“Luna!”
Panggilan berat dan berwibawa itu seketika membuyarkan lamunan Luna.
Sebuah mobil hitam mewah berhenti tepat di sampingnya, perlahan kaca jendela itu turun. Di balik kemudi, terlihat seorang pria berahang tegas dengan kacamata hitam yang membuatnya tampak begitu menawan.
Luna sempat terpaku sejenak. Namun, begitu menyadari siapa pria itu, binar di matanya langsung menyala.
“Bang Samudra!” seru Luna dengan senyum merekah lebar dan rona bahagia di wajahnya tak lagi bisa disembunyikan.
“Masuk.” Perintah Samudra terdengar singkat dan tegas. Namun, sedetik kemudian ia mengukir senyum tipis.
Luna mengangguk dengan semangat. Ia segera masuk dan duduk di kursi penumpang. Seketika, wangi parfum maskulin yang sangat ia hafal memenuhi indra penciumannya. Luna menarik sabuk pengaman dan memakainya dengan cepat.
“Abang mau ke mana?” Tanya Luna sambil melirik penasaran.
Samudra mulai melajukan mobilnya menembus kemacetan. “Antar kamu pulang,” jawabnya santai. Tangannya bergerak tenang di atas setir, sesekali jemarinya mengetuk pelan mengikuti irama musik.
Luna memutar posisi duduk menghadap Samudra. “Eh? Ada angin apa?” tanyanya dengan dahi mengernyit bingung.
Samudra tertawa kecil. Tiba-tiba, tangan kirinya terangkat, menyentil dahi Luna lembut. “Begitu caranya menyambut orang yang baru punya waktu luang? Kamu enggak kangen sama Abang?” godanya.
Luna memanyunkan bibir dan melipat tangan di dada. “Memangnya kalau aku kangen, Abang bakal langsung datang? Enggak, kan? Abang selalu sibuk magang dokter sampai lupa punya teman menggemaskan kayak aku.”
“Maaf, ya,” ucap Samudra tulus sambil matanya tetap fokus pada jalanan. “Tapi selama ini kamu enggak sendirian, kan? Ada Bimantara yang jaga kamu.”
Luna mengangguk. “Iya, Bang Tara baik banget. Dia selalu siap antar-jemput kalau aku minta tolong.” Ujarnya, lalu menoleh ke arah Samudra dengan senyum jenaka. “Lumayan, kan? Dapat tumpangan gratis, terus sopirnya juga ganteng pula!”
“Heh! Sembarangan kamu panggil aku sopir!”
Suara berat tiba-tiba menyambar dari kursi belakang itu membuat Luna nyaris melompat dari duduknya. Ia langsung menoleh dengan mata melotot. Di sana, Tara tengah bersandar santai sambil menyeringai lebar.
“Bang Tara?! Kok... bisa ada di sini juga? Sejak kapan?!” Teriak Luna.
Bimantara tertawa melihat ekspresi Luna. Ia memajukan badannya ke arah kursi depan, lalu mengacak-acak rambut Luna.
“Memangnya enggak boleh?” Jawab Tara santai. Ia melirik Samudra yang sejak tadi hanya menyimak sambil menahan senyum. “Tadi Abang enggak sengaja ketemu Samudra di parkiran rumah sakit, jadi sekalian saja kami jemput kamu, Dek.” Lanjut Tara lagi.
Samudra melirik Luna sekilas sebelum kembali fokus pada kemacetan di depannya. “Sebenarnya Abang mau antar kamu pulang, tapi karena Tara juga lagi kosong, kami pikir kamu butuh refreshing sebentar.”
“Jadi, kita mau ke mana hari ini, Tuan Putri? Mumpung sopir-sopir gantengmu ini sedang cuti,” tanya Bimantara dari kursi belakang, menyandarkan dagunya di bahu kursi Luna.
Luna terdiam sejenak. Ia melihat ke luar jendela, menikmati langit Bandung yang sangat cerah hari ini—terlalu indah untuk dilewatkan hanya dengan mendekam di rumah. Tiba-tiba, ia menoleh dengan mata berbinar.
“Kebun Begonia Lembang!” seru Luna tanpa ragu.
“Oke! Let’s go, Sam!” sahut Bimantara antusias sambil menunjuk ke arah depan.
Samudra tertawa pelan, lalu memutar setir, mengubah arah mobil menuju jalan menanjak ke daerah Lembang. Mobil melaju membelah kepadatan Bandung sebelum akhirnya disambut hawa sejuk khas Lembang.
Di tengah hamparan bunga Begonia yang berwarna-warni, mereka bertiga menghabiskan waktu dengan penuh tawa. Luna sesekali berlari kecil, menjahili Bimantara dengan merebut camilannya, lalu bersembunyi di balik punggung lebar Samudra. Sementara itu, Samudra hanya tertawa kecil sambil terus memastikan Luna tetap dalam jangkauannya.
Setelah lelah berkeliling, mereka singgah di sebuah kafe terbuka yang menghadap langsung ke perbukitan hijau. Angin Lembang yang semakin dingin membuat Luna menarik jaketnya lebih erat.
Bimantara kemudian berpamitan sejenak untuk mengantre makanan di kasir. Luna duduk di tepi teras, sibuk mengabadikan langit di atas gunung dengan ponselnya. Sesekali, angin gunung menerbangkan anak rambut hingga mengenai pipinya. Di hadapannya, Samudra hanya bergeming. Alih-alih menikmati pemandangan, matanya terkunci sepenuhnya pada Luna menatap gadis itu dengan tatapan yang sangat dalam.
“Dek,” panggil Samudra dengan lembut.
Luna menurunkan ponselnya, lalu menatap Samudra. “Kenapa, Bang?” tanyanya pelan.
Samudra terdiam cukup lama. Di bawah langit Lembang yang mulai meredup, ia menarik napas panjang. Matanya menatap wajah Luna dengan lembut.
“Abang sering bertanya pada diri sendiri,” Samudra berhenti sejenak. Perlahan, ujung jarinya menyentuh jemari Luna yang berada di atas meja. “Bagaimana bisa Abang membiarkan waktu lewat begitu saja hanya dengan menjagamu dari jauh? Padahal, setiap detak jantung Abang selalu menyebut namamu.”
Luna mengerjap kaget, jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat. Ia merasa dunia di sekelilingnya mendadak sunyi, meninggalkan mereka berdua dalam dinginnya udara Lembang yang menusuk. Namun, sentuhan kecil di jemarinya itu justru terasa begitu hangat.
“Bang...” Luna berucap lirih, lidahnya mendadak kelu.
“Abang mencintaimu, Luna. Bukan sebagai adik, tapi sebagai wanita tempat Abang ingin pulang. Izinkan Abang menjagamu lebih dari sekadar seorang kakak.”
Samudra menatap dalam ke netra Luna. Ada secercah kecemasan yang ia sembunyikan di balik senyum tipisnya. “Meskipun Abang jujur soal perasaan ini, tolong jangan berubah ya, Dek. Bagaimanapun, Abang tidak mau kehilangan kamu.”
Mata Luna mulai berkaca-kaca karena mendengarkan ucapan Samudra. Namun, ia juga gemas karena pria itu terus saja berbicara tanpa memberinya kesempatan untuk berbicara. Luna akhirnya mengulurkan tangan dan menepuk punggung tangan Samudra yang ada di atas meja.
“Ihhh, Abang! Aku dari tadi mau bicara, tapi Abang enggak kasih celah sedikit pun!” potong Luna sambil mengerucutkan bibir kesal.
Samudra tertawa kecil.. “Maaf, maaf. Silakan, Tuan Putri. Waktu dan tempat dipersilakan,” ucapnya sambil berusaha menenangkan detak jantung yang berdebar kencang.
Luna diam sejenak, menatap Samudra dengan tatapan yang sangat lembut. “Sebenarnya... aku juga menyukai Abang. Sudah lama, bahkan sejak pertama kali kita bertemu.” Luna langsung menundukkan kepala, menyembunyikan pipinya yang merona di balik helai rambut.
Samudra tertegun. Ia tidak menyangka dengan jawaban Luna.
“Dulu aku sempat menjauh karena mengira Abang pacaran sama Kak Tiara,” lanjut Luna pelan. “Aku pikir kalau aku menghindar, rasa ini bakal hilang. Tapi entah kenapa, kita selalu dipertemukan lagi. Bagiku, bisa ada di samping Abang meskipun hanya dianggap sebagai ‘adik’, itu sudah lebih dari cukup.”
Kriukk!
Suara kunyahan keripik yang nyaring itu terdengar tepat di samping telinga Samudra. Entah sejak kapan Bimantara sudah berdiri di sana. Tanpa rasa bersalah, ia langsung mendarat di kursi kosong sebelah Samudra sembari meletakkan nampan berisi camilan.
“Jadi... ini sudah resmi jadian atau belum ?” tanya Bimantara dengan mulut yang masih sibuk mengunyah.
Samudra dan Luna kompak menoleh, memberikan tatapan tajam pada pria itu.
“Kamu merusak suasana, Tar!” keluh Samudra sambil geleng-geleng kepala.
Bimantara menyengir lebar. “Loh, aku kan butuh kepastian sebagai saksi hidup kalian. Jadi, sudah resmi, kan?”
Samudra memilih mengabaikan ocehan sahabatnya itu. Ia kembali menatap Luna. “Jadi... kamu mau kan, jadi pacar Abang?”
Luna menunduk, lalu mengangguk pelan dengan wajah merah padam. Samudra tersenyum lebar. Hari itu, di bawah langit Lembang yang kian mendingin, status “kakak-adik” di antara mereka resmi berakhir.
“Alah, sok malu-malu kucing!” ledek Bimantara sambil menyeruput kopinya dengan santai.
“Abang ihhhhh!” teriak Luna gemas, yang hanya dibalas dengan tawa puas oleh Bimantara.
Sore itu di Lembang terasa begitu spesial. Di antara udara sejuk, gelak tawa Bimantara yang jahil terus bersahutan dengan teriakan kesal Luna. Samudra hanya diam menyimak, memerhatikan dua orang paling berharga dalam hidupnya itu dengan senyum.
Bagi Luna, hari itu adalah mimpi yang menjadi nyata. Seseorang yang selama ini hanya ia panggil “Abang”, kini resmi menjadi kekasihnya. Rasa kagum diam-diam itu akhirnya menemukan tempat untuk berlabuh.
Namun, kenyataan sering kali enggan berkompromi. Suasana manis itu kini telah raib, menyisakan kepingan memori yang hanya bisa Luna kenang kembali. Tawa Bimantara, tatapan sayang Samudra, dan kesejukan Lembang hari itu kini terkunci rapat dalam hati. Sebuah kenanga yang mustahil untuk di ulang kembali.
Jari-jari Luna di atas papan tik mendadak berhenti. Kalimat terakhir yang baru saja ia ketik untuk bab novelnya seolah menariknya paksa kembali ke dunia nyata. Rasa sesak seketika mengimpit dadanya. Setetes air mata jatuh mengenai jemarinya—terasa hangat di tengah dinginnya ruang kerja yang sepi itu.
“Aku merindukanmu, Samudra...” bisik Luna dengan purau.
Tiba-tiba, sepasang lengan kokoh memeluknya dari belakang. Luna sempat tersentak. Namun, begitu menghirup aroma parfum maskulin bercampur kopi yang sangat ia kenali, hatinya seketika tenang. Pria itu menyandarkan dagu di bahu Luna, lalu mengecup pelipis istrinya dengan lembut.
“Sudah... jangan menangis lagi. Samudra pasti sedih melihatmu seperti ini,” ucap suara pria tu menenangkan Luna.
Luna memutar kursi kerjanya hingga mereka berhadapan. Ia segera menyandarkan wajah di dada bidang itu. “Aku kangen Bang Samudra, Mas Tara”
Bimantara tidak langsung menjawab. Ia hanya mengelus punggung Luna, membiarkannya merasa tenang dalam dekapannya. Matanya melirik ke arah foto Samudra di sudut meja, lalu ia menarik napas panjang. Perlahan, ia menjauhkan sedikit tubuh Luna, kemudian menghapus sisa air mata di pipinya dengan ibu jari.
“Dengar Mas, Sayang,” suara Bimantara kian merendah, menatap mata Luna dengan dalam. “Samudra adalah bagian dari hidupmu, dan Mas tidak akan pernah memintamu untuk melupakannya. Mencintai kamu berarti Mas juga harus menerima semua kenanganmu, termasuk cintamu padanya.”
Bimantara menempelkan keningnya pada kening Luna, membiarkan ujung hidung mereka bersentuhan. “Kamu adalah orang terakhir yang Samudra percayakan kepadaku. Dia berjuang melawan gagal jantungnya selama bertahun-tahun Cuma karena satu alasan: ingin memberimu lebih banyak kenangan indah sebelum dia pergi.”
Bimantara tersenyum getir. Jarinya merapikan anak rambut Luna yang menempel di dahi karena air mata. “Berkali-kali dia ingin menyerah karena pengobatannya sangat menyiksa. Tapi dia selalu bilang padaku: ‘Tunggu sebentar lagi, Tar. Luna baru saja tertawa, aku ingin melihatnya lebih lama.’
Tangis Luna kembali pecah, namun kali ini ada senyum tipis yang tulus di bibirnya.
“Sampai saat terakhirnya, yang dia lihat cuma kamu—cahaya hidupnya,” lanjut Bimantara dengan suara serak dan berjuang menahan tangis saat mengingat sahabat terbaik yang pernah ia miliki itu.
Bimantara menarik napas panjang, menggenggam jari-jari Luna dengan erat. “Samudra menitipkanmu padaku karena dia tahu, Mas juga punya perasaan yang sama besarnya. Perasaan yang selama ini Mas simpan rapat-rapat demi menghargai kalian berdua.”
Ia menatap Luna dalam-dalam. “Mas tidak pernah merebutmu, Sayang. Mas tidak akan sanggup melakukan itu pada Samudra. Mas hanya mencoba melanjutkan napas dan janji yang tidak sempat dia selesaikan untukmu.”
Bimantara membawa tangan Luna ke bibirnya, mengecup punggung tangan itu cukup lama. “Mas mungkin tidak sesabar Samudra. Mas masih sering cemburu jika kamu terlalu lama melamunkan masa lalu. Tapi Luna, duniaku sekarang hanya berputar padamu. Mas akan jadi orang pertama yang memelukmu saat bangun dan orang terakhir yang mendoakanmu sebelum tidur.”
Ia menempelkan tangan Luna tepat di dadanya. “Jantung ini berdetak karena kamu memberinya alasan untuk hidup. Jika dulu Samudra adalah mataharimu, biarkan Mas jadi langit yang tidak akan pernah meninggalkanmu, segelap apa pun malam yang kamu lalui.”
Luna mengangguk pelan. “Terima kasih sudah mencintaiku dengan sabar, Mas... Terima kasih sudah membiarkan Bang Samudra tetap punya tempat di hati kita.”
Bimantara menarik Luna ke dalam pelukannya. Setelah beberapa saat, ia sedikit melonggarkan dekapannya dan mencubit ujung hidung Luna dengan gemas.
“Sudah, ya, sedihnya? Nanti Samudra protes karena Mas membuat ‘mataharinya’ menangis terus.” Bimantara mengedipkan sebelah matanya, membuat Luna akhirnya tertawa kecil. “Sekarang, boleh Mas peluk istri Mas yang paling cengeng ini? Kali ini tanpa air mata.”
Luna tersenyum, kembali masuk ke dalam dekapan suaminya.
“Aku mencintaimu, Luna. Selalu,” bisik Bimantara.
Luna mendongak. “Aku juga sangat mencintaimu, Mas Tara.”
Luna menatap Bimantara dengan penuh rasa syukur. Ia tahu Samudra ingin dia bahagia, dan kebahagiaan itu ada pada suaminya sekarang. Sambil tersenyum, Luna berjinjit dan mengecup bibir Bimantara singkat.
Bimantara sempat kaget dan terdiam. Namun, tak lama kemudian senyum jahilnya muncul. “Wah, sudah berani, ya?”
Bimantara tertawa kencang, suaranya memenuhi ruangan. Ia segera menghujani wajah Luna dengan ciuman bertubi-tubi.
“Mas! Geli! Berhenti!” Luna berteriak kegelian sambil tertawa lepas.
Bimantara akhirnya berhenti dan memeluk Luna erat. Ia membiarkan istrinya bersandar nyaman di dadanya sambil menatap langit malam melalui jendela. Di antara ribuan bintang, matanya terpaku pada satu bintang yang paling terang.
“Dia aman bersamaku, Samudra. Beristirahatlah dengan tenang,” batinnya berbisik dengan tulus.
Sebuah janji suci yang Bimantara kunci rapat untuk dijaga seumur hidupnya.