Aroma kertas tua yang khas dan hembusan sejuk AC menyelimuti sudut perpustakaan siang itu. Di balik meja kayu yang penuh tumpukan buku referensi, Ara masih terpaku. Jemarinya menari lincah di atas papan tik laptop, menciptakan bunyi ketukan yang berirama pelan. Sesekali, ia membetulkan letak kacamata yang merosot, matanya menyapu barisan catatan dengan dahi berkerut dalam. Ia begitu tenggelam dalam upaya merampungkan bab terakhir skripsinya, seolah dunianya kini hanya sebatas layar berukuran empat belas inci tersebut.
"Ara!"
Pekikan itu memecah keheningan. Beberapa mahasiswa di meja seberang mendongak serentak, memberikan tatapan menghakimi.
Ara tersentak hebat hingga bahunya menegang. Jemarinya membeku di atas tuts. Ia perlahan mendongak, menatap tajam ke arah Nia dengan kedua alis bertaut rapat. "Jangan berisik, Nia. Ini perpustakaan," bisiknya tajam sembari meletakkan jari telunjuk di depan bibir.
Nia segera menutup mulut dengan telapak tangan, bahunya terguncang menahan tawa yang tak sengaja meledak. "Hehe, sorry! Keceplosan," balasnya pelan sembari membungkuk kecil ke arah pengunjung lain. Ia kemudian menarik kursi dengan pelan agar tidak menimbulkan suara, lalu duduk merapat ke samping Ara.
Ara hanya memberikan anggukan tipis tanpa menoleh. Ia mencoba kembali menenggelamkan diri dalam tumpukan buku referensi, tangannya meraih pulpen dan mulai mencoret-coret pinggiran kertas revisinya. Namun, fokusnya seketika buyar, saat Nia meletakkan sebuah map cokelat tepat di atas draf bab empatnya yang sedang ia kerjakan.
Gerakan tangan Ara terhenti. Matanya menatap map itu, lalu beralih ke wajah Nia yang kini menopang dagu dengan binar mata penuh rahasia.
"Ini apa?" tanya Ara lirih, suaranya sedikit serak. Ia meraih ujung map itu, namun tidak segera membukanya.
Nia mencondongkan tubuh, membisikkan kata yang membuat udara di sekitar Ara terasa membeku. "Proposal taaruf."
Ara segera melepaskan pegangannya pada map itu. Ia bersandar pada sandaran kursi, mengembuskan napas panjang yang terdengar berat. Matanya kembali menatap layar laptop yang mendadak terlihat buram. Ia mencoba terlihat sibuk dengan menggeser kursor tanpa arah, memilih untuk membisu.
"Ra, please," pinta Nia. Lalu, ia menyentuh lengan Ara pelan. "Jangan seperti ini. Jangan menolak laki-laki yang berniat baik menghalalkanmu lagi."
"Aku tidak menolak," sanggah Ara cepat. Ia menoleh, menatap Nia dengan sorot mata tajam. "Hanya saja ... aku memang belum ingin memberikan jawaban."
"Itu sama saja, Ara! Menunda tanpa alasan yang jelas itu penolakan secara tidak langsung," ujar Nia setengah berbisik. "Kamu tahu sudah berapa banyak laki-laki baik yang datang? Tidak baik menolak pinangan laki-laki saleh tanpa alasan syar'i. Nanti kamu bisa jadi perawan tua!" ucapnya sembari menyenggol lengan Ara, mencoba mencairkan suasana dengan candaan yang sedikit menyindir.
Ara hanya memberikan senyuman tipis. Ia menggeleng pelan, lalu merapikan tatanan jilbabnya yang sebenarnya tidak berantakan. "Jodoh itu sudah diatur oleh Allah, Nia."
"Memang Allah sudah mengatur. Tapi kalau kamu menutup hati rapat-rapat, bagaimana jodoh itu bisa masuk?" balas Nia tulus.
Ara tidak menyahut. Ia kembali memegang pulpennya dengan sangat erat hingga buku jarinya memutih, berusaha menjaga agar jemarinya tidak gemetar di hadapan Nia.
"Kamu itu cantik, Ra. Saleh, berilmu ... lalu apa lagi hambatannya?" Nia menatap Ara lekat-lekat, mencoba membaca ekspresi sahabatnya itu. "Dia, kan?" tebaknya pelan, dan tepat sasaran.
Ujung pulpen Ara menggores kertas revisinya hingga robek. Ia segera menarik tangannya, menoleh dengan pandangan kesal. "Tidak! Aku menolak mereka bukan karena dia, Nia. Aku hanya ingin fokus menyelesaikan skripsiku dulu!"
"Alasan," desah Nia sembari menggelengkan kepala.
Ara hanya mengangguk pelan, berusaha meyakinkan sahabatnya itu.
Nia menghela napas panjang. Lalu, ia menyentuh map cokelat itu dengan ujung jarinya, menggesernya sedikit lebih dekat ke arah Ara. "Tapi, kamu serius tidak akan membacanya dulu? Siapa tahu, orang yang kamu tunggu selama ini adalah orang yang mengajukan proposal ini, Ra."
Ara mendadak bangkit, menimbulkan suara gesekan kursi yang cukup keras. Ia menyambar map cokelat itu dan memasukkannya asal ke dalam tas bersama buku-bukunya. "Terima kasih, Nia. Aku pamit dulu. Assalamualaikum."
Tanpa menunggu balasan, Ara melangkah cepat, nyaris berlari meninggalkan perpustakaan.
"Ara!" teriak Nia kesal, namun hanya bisa tertahan di tenggorokan. Wajahnya memerah menahan geregetan melihat punggung sahabatnya yang menghilang di balik pintu kaca dengan langkah yang tampak terburu-buru.
Ara melangkah tergesa meninggalkan pelataran perpustakaan. Dekapan tangannya pada map cokelat di dada begitu erat, seolah takut isinya akan terbang terbawa angin. Langkahnya baru melambat saat aroma aspal dan bising kendaraan di halte bus menyapa indranya. Di sana, di tengah hiruk-pikuk kota, rasa penasaran mulai menggerogoti logika yang sedari tadi ia pertahankan.
Dengan jemari yang sedikit bergetar, Ara membuka kancing map itu dengan hati-hati. Ia menarik selembar kertas biodata yang masih baru.
"Daniel Farhan," gumam Ara lirih.
Ia terpaku. Nama itu terdengar aneh di telinganya, memicu debar yang tak biasa. Ara memejamkan mata sejenak, mencoba menggali tumpukan memori di kepalanya yang terasa berdebu.
"Ketua BEM?" pekik Ara spontan. Ia segera membekap mulutnya sendiri saat menyadari beberapa orang di halte menoleh dengan tatapan terheran-heran. Wajah Ara memucat. Ia kembali menelusuri baris demi baris informasi di kertas itu dengan napas tertahan.
"Ibu Soraya dan Bapak Farhan? Aku pernah mendengar nama ini, tapi di mana?" bisik Ara pelan.
Menyadari bus itu sudah berhenti tepat di depannya. Ara segera naik dan memilih kursi paling belakang, menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi yang dingin sembari membiarkan jantungnya berdegup tak beraturan.
Setibanya di rumah, Ara mendapati kedua orang tuanya sedang bersantai. Ia menghampiri Fuina dan Ari, menyalami mereka dengan takzim sebelum duduk dengan bahu yang tampak letih.
"Ra, malam ini ikut Bunda dan Ayah ke rumah sahabat Ayah, ya," ucap Fuina, memecah keheningan.
"Mau apa, Bun?" tanya Ara sembari menjatuhkan diri di sebelah sang bunda, mencari posisi nyaman.
"Mau mengenalkanmu kepada Tante Aya. Kamu sudah lama tidak bertemu dengannya, sejak kecil lho. Masih ingat tidak sama Tante Aya?"
Ara terdiam, jemarinya memilin ujung jilbabnya. "Tante Aya? Yang mana, Bun? Ara lupa."
"Itu lho, Sayang. Beliau itu bidan yang membantu Bunda waktu melahirkan kamu dulu," jelas Fuina sembari mengelus pundak putrinya.
Ara mencoba memancing ingatan itu muncul, namun nihil. "Tetap tidak ingat, Bun," jawabnya sambil menggelengkan kepala pelan.
"Sudah, Bun. Nanti kalau sudah bertemu, kepingan ingatannya pasti kembali sendiri," sela Ari dengan senyum menenangkan.
"Baiklah. Kamu siap-siap, gih!" perintah Fuina.
"Bun, boleh tidak kalau aku tidak ikut?" Ara memasang wajah memelas, berharap ada celah untuk negosiasi.
"Tidak bisa. Kamu harus ikut," tolak Fuina tegas, menutup segala negosiasi dari putrinya.
Ara hanya bisa menghela napas pasrah. Ia bangkit dan menyeret langkahnya menuju kamar dengan bahu yang merosot.
Malam tiba. Di depan cermin, Ara menatap pantulan dirinya. Ia mengenakan blus krem yang jatuh dengan apik, dipadukan dengan kardigan berwarna peach yang lembut. Jilbabnya yang senada membingkai wajahnya yang tampak sedikit gelisah. Sederhana, namun tetap elegan.
Mereka bertiga kemudian meluncur menuju sebuah hunian dengan arsitektur klasik yang menawan. Di depan pintu kayu jati yang kokoh, seorang wanita paruh baya dengan senyum hangat sudah berdiri menyambut.
"Assalamu’alaikum," sapa Fuina ceria.
"Waalaikumsalam. Bagaimana kabarmu, Ina?" Wanita itu—Soraya—merengkuh Fuina dalam pelukan hangat yang akrab.
"Alhamdulillah, baik, Aya. Kalau kamu sendiri bagaimana?"
"Alhamdulillah, baik juga." Soraya melepaskan pelukannya, lalu beralih menyapa ayah Ara. "Mas Ari, bagaimana kabarnya?"
"Alhamdulillah, baik. Di mana suamimu, Aya?" tanya Ari sembari melongok tipis ke dalam rumah.
"Ada di dalam, Mas. Ayo masuk, jangan berdiri di depan pintu saja," ajak Soraya ramah sembari mempersilakan tamu-tamunya melangkah masuk ke ruang tamu yang harum aromaterapi.
"Maaf ya kalau kami merepotkan malam-malam begini," ujar Fuina berbasa-basi saat mereka duduk di sofa beludru yang nyaman.
"Sama sekali tidak, Ina. Kami justru senang kalian datang. Oh iya, Ara di mana?" tanya Soraya saat menyadari kursi di sebelah Fuina masih kosong.
"Ara sedang mengangkat telepon di depan. Katanya ada urusan penting dari kampusnya. Sebentar lagi juga masuk, kok," jawab Fuina tenang.
Di luar rumah, di bawah pendar lampu teras yang temaram, Ara menjauh dari keramaian untuk mengangkat telepon.
"Ada apa, Bu Tia?" tanya Ara sedikit cemas.
"Begini, Ara. Salah satu desainer Italia sedang membuka perlombaan desain untuk mewakili fashion mereka di ajang bergengsi Bloomy Fashion Week. Kamu hanya perlu mengirimkan rancangan terbaikmu kepada Ibu. Ibu yang akan menyerahkannya langsung ke sana."
"Tapi, Bu," sela Ara ragu. Jemarinya meremas ujung jilbab dengan gelisah, matanya menatap ujung sepatunya. "Sketsa saya masih banyak kekurangan. Saya merasa belum ada yang layak untuk ajang sebesar itu."
"Tidak, Ara. Rancanganmu itu luar biasa. Detailnya menakjubkan. Ibu yakin kamu bisa terpilih tanpa perlu koneksi Ibu sekali pun. Percayalah pada bakatmu."
"Kapan batas waktunya, Bu?"
"Minggu depan. Ibu tahu kemampuanmu, Ara. Good job. Jika kamu siap, kita akan berangkat ke Italia. Wassalamu’alaikum."
"Waalaikumussalam," jawab Ara lirih, nyaris tak percaya.
Ara termenung sesaat, mencerna setiap kata dosennya. Detik berikutnya, wajahnya berseri-seri. Ia melompat-lompat kecil di tempat, menahan teriakan kegirangan agar tidak terdengar hingga ke dalam rumah.
"Yes! Terima kasih, ya Allah! Akhirnya, Bloomy Fashion Week!" gumamnya kegirangan.
Saat Ara kegirangan itu, ia sama sekali tidak menyadari bahwa seseorang sedang memperhatikannya dari balik pagar, menahan senyum melihat tingkah spontannya.
Ara segera berdehem, mencoba menenangkan debar jantungnya yang menggila. "Sudah, Ara. Jangan seperti orang gila. Masuk sekarang." Ia merapikan kardigannya sebelum melangkah masuk.
Di ruang tamu, ia melihat kedua orang tuanya sudah bercengkerama akrab dengan Tante Soraya.
"Assalamu’alaikum," sapa Ara lembut saat memasuki ruangan.
"Waalaikumussalam." Soraya menoleh dan matanya seketika berbinar. "Ya ampun, kamu cantik sekali, Ara!"
Tanpa menunggu, Soraya bangkit dan merengkuh Ara dalam pelukan hangat.
"Terima kasih, Tante," balas Ara sembari tersenyum tulus.
"Kamu masih ingat Tante, kan? Atau jangan-jangan sudah benar-benar lupa?" tanya Soraya setelah melepas pelukannya.
Ara menggaruk kepalanya yang tidak gatal, merasa sedikit tidak enak. "Hehe. Maaf, Tante, Ara agak lupa."
"Sini, duduk dekat Tante," Soraya menarik tangan Ara lembut menuju sofa. "Tante punya anak laki-laki namanya Daniel. Dulu dia itu gendut, cengeng, dan suka sekali meledekmu pendek. Waktu dia harus pindah dulu, kamu menangis tersedu-sedu karena tidak mau Daniel pergi."
Ara terdiam. Ia memejamkan mata sejenak, mencoba menggali memori lama yang terkubur dalam-dalam. Secara samar, bayangan seorang bocah laki-laki berpipi tembam dengan tawa khas mulai muncul di benaknya.
Mata Ara membelalak terkejut. "Tante Aya! Wah, Ara kangen banget!" Ara kembali memeluk Soraya, kali ini dengan perasaan haru yang meluap karena ingatan masa kecilnya telah kembali.
"Tante juga kangen sekali denganmu, Sayang."
Ara melepaskan pelukan itu dengan wajah ceria yang kini sedikit memerah. "Om Farhan mana, Tante?"
"Ada di taman belakang bersama ayahmu," tunjuk Soraya ke arah pintu kaca. "Sana, susul mereka."
"Siap, Tante!"
Ara melangkah menuju taman belakang yang asri, di mana aroma tanah basah dan pucuk bunga melati menyambutnya. Di bawah naungan pohon rindang yang diterangi lampu taman kekuningan, ia mendapati dua pria paruh baya sedang duduk santai sembari berbincang serius.
"Om Farhan!" panggil Ara riang, suaranya membelah keheningan malam.
Farhan tersentak pelan, lalu menoleh. Senyumnya langsung mengembang lebar saat mendapati seorang gadis dengan binar mata jenaka berdiri di hadapannya.
"Ara?" tanya Farhan semringah, wajahnya tampak jauh lebih muda saat tersenyum.
"Ara kangen sekali sama Om!" ucap Ara senang.
Tanpa ragu, Ara menghambur dan memeluk Farhan dengan akrab, seolah waktu tujuh tahun tak pernah ada.
"Ya ampun, ternyata putrimu tidak berubah sama sekali, Ari," ucap Farhan sembari melirik Ari yang sedang terkekeh bangga melihat tingkah manja putrinya.
"Ara, lepaskan pelukannya. Kasihan Om Farhan sampai sesak begitu," sela Ari dengan nada jenaka.
"Hehe, maaf, Ayah." Ara segera melepaskan pelukannya dan duduk di kursi rotan kosong, tepat di hadapan kedua pria itu.
"Duh, kamu tumbuh jadi gadis yang cantik sekali, Ra," puji Farhan tulus sembari menepuk puncak kepala Ara dengan sayang.
"Terima kasih, Om. Oh iya, Om ..." Ara berdehem kecil, mencoba menyembunyikan rasa penasaran yang mulai menggelitik hatinya. "Daniel ada di rumah, tidak?"
"Sedang keluar sebentar, Ra. Katanya ada sesuatu yang harus dibeli," jawab Farhan kalem.
"Yah... Padahal Ara ingin sekali melihatnya. Ara penasaran, apa penampilannya masih sama seperti tujuh tahun lalu? Yang gendut dan mirip Boboho itu?"
Ara mengernyit heran saat melihat Ayahnya dan Om Farhan justru tertawa terbahak-bahak hingga bahu mereka terguncang hebat.
"Lho, kok malah tertawa?" tanya Ara kebingungan.
"Kamu lucu sekali, Ra. Ayah yakin, kamu pasti akan terpesona saat melihatnya nanti," ucap Ari sembari memegangi perutnya yang mulai terasa kram.
"Terpesona bagaimana? Ara masih dendam sama dia. Dasar gendut menyebalkan," tukas Ara sembari mengerucutkan bibirnya. Ia kemudian meraih cangkir teh di depannya, menyesapnya perlahan untuk menutupi rasa kesal yang kekanak-kanakan itu.
"Ekhm... Gadis cengeng, tolong sadar diri sedikit."
Suara berat dan dingin itu terdengar begitu dekat. Ara tersentak hebat. Byur! Ia tersedak dan spontan menyemburkan tehnya saat mendapati seorang pria kini sudah duduk dengan tenang di hadapannya.
"Lho, Kak Daniel? Kok di sini?" tanya Ara dengan mata membelalak, napasnya tersengal karena tersedak.
"Ini rumahku," jawab laki-laki itu—Daniel Farhan. Ia menatap Ara dengan ekspresi datar yang amat menyebalkan.
"Rumah Kakak? Dia siapa, Om?" Ara beralih menatap Om Farhan dengan tatapan memohon penjelasan yang masuk akal.
Farhan menahan senyum geli melihat wajah panik Ara. "Itu cowok gendut yang kamu bilang mirip Boboho tadi, Ra."
Gendut? Boboho?
"Hah? Daniel?!" teriak Ara nyaris histeris. Ia menatap sosok atletis, berwibawa, dan berwajah kaku yang kini ada di depannya.
Daniel Farhan?
Sang Ketua BEM yang paling ditakuti di kampus?
"Sepertinya kalian sudah saling kenal," ucap Ari dengan binar mata jenaka yang semakin menjadi-jadi.
"Dia Ketua BEM di kampus Ara, Ayah," jawab Ara sembari melemparkan tatapan tajam pada Daniel yang tetap tak bergeming.
"Yang menyebalkan itu?" pancing Ari.
"Iya!" jawab Ara semangat.
"Yang sering membentakmu?" tanya Ari sembari menahan senyumnya.
"Iya!" jawab Ara lagi sambil menganggukkan kepalanya.
"Yang memberikan proposal taaruf padamu?" tebak Ari.
"Iya!" jawab Ara sambil menepuk tangannya dan mengacungkan jari telunjukmya ke arah ayahnya.
Ara seketika membeku. Detik berikutnya, ia menyadari apa yang baru saja ia akui. Matanya membulat sempurna menatap sang Ayah. "Kok ... Ayah tahu?!"
"Kamu meninggalkan map cokelat itu di atas meja ruang tahu, Ara," jawab Ari dengan senyum kemenangan.
"Ternyata sifat pikunnya tidak pernah berubah," sindir Daniel dengan nada tenang.
Ara menatap tajam Danie. "Kakak gila!"
"Language, Sayang," Alam mengingatkan dengan nada tegas, namun lembut.
"Bagaimana? Anak Om sekarang masih sama seperti dulu, atau sudah berubah jadi lebih tampan?" tanya Farhan sembari mengerling menggoda.
"Tampan dari mana? Muka kaku seperti papan cucian begitu dibilang tampan," sahut Ara cepat, meski pipinya kini mulai terasa panas.
Ara terdiam sejenak. Ia menyadari ada sesuatu yang direncanakan. Ia menatap Ayah dan Om Farhan secara bergantian. "Aku tahu pasti ada maksud lain. Jadi, Ayah, tolong beritahu Ara. Ada apa sebenarnya?"
"Tadinya, Ayah dan Om Farhan memang berniat menjodohkan kalian," jelas Ari, matanya kini memancarkan kehangatan seorang ayah. "Tapi, karena Daniel sudah melamarmu secara jantan melalui proposal itu, peran kami rasanya tidak begitu penting lagi. Ayah hanya ingin mempertemukanmu dengan si pengirim map cokelat itu. Itu saja."
Suasana mendadak hening. Wajah Ara memerah padam, antara malu yang luar biasa dan rasa kesal yang meluap hingga ke ubun-ubun. Tanpa aba-aba, ia langsung bangkit dari kursinya.
"Ara pamit pulang, Ayah!" ucapnya sambil berlalu pergi.
Tanpa menunggu jawaban, Ara menyambar tasnya dan berjalan cepat meninggalkan taman, mengabaikan ketiga laki-laki yang hanya bisa menatap punggungnya dengan ekspresi beragam.
"Anak itu," gumam Ari sembari menggelengkan kepala, merasa gemas dengan tingkah putrinya.
Daniel beranjak dari tempat duduknya dengan cepat. "Tidak apa-apa, Om. Biar aku yang menyusulnya," ucapnya mantap. Tanpa menunggu balasan, ia segera bergegas keluar, membelah udara malam untuk mengejar langkah Ara yang sudah jauh di depan.
Di depan rumah, Ara berdiri mematung sembari terus menatap ujung jalan, berharap taksi segera muncul.
Daniel memperlambat larinya saat sudah berada beberapa meter di belakang gadis itu. Ia melangkah perlahan, seolah takut suaranya akan membuat Ara terbang menjauh, lalu duduk di sampingnya. Daniel mengatur napasnya yang tersengal, dadanya naik-turun dengan tidak teratur.
Ara hanya melirik sekilas, lalu kembali membuang muka, seolah-olah ia hanya sendirian di halte itu.
"Kakak minta maaf karena tidak langsung memberitahumu," Daniel memulai pembicaraan. Suaranya rendah, sedikit bergetar menahan beban di dadanya. "Hanya saja, Kakak takut. Kakak takut akan meninggalkanmu lagi seperti dulu. Takut jika sekali lagi, Kakak menjadi alasan air matamu jatuh, Ra."
Daniel menghela napas panjang, matanya menatap mobil-mobil yang berlalu-lalang dengan pandangan kosong. "Saat pertama kali melihatmu di kampus, Kakak ingin sekali menghampirimu dan berkata kalau aku ini Daniel—bocah yang kamu kenal sejak kecil. Tapi, Kakak tidak berani. Kakak tidak ingin kedekatan kita menjadi bahan pembicaraan, apalagi kampus terkenal dengan islami, dan pasti akan menimbulkan segala gosip dan fitnah yang tidak-tidak. Bahkan sekarang pun, Kakak tahu kita sedang diawasi,"
Daniel melirik ke arah jendela rumah, tempat Ari sedang berdiri memperhatikan mereka dengan tangan bersedekap. Ara ikut menoleh, lalu kembali menunduk, meremas ujung kardigan peach-nya.
"Tujuh tahun," lanjut Daniel getir. "Kakak mencarimu ke mana-mana, namun hasilnya nihil. Kakak bahkan mencari akun media sosialmu setiap malam, tapi tetap tidak ditemukan. Sampai akhirnya, Allah menuntun langkahmu ke kampus yang sama. Mungkin saja, ini adalah jawaban atas doa-doa panjang Kakak untuk bertemu denganmu lagi."
Daniel memiringkan badannya, menghadap Ara sepenuhnya. Tangannya sempat terulur, ingin sekali menyentuh tangan gadis itu untuk menenangkan, namun ia menariknya kembali dengan ragu. "Kakak sadar, cara Kakak mencari perhatianmu selama ini salah. Kakak terlalu pengecut untuk berterus terang dan malah menunjukkan sikap yang menyebalkan. Sangat jauh berbeda dengan laki-laki lain yang datang mengajakmu taaruf secara jantan."
Ara menundukkan kepala semakin dalam, memainkan jemarinya dengan gelisah. "Kakak menyebalkan," gumamnya lirih.
"Aku tahu," balas Daniel singkat.
"Kakak jahat."
"Aku tahu," jawabnya lagi.
"Kakak pengecut."
"Aku jauh lebih tahu itu," bisik Daniel dengan nada penuh penyesalan.
Setetes air mata jatuh dari pelupuk mata Ara, terserap dengan cepat oleh kain jilbabnya. Bahunya mulai bergetar halus. "Tapi, kenapa perasaan ini tidak pernah hilang walau tujuh tahun telah berlalu?" tanyanya dengan suara parau.
Daniel tersentak, matanya membelalak heran. "Maksudnya, Ra?"
"Tujuh tahun aku menunggu seseorang yang selalu ada saat aku masih ingusan. Seseorang yang paling mengerti aku. Entah kenapa, meskipun dia pergi, aku tidak bisa menghapus namanya dari kepalaku. Aku selalu berdoa agar bisa melihatnya kembali."
Ara mengangkat wajahnya yang sudah basah, menatap Daniel dengan mata sembap yang memerah. "Tapi, tak disangka, seseorang yang aku sebut dalam setiap doa ternyata ada di sampingku dengan cara yang begitu menyebalkan. Aku tidak tahu harus berterima kasih pada takdir, atau justru merasa kesal sekarang."
Ia membuang pandangannya lagi, berusaha menenangkan debar jantungnya. "Tapi Kak, jika saja Kakak mengaku dari dulu, mungkin saat ini aku sudah menerima lamaran Kakak."
"Jadi ... kamu menolak lamaran Kakak?" tanya Daniel dengan raut wajah yang mendadak pucat.
"Aku kan belum memberikan jawaban," sahut Ara pendek.
"Asal kamu tahu, Ra. Aku mencintaimu," ucap Daniel dengan nada yang begitu tulus hingga Ara bisa merasakan keseriusannya.
"Aku tahu."
"Jadi, bagaimana jawabannya?" tanya Daniel lagi, kini penuh harap.
Ara menunduk, suaranya nyaris hilang. "Aku ... a-aku tidak bisa, Kak. Minggu depan aku harus berangkat ke Italia bersama Bu Tia selama empat bulan untuk ajang Bloomy Fashion Week."
"Aku akan menunggumu," sela Daniel tanpa ragu sedikit pun.
"Tapi ..."
"Hanya empat bulan, Ara. Bukan bertahun-tahun lagi. Aku tidak akan membiarkanmu hilang lagi dari jangkauan mataku."
"Aku takut."
"Jangan takut. Sejauh apa pun jarak memisahkan, jika namamu sudah tertulis di Lauhulmahfuz untukku, aku bisa apa selain menantimu?" Daniel menatap Ara lekat, seolah memberikan seluruh kekuatannya melalui tatapan itu.
Ara mendongak, menemukan ketulusan yang tak tergoyahkan di mata Daniel. "Baiklah," bisiknya.
"Apanya?" tanya Daniel dengan kepastian.
"Aku menerima lamaran Kakak," jawab Ara cepat. Sebelum Daniel sempat membalas, Ara segera bangkit dan berlari kecil menuju teras rumah tempat Bunda Fuina berdiri.
Daniel mematung di halte. Butuh waktu beberapa detik bagi otaknya untuk mencerna bahwa penantian tujuh tahunnya telah berakhir. Saat kesadaran itu datang, sebuah senyum lebar yang tak pernah ia tunjukkan pada siapa pun di kampus akhirnya terukir. Ia segera menyusul Ara dengan langkah ringan penuh kemenangan.
"Tante, aku ingin menikahi Ara secepatnya!" ucap Daniel dengan lantang begitu sampai di hadapan Fuina, mengabaikan rasa malunya.
"Eh? Kok? Serius?" Fuina terperanjat, matanya membesar menatap Daniel lalu beralih ke Ara.
"Iya, Tante. Aku minta restu Tante sekarang juga."
"Lalu Ara? Kamu benar sudah menerimanya?" tanya Fuina pada putrinya yang kini bersembunyi di balik pundaknya karena malu.
"Sudah, Tante," sahut Daniel cepat, senyumnya semakin lebar.
Fuina menarik napas panjang, wajahnya mendadak cerah seolah baru saja memenangkan lotre. Ia kemudian berbalik dan berteriak sekuat tenaga hingga terdengar ke seantero rumah.
"MAS! ANAK KITA AKHIRNYA NIKAH JUGA!"
Wanita itu langsung berlari ke dalam mencari suaminya dengan penuh semangat. Ara, Daniel, dan Om Farhan yang baru saja keluar hanya bisa tertawa lepas melihat tingkah Fuina yang meledak-ledak di bawah sejuknya langit malam yang begitu indah.