Kakak

"Rin, bangun! Ini sudah siang, ayo bangun nanti terlambat ke sekolah."

"Ah.. kak Nana, selamat pagi, memangnya jam berapa ini?"

"Jam 07.10 tahu, ayo cepat."

Aku bergegas pergi menuju kamar mandi, mandi dengan cepat, memakai pakaian dan berangkat sambil menggigit sehelai roti.

Tepat semenit sebelum bel berbunyi, aku berhasil masuk kelas.

"Ah, syukurlah masih sempat."

"Hey, kesiangan lagi nih? Emang ye, kerjaannya setiap malem main game Mulu sama buaya." Celetuk Wulan

"Enak saja, aku kesiangan karena tadi malam mengerjakan PR matematika tahu"

Bel masuk berbunyi

Aku adalah siswi SMA yang sedang mencari beasiswa untuk sekolah di Jepang, tentu saja aku belajar dengan giat, lagian setelah orang tuaku meninggal aku tidak ingin merepotkan kakak, ia rela putus sekolah untuk bekerja demi membayar SPP ku.

Bel pulang berbunyi

Aku bergegas pulang dan membantu kakak berjualan di pasar. Tapi saat jalan pulang, seperti ada yang mengawasi ku. Sebenarnya setelah ayah dan ibu meninggal aku merasa selalu di awasi, bahkan ketika aku sedang di kamar sendirian, aku merasa sepasang mata sedang mengawasi ku, aku sudah bilang pada kakak, tapi dia tidak percaya. aku tidak mempedulikan perasaanku, aku akan tetap fokus pada pelajaranku dan membantu kakak.

Sesampainya di rumah, aku langsung berdagang bersama kakak, ia terlihat letih, keringat mengucur di dahinya. Aku memutuskan untuk mengurus dagangan sendiri dan membiarkan kakak istirahat sejenak, aku tidak mau kehilangan kakak.

Ramainya pembeli membuat sesak, berisiknya teriakan pembeli membuat telinga pengang, kepalaku benar-benar sakit, aku tetap melayani pelanggan, Sampai tanpa kusadari kakak sedang berdiri di sebelahku menatap kosong ke arah mataku, tiba-tiba semua ya hening.

"Dek, kamu mimisan."

Aku mengusap area hidungku, ku lihat tanganku penuh dengan darah dan aku jatuh pingsan.

Samar-samar aku mendengar dokter berbicara.

"Nak Rin, nak Rin bisa dengar saya?"

Ketika aku tersadar, aku berada di ruangan, seperti penjara, tapi sepertinya lebih nyaman, aku melihat sekeliling.. gelap. Aku memutuskan untuk berjalan menyusuri lorong, siapa tahu bisa bertemu dokter yang tadi mengajakku berbicara, lorong yang gelap, lembab, dingin, ini tidak seperti rumah sakit, melainkan seperti asrama.

Aku melihat sebuah papan informasi, aku pun mendekatinya, ada beberapa nama pasien lain yang tercantum disana, ada yang di silang ada juga yang tidak, dalam gelap aku baca satu per satu sampai aku menemukan informasi diriku.

"Mayazaki Rin, siswi SMA yang tega membunuh kedua orang tua serta kakaknya sendiri. Motif gangguan mental yang disebabkan oleh kekerasan dalam keluarga."

Ingatanku muncul kembali, ayahku adalah orang yang keras, ia sering memukuli ibu dan aku. Suatu malam terjadi pertengkaran hebat antara ibu dan ayah, kakak melindungiku, katanya aku tidak boleh keluar dari kamar, tapi, terdengar suara tembakan dari lantai bawah, dengan panik kakak bergegas menuruni tangga aku mengikutinya dari belakang, yang kulihat hanyalah jasad ibu yang sudah tidak berdaya dilantai, ayah mencoba membunuhku tapi tanpa sengaja peluru terakhir ayah mengenai kakak.. ia tewas di hadapanku.

Hatiku yang sudah hancur tidak peduli lagi pada apapun, aku mengambil payung di sebelahku, menusuk tenggorokan dan matanya.. ayah mati.

Kakak memelukku dari belakang.

"Ayo kita berkumpul lagi, dek"

Oh, malam ini, malam yang indah untuk mati.

194 dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction