Ada kacamata berbingkai hitam tipis di atas meja. Entah milik siapa. Sudah setengah jam aku duduk di ruangan ini. Tidak seorang pun mengambil kacamata itu. Semua orang sibuk memperhatikan layar ponsel masing-masing. Semuanya tidak memakai kacamata dan tidak ada yang peduli dengan kacamata di atas meja itu.
Kecuali aku, yang bosan menatap gawai hingga kedua mataku akhirnya tertuju pada kacamata tadi.
Awalnya kubiarkan saja kacamata itu. Bukan urusanku itu kacamata milik siapa dan kenapa bisa ada di sana tanpa ada yang mengambilnya. Tapi lama-lama, aku jadi resah. Siapa pemilik kacamata itu? Kenapa ia meninggalkannya di sana dan tidak kunjung mengambilnya? Apakah itu kacamata mainan sehingga tidak berharga?
Apakah kacamata itu milik seorang kakek yang sudah pikun? Mungkin ia tadi duduk di sini, menunggu giliran dokter, lalu pulang tanpa mengingat apa yang ditinggalkannya. Mungkin begitu asal-usul bagaimana kacamata itu bisa ada di atas meja.
Satu per satu pasien di ruangan ini masuk ruang praktik dokter. Keluar-keluar, tidak ada satu pun dari mereka yang mengambil kacamata itu.
Hingga tinggallah aku dan kacamata itu di ruangan ini.
“Wahai, kacamata, siapa pemilikmu?” tanyaku.
Kacamata itu diam. Aku pun berhenti bertanya.
Lalu, tibalah giliranku yang diperiksa dokter. Kukatakan padanya kalau migrenku semakin sering kambuh. Aku tidak mengharapkan saran darinya. Aku hanya mengharapkan resep obat. Stok obat di rumahku tinggal satu biji. Aku perlu stok yang agak banyak, buat jaga-jaga kalau-kalau migrenku kambuh dan kambuh lagi.
“Perbanyak istirahat. Tenangkan pikiran. Kalau emosi, tarik napas dalam-dalam dan hembuskan perlahan. Cobalah belajar meditasi dan pasrah menghadapi segala sesuatu yang terjadi dalam hidup Anda,” kata dokter sambil menuliskan resep obat.
Aku mengangguk saja ketimbang harus mendengarkan ceramah dokter yang lebih panjang lagi.
“Kalau dalam satu bulan ini migrennya masih sering kambuh, coba periksa mata Anda. Barangkali ada masalah dan Anda harus memakai kacamata,” lanjut dokter.
Aku jadi ingat kacamata di ruang tunggu sana. Apakah kacamata itu masih ada di atas meja? Apakah ia masih menunggu sepasang tangan meraih gagangnya untuk dipasangkan di depan sepasang mata yang sudah rabun? Aku prihatin membayangkan bagaimana ia melihat satu titik ruang tunggu selama waktu yang tidak kutahu berapa lama. Aku merasa iba padanya yang harus melihat orang-orang datang dan pergi, tetapi mereka seolah-olah tidak melihatnya.
Ternyata, begitu aku keluar dari ruangan dokter, kacamata itu sudah tidak ada di ruang tunggu. Juga di atas kursi, di tumpukan majalah dan koran. Mungkin ada yang memindahkannya.
Semoga saja begitu. Namun tetap aku khawatir. Bagaimana kalau tidak kunjung ada orang yang mengambil kacamata tadi? Sampai berapa lama ia harus menunggu seseorang datang dan mengaku kalau itu kacamata miliknya.
Kepala sebelah kiriku berdenyut-denyut. Aku duduk sebentar, berharap kondisi kepalaku membaik, walau aku tahu, migrenku tidak akan langsung sembuh begitu aku duduk. Tidak ada siapa-siapa di ruang ini. Mungkin aku adalah pasien terakhir. Tidak ada yang bisa ditanyai perihal kacamata itu.
Apakah benar kacamata itu milik seorang kakek yang pikun dan saat aku diperiksa dokter, ia kembali untuk mengambil kacamata itu? Bisa saja, kan, ketika di apotek kakek itu mendadak ingat kacamatanya ketinggalan di sini.
Atau mungkin ada pencuri yang mengambil kacamata itu?
Tapi di gerbang ada satpam. Aku mendongak ke sudut ruangan. Sebuah CCTV menatapku dengan satu matanya.
Aku ingin tahu, apa bisa segala sesuatu terlihat jelas jika hanya dilihat dengan satu mata? Apa ia tahu, adakah seseorang masuk ruangan ini saat kosong dan mengambil kacamata itu?
Aku ragu. Kurasa, aku harus pergi ke ruang operator di pos satpam sana dan memeriksa hasil rekaman CCTV itu, demi mencari tahu siapa yang sudah mengambil kacamata yang sebatang kara tadi?
Namun…
Aduuuh!
Migrenku kambuh lagi.
Aku tidak bisa lebih lama lagi di sini. Aku harus pulang dan berbaring, lalu minum obat sisa dari resep sebelumnya.
Tetapi bagaimana dengan kacamata tadi?
Aku meninggalkan klinik dengan membawa tanda tanya besar. Di mana kacamata itu sekarang?
Leher dan kepala sebelah kiriku terus berdenyut-denyut. Rasanya tidak tahan lagi.
“Mari, Pak,” pamitku pada satpam yang menanggapi pamitku dengan anggukan.
Bergegas aku naik angkot yang berhenti tepat di depan klinik dan duduk di salah satu pojoknya.
Di hadapanku, ada seorang mahasiswi sedang membaca buku. Ia memakai kacamata yang mengingatkanku pada kacamata di ruang tunggu.