Disukai
0
Dilihat
13
Sosok Pengganti
Horor

Mataku masih terpejam. Namun, jemariku secara naluriah meraba sisi tempat tidur, mencari kehangatan yang biasanya ada di sana. Nihil. Hanya ada permukaan seprai yang terasa sedingin es. Seketika, mataku terbuka lebar. Rasa kantukku langsung hilang. Aku mendapati sisi di sampingku kosong. Suamiku tak ada di sana.

Suasana begitu sunyi, sampai-sampai suara jam dinding terdengar sangat jelas. Aku menoleh ke arahnya.

"Jam tiga?" gumamku dengan suara serak.

Meski masih merasa limbung dan nyawaku belum terkumpul sepenuhnya, aku melangkah keluar kamar. Ruang tengah gelap gulita. Namun, ada cahaya redup dari arah dapur yang mencuri perhatianku. Di sana, suamiku berdiri diam di depan wastafel sedang mengaduk kopi hitam favoritnya.

"Lagi apa, Mas?" tanyaku pelan.

​"Bikin kopi," jawabnya pendek. Ia tidak menoleh sedikit pun, hanya punggungnya yang tampak tegak dan kaku di depanku.

Aku mengernyit, lalu melangkah mendekat. "Tumben pagi-pagi begini? Enggak bisa tidur ya?"

"Iya."

Jawaban itu terasa janggal. Dingin dan datar. Tak biasanya dia sekaku dan sedingin ini. Aku mencoba mengusir pikiran buruk, mungkin dia sedang banyak pikiran soal pekerjaan. Aku melangkah maju, lalu memeluk punggungnya erat, mencoba memberinya kehangatan.

"Mas, sudah salat tahajud?" tanyaku, mencoba mencairkan suasana.

"Sudah," sahutnya. Ia tetap tidak bergerak sedikit pun, bahkan saat uap panas dari kopinya mulai mengepul di depan wajahnya yang tampak pucat.

​"Ya sudah, aku salat dulu ya, Mas?"

Ia hanya mengangguk pelan. Saat aku melepaskan pelukan, ada rasa dingin yang janggal tertinggal di telapak tanganku. Aku berusaha menepis perasaan aneh itu, lalu berjalan ke kamar mandi untuk berwudu. Di atas sajadah, aku bersujud cukup lama, berharap menemukan ketenangan atas sikap suamiku dan tidak lupa mendoakan keutuhan rumah tangga kami.

Usai melipat mukena, perasaanku sedikit lebih tenang. Namun, begitu kembali ke dapur, aku tidak lagi mendapati suamiku. Gelas kopinya tertinggal di atas meja, menyisakan kepulan uap tipis, tetapi sosoknya tidak ada. Aku mencarinya hingga ke ruang tamu. Namun, tetap nihil.

​Langkahku terhenti saat menyadari pintu depan sedikit terbuka. Aku bergegas keluar dan menemukannya sedang duduk mematung di kursi teras. Matanya menatap lurus ke arah kegelapan dengan wajah kaku, seolah ia sedang melihat sesuatu yang tak kasat mata di depannya.

​"Mas, kamu ngapain di luar? Masih terlalu dini untuk berdiam diri di sini. Apalagi kopinya nggak kamu bawa," ucapku pelan sambil duduk di sampingnya.

"Lagi santai aja," jawabnya singkat. Pandangannya tetap terpaku ke depan, tanpa sekali pun menoleh ke arahku.

​Aku meraih tangannya, berniat memberikan kehangatan agar dia lebih tenang. Namun, aku tersentak. Seluruh tubuhku meremang hebat. Kulitnya terasa sangat dingin. Bukan dingin karena udara malam, melainkan dingin yang beku dan kaku. Tak ada denyut, tak ada rasa hangat yang mengalir di sana.

​"Dingin sekali tanganmu, Mas," ucapku dengan suara yang mulai bergetar. "Kamu... sakit?" Tanyaku khawatir.

​Ia menoleh pelan. Gerakannya sangat kaku, saat tangannya yang dingin mulai membalas genggamanku. "Enggak, Mas baik-baik saja," ucapnya tanpa sedikit pun ekspresi di wajah.

"Lalu kenapa bisa sedingin ini?" desakku ragu.

Ia terkekeh pelan. Tawanya terdengar asing, hambar dan datar di telingaku. "Aku cuma kedinginan, apalagi aku baru pulang jam dua tadi."

​"Mas, kalau kedinginan kita masuk aja yuk," ajakku lembut.

​Tapi suamiku hanya menggeleng pelan, melihatku tanpa ekspresi. 

​Aku menghela napas berat. Ada rasa ganjil yang mulai mengusikku. Sikap diamnya benar-benar tidak biasa. 

"Mas..." panggilku lagi, kali ini lebih pelan, "kalau ada masalah, cerita ya? Jangan diam seperti ini."

​Ia mengusap puncak kepalaku yang masih tertutup hijab. Elusannya lembut. Namun, hawa dingin dari tangannya menembus kain, membuat tengkukku meremang. "Enggak ada apa-apa. Mas baik-baik saja."

Aku hanya bisa menghela napas, mencoba mengabaikan kejanggalan sikapnya. Tepat saat aku hendak menyandarkan kepala di bahunya, tangis histeris bayi kami pecah dari dalam kamar. Jeritannya terdengar begitu ketakutan. Aku tersentak berdiri, jantungku berdegup kencang karena panik.

​"Aku masuk dulu, Mas. Adek bangun!" seruku panik, lalu berlari masuk tanpa menunggu jawabannya.

Begitu masuk ke kamar, aku langsung menutup pintu dan refleks memutar kuncinya. Entah kenapa, aku merasa lebih aman setelah pintu itu terkunci rapat.

​Di bawah cahaya lampu tidur yang remang-remang, aku mendekap bayiku. Cukup lama aku menenangkannya sampai tangisnya mereda dan ia tertidur kembali. Suasana yang sangat sunyi dan pelukan hangat bayi, membuat rasa kantuk tiba-tiba menyerangku.

​Sebelum benar-benar terlelap, aku meraih ponsel di atas meja sekadar untuk mengecek jam. Namun, mataku tertuju pada satu pesan masuk dari suamiku yang dikirim dua jam yang lalu.

Aku terdiam. ​Darahku serasa membeku saat membaca kalimat di layar itu.

"​Bun, maaf ya Mas nggak bisa pulang malam ini. Pekerjaan di kantor numpuk banget, Mas harus menginap di mess. Besok sore Mas langsung pulang. Titip Adek, ya."

Jantungku berdengup hebat, napasku tercekat, dan kepalaku mendadak pening saat otakku dipaksa mengingat kembali rentetan kejadian tadi. Jawaban singkat itu, tatapan kosong di teras, dan tangan yang sedingin es.

​"Kalau Mas enggak pulang... lalu siapa yang bersamaku tadi?" bisikku dengan bibir bergetar hebat.

​Tepat saat itu, sebuah ketukan pelan terdengar dari balik pintu kamar.

​Tok... Tok... Tok...

​"Sudah selesai belum, Bun? Bisa bicara di luar sama Mas?"

​Suara itu terdengar sangat dekat, seolah dia menempelkan bibirnya tepat di celah pintu. Nadanya datar dan dingin, tanpa ada deru napas yang terdengar. Aku mematung di atas tempat tidur, mendekap bayiku sekuat tenaga dengan tangan yang gemetar hebat. Aku ingin berteriak, tapi mulutku mendadak kelu.

​Pandanganku terpaku pada satu titik, gagang pintu kamar.

​Dalam kesunyian kamar yang mencekam, gagang pintu itu mulai bergerak. Perlahan-lahan tertekan ke bawah, disertai bunyi gesekan logam yang kasar. Jantungku berpacu sangat cepat dan air mata mulai membasahi pipiku. Di luar sana, sosok yang menyerupai suamiku itu sedang memaksa masuk.

​"Bun? Mas tahu kamu di dalam," bisiknya lagi sambil mengetuk pintu pelan.

​Aku terdiam cukup lama, tidak menjawab pertanyaan itu. Tiba-tiba, ketukan pintu itu berubah. Semakin lama semakin kencang, hingga menjadi gedoran keras yang bertubi-tubi. Suara gedoran itu begitu keras hingga memekakkan telinga, membuatku semakin gemetar ketakutan di sudut tempat tidur.

Gedoran keras di pintu itu tiba-tiba berhenti. Seketika, kamar menjadi sunyi senyap. Aku terpaku menatap pintu yang tidak lagi bergetar, dan berharap sosok di luar sana benar-benar sudah pergi.

​Namun, keheningan ini justru lebih menakutkan. Aku sadar ada yang aneh. Gedoran tadi begitu kencang, lalu tiba-tiba berhenti. Tapi, kenapa tidak ada suara langkah kaki yang menjauh dari balik pintu?

​Tiba-tiba, aku merasakan guncangan pelan dari bawah tempat tidur. Ada suara gesekan di lantai, tepat di bawah kakiku, seperti sesuatu sedang merayap di sana.

​Jantungku berhenti berdetak saat sebuah bisikan terdengar dari bawah kasur, dan suaranya sangat dekat di telingaku.

​"Bun... jangan lihat ke pintu. Mas udah di sini."

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Horor
Rekomendasi