Nina mengusap perutnya yang semakin membesar. Dia baru saja selesai menyiram tanaman, dan sedang duduk di kursi kayu beranda rumah. Matanya melirik buku kehamilan yang diberikan bidan, lantas perempuan berusia 25 tahun itu tersenyum.
Kata bidan, tanggal perkiraan lahirnya tanggal 10, itu berarti sepuluh hari lagi.
Nina menghela napas, menuju persalinan tentu membuatnya berdebar. Meski Nina sudah rajin membaca, latihan sesuai yang diajarkan petugas kesehatan, tapi tetap saja ia degdegan. Takut sesuatu buruk terjadi, tetapi semoga tidak.
Nina juga melakukan USG, jenis kelamin anaknya perempuan. Ia dan Ardi sudah menyiapkan nama yang bagus untuk putrinya.
Ayu Bestari, yang berarti cantik dan luas dalam pengetahuannya.
Mereka juga sudah menyiapkan barang dan pernak-pernik yang sangat 'girly'. Namun, Ardi juga membeli barang-barang yang warnanya bisa digunakan untuk perempuan dan laki-laki, seperti abu-abu dan biru.
"A ... bayi itu tetap lucu, menggunakan baju warna apapun. Gak usah beli banyak-banyak lagi, sayang uangnya. Mending ditabung buat nanti takut ada keperluan tak terduga." Nina memperingati melalui telepon.
Ardi bekerja di kota, harus menempuh perjalanan dua jam untuk sampai di rumah. Ardi akan pulang setiap akhir pekan.
Kehamilan istrinya membuat Ardi gencar mencari pekerjaan di tempat yang lumayan dekat dengan rumah. Namun, lumayan susah, karena mayoritas profesi di daerahnya petani atau peternak. Sehingga Ardi mengurungkan niatnya itu.
"Neng, maafin aa, ya. Gak bisa nemenin neng terus."
"Gak apa-apa, A. Rumah ibu itu lima menit dari sini, adek aa juga kan suka nginep di sini. Jadi kalau ada apa-apa, insha Allah dijagain."
Ardi meninggalkan Nina dengan gusar. Seharusnya ia sudah cuti sekarang, tetapi atasannya itu hanya mengizinkan Ardi cuti setelah Nina melahirkan.
....
Ardi dan Nina tidak pernah putus komunikasi. Ardi selalu berusaha membalas chat istrinya. Menanyakan apakah sudah merasakan tanda-tanda melahirkan seperti yang dibacanya di buku?
"Belum, A. Perkiraannya kan tanggal 10, ini baru tanggal dua."
Ardi tersenyum, ditatapnya Nina lekat. Betapa ia mencintai dan bangga memiliki perempuan itu. Nina adalah putri bungsu tuan tanah, tetapi ia mau menerima Ardi yang hanya anak petani.
Nina tidak pernah mengeluhkan apapun, meski gaji yang diterima Ardi pas-pasan.
"A, bapak sudah ada nelepon?" tanya Nina.
Ardi mengerutkan kening, "Belum, Neng. Kenapa?"
Nina menyandarkan punggungnya pada sandaran ranjang. Selanjutnya ia melepaskan mukena satin itu.
"Bapak menawari peluang usaha untuk kita, A. Katanya ada tanah di tempat strategis, cocok kalau mau dibikin toko."
Ardi mendesah. Bukan tidak mau ia menerima, tetapi rumah dan kendaraan yang dimilikinya saat ini juga pemberian bapak. Ardi malu karena belum mapan. Mungkin bapak juga khawatir terkait finansial putrinya yang masih begitu-begitu saja.
"Bapak sih menyarankan kita membuka toko sembako aja, atau toko material."
"I ... iya, Neng. Nanti kita bahas lagi, ya, pas aa udah di rumah."
Ardi pulang ke kost-an setelah menyelesaikan lembur. Selepas sholat isha, ia melakukan video call dengan Nina yang sedang mengecek barang yang akan dibawa ke rumah sakit. Alia--adik Ardi juga telaten membantu kakak iparnya.
"Tuh, udah beres, A. Tinggal berangkat aja ini mah." Nina terkekeh riang.
"Aa deg-degan, Neng. Barusan abis shat langsung berdoa semoga dedek bayinya bisa selamat, sehat ...."
Nina menyela cepat perkataan suaminya, "Semoga kamu juga bisa adzanin dia, ya, A."
"Insha Allah."
Nina pamit untuk menonton film bersama Alia. Sedangkan Ardi bergegas pergi mencari makan. Dari sekian banyaknya pilihan makanan, Ardi memilih nasi goreng.
Nasi goreng mengingatkan saat berpacaran dengan Nina. Setiap bertamu ke rumahnya, Nina pasti meminta dibawakan nasi goreng dan martabak.
Wajahnya sumringah menerima nasi goreng itu. Dia bahkan berterima kasih berkali-kali.
Ah, Nina. Dia begitu lembut nan anggun. Kecantikan bukan hanya di fisik, tetapi hatinya dipenuhi kemuliaan dan kebaikan. Hal itu yang membuat Ardi merasa cukup memilikinya.
Sebelum kembali ke kost, Ardi berniat mampir ke supermarket membeli mie dan camilan. Selepas dari sana ia berjalan santai untuk bisa sampai ke kost.
Namun, malang tiada yang tahu, hari buruk tidak ada dalam kalender. Dari arah belakang kendaraan roda empat melaju kencang. Ardi tak sempat menghindar, sehingga kini ia terlempar ke jalanan yang dipadati kendaraan.
Dar4h berceceran sepanjang jalan. Riuh orang berteriak. Mobil sejenis jeep itu remuk tertimpa reruntuhan bangunan yang ditabraknya.
Sementara jalanan menjadi macet total, petugas kepolisian bergerak cepat menangani peristiwa yang terjadi. Petugas kesehatan mengangkat tubuh Ardi yang terbujur kaku, berniat membawa ke rumah sakit.
Tetapi ... dalam perjalanan itu, denyut nadi berhenti. Napasnya tak terdengar lagi.
Ardi meninggal.
Plastik berisi belanjaan dan ponselnya berserakan di trotoar.
....
Kehamilannya yang membesar membuat Nina sulit tidur dengan tenang. Malam ini sudah berkali-kali ia mengganti posisi, suhu udara terasa lebih panas, padahal embusan angin lumayan kencang sampai menggoyangkan tirai kamarnya.
Nina merab4 sprei kosong di sampingnya. Di usia hamil tua seperti ini, bohong jika ia tidak ingin ditemani Ardi. Nina hanya bisa menahan sesak setiap melihat pasangan yang bermesraan. Seharusnya ia dan Ardi juga demikian.
Tetapi Ardi bertekad penuh agar tahun ini karirnya bisa dipromosikan. Sehingga mau tidak mau ia harus bekerja sepanjang waktu.
Nina menenggak segelas penuh air putih, lalu terduduk di sofa sembari melihat album foto.
Album foto ini berisi banyak sekali kenangan. Masa-masa berpacaran dengan Ardi, menikah sampai foto saat Nina hamil.
Ardi sempat menggeluti dunia fotografi saat SMA. Tapi tertahan karena kekurangan biaya. Skill memotretnya lumayan bagus. Dan ia memanfaatkan itu untuk memoto Nina dalam setiap kesempatan.
"Kita tidak akan kembali ke momen ini, Neng. Makanya harus diabadikan."
Nina mencubit pinggangnya pelan, "Apa sih, alay banget tau!"
"Gak apa-apa alay, demi menyenangkan diri sendiri."
Nina tergelak dalam hati. Benar kata suaminya, momen itu tidak akan terjadi dua kali di hidup ini. Nina beruntung mempunyai Ardi yang mengabadikan setiap peristiwa di hidupnya. Sehingga saat sedang rindu, Nina bisa melihat foto-foto itu dan mengembalikan ingatannya di sana.
Nina kembali ke ranjang, memainkan ponsel sebentar, tapi tidak ada pesan dari Ardi. Mungkin suaminya itu sudah tertidur. Akhirnya Nina merebahkan badan dan mencoba untuk tertidur kembali.
Mungkin baru 10 menit Nina tertidur, ia kembali terbangun karena merasa ingin buang air kecil.
Setelah dari kamar mandi, Nina kembali melihat ponselnya. Di layar ponsel ia melihat chat yang dikirimkan suaminya.
"Neng ... aa tidak bisa tidur."
"Neng, di sini dingin sekali."
Nina menekan ikon telepon di layar itu. Selanjutnya terdengar suara Ardi di kejauhan sana.
"A...."
"Iya," jawab Ardi, pendek.
"Neng kira sudah tidur." Nina menyeringai. Akhirnya ia tidak akan kesepian lagi.
"Aa kangen sekali ...."
Pernyataan itu Nina iyakan. Ia juga merindukan Ardi, sangat.
"Temenin aa tidur, ya."
Kini terdengar dengkuran halus di ujung sana. Tetapi Nina masih menatap nyalang langit-langit kamarnya. Entah kapan ia akan tertidur, matanya seakan enggan untuk dipejamkan.
Gedoran keras di pintu membuat Nina mengetatkan selimutnya. Ia menutup seluruh badannya dengan selimut, ketukan di tengah malam bisa saja itu set4n. Nina bahkan mengeluhkannya kepada Ardi.
"Sayang, ada yang ngetuk-ngetuk pintu. Aku takut."
"Kamu coba cek, Neng."
"Takut ...." Nina merengek, manja.
"Kok takut? Ayo, aa temenin."
Akhirnya Nina pelan-pelan berjalan menuju pintu utama. Suara mertuanya terdengar menggelegar seraya terus menggedor.
"Neng ...."
Rentetan cerita peristiwa kecelakaan suaminya dibawakan oleh mertua Nina. Ponsel yang menempel di telinga terlempar begitu saja, Nina merasa sesak, badannya lunglai berusaha mencari pegangan.
"Neng, aa pamit ...."
Samar-samar dari speaker ponsel yang tergeletak, Nina mendengar suara serak Ardi.