
Aku mencoba memberikan pengertian pelan-pelan. Sayangnya, tidak mempan. Kak Anna mendorongku, ia menangis dan berlari untuk memberantakan rumah.
"Kak ... udah." Aku berkata lirih.
Kak Anna menunjuk-nunjuk wajahku sembari menangis.
"Kak, maafin aku ...."
Aku berusaha menahan Kak Anna agar berhenti, tetapi tenagaku tidak cukup kuat untuk menghentikannya.
Saat aku lengah, Kak Anna masuk ke kamar. Dia semakin murka melihat belanjaanku. Sehingga kini ia acak-acak semua itu.
Puncaknya adalah saat ia melihat ponsel dan laptopku di meja. Kak Anna membantingkannya sekuat tenaga.
Aku menjerit histeris, dua benda penting itu tidak terselamatkan.
Kak Anna melenggang, aku mengira ia akan berhenti. Tak kusangka ia keluar dari rumah kami, lantas tak lama setelahnya kudengar suara kaca pecah.
Apakah Kak Anna memecahkan jendela kamar kami?
Bukan hanya aku yang menjerit, tetapi tetangga kosanku juga berteriak heboh. Mereka berkumpul, tetapi tidak ada yang berani menghentikan Kak Anna.
Aku menangis, memeluk tubuhnya erat-erat. Aku meminta maaf dan memohon agar Kak Anna menyudahi kekacauan itu.
Akhirnya Kak Anna berhenti, setelah tetangga kamarku menyodorkan ponsel bekas miliknya.
Aku memungut beling di lantai dibantu beberapa teman. Setelah itu aku menerima telepon dari pemilik kos, sepertinya beliau sudah mendengar apa yang terjadi.
"Saya minta maaf sekali, tetapi Anna membuat penghuni lain tidak nyaman. Bahkan ia memecahkan barang lain, itu fatal sekali, Dian."
Aku menggigit bibir.
"Saya akan pindah dari sini, dan bertanggung jawab, Bu."
Tetangga kos menyarankanku untuk menginap di kamar mereka, takut Kak Anna tantrum lagi di tengah malam. Namun, aku tidak berani meninggalkannya. Toh dia sekarang sudah anteng bermain hp, setidaknya begitu yang kulihat berkali-kali sebelum akhirnya aku terlelap.
Entah berapa lama aku tertidur, aku terjaga saat merasa perutku perih. Ah, aku bahkan lupa mengisi perut, karena terlalu sibuk dengan kegiatan yang membuat fisik dan mentalku lelah.
Gegas aku ke dapur untuk mencari sesuatu yang bisa aku makan. Kutemukan mie instan dari dalam laci. Aku memakan mie dalam keadaan mentah, karena ternyata gas habis.
Aku terisak-isak, sesekali mengunyah remahan mie itu. Aku teringat nenek. Biasanya saat Kak Anna mengamuk, nenek akan menenangkannya. Dan selalu bisa. Entah bagaimana caranya. Kak Anna akan menurut dan memakan nasi dari suapan nenek.
Jujur saja, semakin ke sini, aku merasa Kak Anna adalah beban.
Beberapa kali aku dekat dengan lelaki, mereka ingin melanjutkan hubungan ke arah yang lebih serius, tetapi setiap kuceritakan Kak Anna, mereka mundur.
Apakah karena ini ibu dan bapak meninggalkan kami?
Aku menyeka sudut mata yang terasa berembun. Seperti tersadar dari sesuatu, aku tergesa melihat Kak Anna.
Setelah memastikan tidak ada di sana, aku bergegas ke luar. Melihat gerbang kos yang terbuka, aku menjadi yakin Kak Anna pergi, entah kapan, mungkin saja saat aku tertidur tadi.
Aku menghentikan langkah di jalanan yang ramai. Bahkan terdengar suara sirine polisi dan ambulan. Kudekati dengan perasaan berkecamuk.
Semoga aku salah. Semoga yang tertabrak di sana bukan Kak Anna.
Aku terpaku di tempat melihat dress yang korban kenakan. Persis seperti yang Kak Anna pakai tadi sore. Bahkan jam tangan di lengannya, aku yakin itu milik Kak Anna.
Gemetar seluruh badanku menyaksikan itu. Aku meneriakkan namanya berkali-kali kala petugas kesehatan membawanya pergi.
Polisi meringkus pelaku, yang ternyata menghentikan mobilnya seketika setelah Kak Anna tertabrak. Katanya dia berkendara dalam keadaan mabuk.
Mataku merambat naik, kutemukan perempuan berusia sekitar lima puluh tahunan, dengan dress mewah yang mengibar ketika tertiup angin.
Tahi lalat di dagunya. Tangannya. Rambutnya. Meski samar-samar aku mengingat, beliau adalah ... IBU?