Should I Love You, Rud?

"Permisi. Maaf, Mbak, ini kosong?" tanya Rudi.

"Ohh, kosong, Mas, kosong," jawab Sheila sambil memindahkan tasnya dari kursi itu ke pangkuannya.

"Oke, Mbak. Saya izin duduk sini, ya." balas Rudi tersenyum.

"Oh, iya, silakan, Mas, mangga, " balas Sheila lagi.

Rudi lalu membalas senyum Sheila dan duduk di samping Sheila, yang dekat dengan koridor gerbong.

Kereta pun mulai melaju.

"Rudi," Rudi tersenyum mengulurkan tangannya, mencoba memperkenalkan dirinya dengan ramah.

"Oya, aku Sheila. Salam kenal juga." balas Sheila ramah. 

Sheila siang ini sebenarnya sedang malas berbasa-basi dengan seorang asing di kereta. Apalagi ia baru saja patah hati, ditinggal kekasihnya menikah dengan sahabatnya sendiri, sahabat Sheila. Barusan pun ia berbohong dengan Rudi. Sejujurnya, ia bukan hendak mengunjungi temannya di Bandung, tetapi ia tak tahu hendak ke mana. Ia ... cuma ingin lari, ingin kabur sejenak dari Jakarta, tempat yang baru saja memberinya luka. 

"Ehm ... Masnya ... kuliah, ya? Di mana?" Sheila mulai penasaran setelah sekilas ia melihat jaket Rudi berinisial "M".

"Ooh. Ini ... di Inggris, Mba, Manchester. Kampus lagi libur musim panas. Jadi, pulang aja dulu ke Indonesia. Rumahku di DU, Dipati Ukur."

"Wah, di kampus mana?" Sheila mulai tak sabaran.

"University of Manchester, jurusan fisika,"

"Serius, Mas?! Hebat!"

"Ah, ngga kok, Mba, biasa aja, hehee,"

"Ngga, it's cool! Karna ... aku tuh, sebenernya, ga suka fisika, banget, beneran," jelas Sheila berapi-api.

"Aah, serius, Mbak? Mungkin ... kamu belum ketemu orang yang tepat untuk mengenalkan fisika dengan cara-cara yang asik dan menyenangkan," ucap Rudi berbinar mulai menyukai perbincangannya dengan Sheila.

"Hmm ... ya kali ya, hehee. Eh, kita panggil nama aja, gimana? Biar cair gitu, ehee."

"Boleh banget, tuh, La," Rudi sepakat dengannya.

Sheila heran kenapa ia bisa dengan mudahnya berakrab-akrab dengan seorang asing yang baru dikenalnya, di kereta pula, tempat di mana ia mestinya tertidur saja, memakai earphone, seperti kebanyakan orang, dan pura-pura tidak mempedulikan apa-apa. 

Namun, ini beda, bisik Sheila dalam hatinya. Ada sesuatu harapan di dalam diri Rudi. Menurutnya, ketimbang ia terus bersedih karena patah hati, lebih baik ia "bereksperimen", sedikit ambil risiko pikirnya: berbincang dengan orang asing. Toh, ia juga tidak tau ke Bandung mau apa. Namun, yang terpenting, Rudi memberinya kehangatan dan kenyamanan baru, yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Mereka pun saling bertukar topik dari seputar aktivitas kuliah, hobi, makanan minuman favorit, hingga buku-buku dan film kesukaan mereka. 

"Ooh, jadi, kamu itu anak sastra, ya? Pantesan, ehehe."

"Pantesan?"

"Pantesan ada buku-buku sastra di situ," tunjuk Rudi ke arah meja.

Sheila lambat laun merasakan suatu kegembiraan yang positif bersama Rudi. Berbincang dengannya membuat wawasan dan cakrawala Sheila bertambah dan meluas. Kadang, ia menjadi lebih rileks, lebih aktif berpikir, dan merasa lebih hidup dari yang sebelumnya.

"Ooh, ternyata ... indah banget, ya, fisika. Dari hal sekecil elektron bisa bikin manusia sesempurna ini dan hidup berdampingan bersama alam asalkan kita punya ilmunya, dan mampu mengoptimalkan apapun yang udah Tuhan berikan ke kita,"

"Ya, begitulah," Rudi tersenyum manis.

"Ah. Should I love you, Rud?" hatinya berbisik.

"Maybe ... someday." hatinya pun menjawab.

Mereka pun bertukar nomor telepon.

5 disukai 2.2K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction