Di sudut sebuah kafe yang dipenuhi aroma pekat biji kopi panggang dan mentega dari croissant hangat, Aira mematung sendirian. Cahaya jingga matahari sore menerobos masuk melalui jendela kaca besar, menyinari cangkir cappuccino yang kini tak lagi mengepul. Blus krem yang ia kenakan tampak menyatu sempurna dengan estetika kayu kafe, namun raut wajahnya menghancurkan segala keharmonisan itu. Ujung jemarinya mengetuk meja dengan ritme cepat dan keras, menciptakan bunyi tuk-tuk ditrngah bisingnya obrolan pengunjung lain. Dua jam menunggu sudah lebih dari cukup untuk membakar habis sisa-sisa kesabarannya.
Keheningan itu mendadak buyar saat sebuah kursi di hadapannya ditarik kasar. Suara decit kaki kursi yang beradu dengan lantai membuat beberapa orang menoleh. Ello muncul di sana, menghempaskan tubuh dengan napas yang memburu dan jaket denim yang tampak kusut.
"Maaf, aku telat," ucap Ello sambil berusaha mengatur napasnya.
"Sudah jadi kebiasaan, ya?" tanya Aira akhirnya dengan suara rendah yang menusuk. "Sesibuk apa sih kamu sampai telat lagi? Padahal hari ini kamu sedang libur kerja." Ucapnya sambil menyilangkan tangannya di dada.
"Ya ampun, Bey. Aku minta maaf, ya," Ello memajukan duduknya, memasang wajah memelas yang biasanya selalu berhasil meluluhkan hati Aira. "Tadi aku harus mengantar Mama ke acara arisan dulu."
"Arisan?" Aira menyipitkan mata, mencondongkan tubuhnya ke depan. "Dua jam untuk mengantar arisan? Sejauh apa memangnya jarak rumahmu ke sana?"
"Namanya juga jalanan macet, Sayang. Tolonglah, mengerti sedikit," pinta Ello dengan nada yang mulai merengek.
Raut wajah Aira perlahan berubah. Amarahnya yang meluap tadi kini berganti menjadi gurat kelelahan. Ia bersandar ke kursi dan membuang muka. "Aku capek selalu harus mengerti kamu, El. Sedangkan kamu? Kamu tidak pernah mencoba mengerti posisiku. Selalu aku yang mengalah."
Ello menghela napas panjang sambil memejamkan mata, mencoba menahan diri agar tidak ikut terpancing emosi. Ia baru saja hendak membuka mulut untuk membela diri, ketika sebuah suara tiba-tiba menyela dari samping.
"Sudah, cukup marahnya, Aira. Kasihan Ello, mukanya sudah mau menangis begitu," ujar seseorang yang tiba-tiba berdiri di samping meja mereka. Pria itu menyilangkan tangan di dada dengan senyum jenaka yang menghiasi wajahnya.
"Enak saja kau, Arta!" sanggah Ello cepat, wajahnya kini tampak semakin kusut karena kedatangan temannya itu di waktu yang tidak tepat.
Arta hanya melempar senyum tipis. Tanpa ragu, ia memutari meja dan menarik kursi tepat di samping Aira. Ia menatap Aira dengan lembut.
"Hei, Mungil," panggil Arta lembut. "Masa hanya karena Ello telat lagi kamu marahnya sampai begini? Jangan seperti anak kecil, ah." Arta menasihati, namun nadanya terdengar sangat menenangkan, jauh dari kesan menghakimi.
"Ta, dia sudah terlalu sering begini. Aku bahkan curiga..." Aira menggantung kalimatnya, suaranya bergetar antara amarah dan rasa takut. "Aku curiga dia selingkuh di belakangku." Ujarnya sambil menatap Arta dalam.
Arta menggeleng pelan. "Hush, tidak boleh menuduh kalau belum ada bukti. Tapi..." Arta melirik Ello dengan tatapan yang mendadak tajam. "Kalau memang itu faktanya, siap-siap saja, El. Aku sendiri yang akan menghajarmu sampai gigimu rontok." Ucapnya sambil tersenyum misterius.
"Ya ampun, Sayang. Aku tidak mungkin selingkuh darimu. Serius," sahut Ello cepat, wajahnya memucat mendengar ancaman Arta. "Tadi itu murni karena aku mengantar Mama."
Aira kembali menatap Arta, mencari keyakinan yang masih membelenggu hatinya. Arta membalas tatapan itu dengan anggukan kecil. Akhirnya, Aira menghela napas panjang, bahunya merosot sebagai tanda menyerah.
"Baiklah," ucap Aira pasrah.
Ello mengembuskan napas lega, senyumnya kembali mengembang saat ia meletakkan tangannya di atas meja.
"Tapi ingat," Aira memotong dengan tatapan sedingin es, "kalau suatu saat itu benar-benar terjadi, kamu harus pergi menjauh dan jangan pernah berani menampakkan diri lagi di hadapanku."
"Aku janji, Aira," jawab Ello sungguh-sungguh. Ia segera meraih dan menggenggam erat tangan Aira, berusaha menyalurkan ketulusan yang ia miliki.
Arta tertawa kecil lalu menepuk puncak kepala Aira dengan gemas. "Nah, begitu dong. Itu baru namanya sahabatku."
"Ish, lepas!" Aira menepis tangan Arta sambil merengut. "Kamu tidak lihat? Fans-fansmu di pojok sana sudah menatapku seperti ingin menelan hidup-hidup," tunjuknya lewat lirikan mata ke arah sekelompok pengunjung wanita di sudut kafe.
Arta hanya mengangkat bahu acuh, sama sekali tidak peduli pada tatapan iri para pelanggannya.
"Karena urusan pemadaman api sudah selesai," Arta berdiri dari kursi, "aku harus kembali bekerja. Tugas melerai orang bertengkar sudah beres, sekarang waktunya meracik kopi."
"Kamu kan pemilik kafe ini, Ta. Kenapa harus repot turun tangan sendiri? Kan, sudah ada barista dan pelayan yang lain," komentar Aira heran.
Arta menoleh, menyunggingkan senyum sombong yang khas ke arah Aira. "Karena kopi racikanku jauh lebih enak, Aira. Kamu tahu sendiri, kan? Sebagian besar pengunjung datang ke sini demi kopiku, bukan karena barista yang lain."
"Dih, percaya diri sekali," cibir Aira sambil mencibirkan bibir.
Arta tertawa kecil, lalu melangkah menuju area bar yang mulai padat. Di sela kesibukannya menyiapkan pesanan, Arta sesekali melirik ke arah meja Aira. Ia tersenyum tipis, sebuah senyum penuh makna seolah sedang memastikan bahwa Aira tetap berada di sana dan di dalam jangkauan pandangannya.
Belum sempat Arta menyentuh cangkir kosong di hadapannya, sebuah suara yang sangat ia kenali memecah konsentrasinya.
"Arta, Cappuccino satu lagi, ya," pinta Aira. Perempuan itu entah sejak kapan sudah berdiri di depan meja bar.
Arta mendongak, alisnya bertaut. "Lho, kok sudah di sini? Ello mana?"
"Ello sudah pulang, katanya ada urusan mendadak. Tapi nanti malam kami mau nonton. Kamu mau ikut tidak?" tawar Aira santai.
"Tidak. Aku tidak mau jadi obat nyamuk di antara kalian," tolak Arta tegas tanpa ragu.
"Baiklah kalau tidak mau. Jadi, Arta sayang... aku mau Cappuccino satu lagi," pinta Aira lagi, kali ini dengan wajah memelas yang dibuat-buat.
Arta menyilangkan tangan di dada, menggeleng mantap. "Tidak boleh. Nanti kalau penyakit maag-mu kambuh bagaimana?"
"Tinggal minum obat, beres," jawab Aira enteng.
Arta mendekat, lalu dengan gemas menyentil kening Aira. Tidak keras, tapi cukup untuk membuat perempuan itu mengaduh.
"Aduh! Sakit, tahu!" Aira mengelus keningnya yang memerah.
"Makanya jangan sembarangan. Kamu itu harus bisa jaga kesehatan. Minimal jangan telat sarapan dan berhenti minum kopi berlebihan! Kalau kamu sakit, aku yang repot," keluh Arta dengan nada ketus yang dibuat-buat.
"Pelit," cibir Aira sambil memanyunkan bibirnya.
"Kalian ini sudah seperti suami istri saja, tiap hari bertengkar terus. Kalian pacaran, ya?" tanya seorang pengunjung wanita yang sedari tadi asyik memperhatikan interaksi mereka.
"Iya!" jawab Aira cepat.
"Tidak!" sahut Arta di saat yang bersamaan.
Keheningan singkat menyelimuti bar. Aira menoleh ke arah Arta dengan wajah heran. "Kok jawabnya tidak, sih?"
"Lalu, kenapa kamu jawab iya? Ello tidak dianggap?" Arta balik bertanya, menatap Aira dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Ya, dianggap, sih. Maksudku... supaya kamu tidak kelihatan jomlo-jomlo banget," Aira terkikik geli. "Lagian, kamu itu ganteng, tinggi, mapan, dan punya kafe sendiri. Kok betah sekali menjomlo? Banyak lho, wanita yang mengantre untukmu!" Aira memandangi Arta dari ujung kaki hingga kepala, seolah sedang menilai barang dagangan.
"Aku tidak mau," tolak Arta singkat. Senyum jenaka yang tadi menghiasi wajahnya mendadak sirna.
"Aku hanya menginginkanmu, Aira", bisik Arta dalam hati. Tatapannya tertuju lurus pada manik mata Aira, menyiratkan keseriusan mendalam yang tak mampu ia suarakan.
"Dasar tidak punya hati. Ya sudah, aku pulang dulu kalau begitu. Mau bersiap-siap kencan dengan Ello. Dadah, Arta!" Aira melambaikan tangan, lalu melangkah pergi meninggalkan kafe dengan suasana hati yang jauh lebih ringan.
Arta terpaku menatap punggung Aira yang perlahan menghilang di balik pintu.
"Aku tahu. Kamu menyukainya, kan?" tanya pengunjung tadi—Monica, pelanggan tetap yang sudah hafal dengan tingkah laku sang pemilik kafe.
Arta hanya tersenyum tipis menanggapi pertanyaan Monica. Sebuah senyum yang menyimpan ribuan rahasia dan penantian yang belum menemukan ujungnya.
Malam tiba. Aira duduk di sebuah kafe di dalam mal, matanya tak lepas menatap pintu masuk dengan gelisah. Rencananya, ia dan Ello akan menonton film Aladdin yang sedang booming. Namun, tiga puluh menit telah berlalu tanpa tanda-tanda kehadiran pria itu. Jemari Aira mengetik cepat di layar ponselnya.
To: My Ello
Kamu di mana? Filmnya sudah mau mulai.
Aira mulai menggigit kuku, detak jantungnya tidak tenang. Ia mengirim pesan lagi.
To: My Ello
Jadi nonton tidak? Aku sudah menunggu lama.
Tring!
Ponselnya berbunyi. Harapan yang sempat muncul seketika pupus saat ia membaca balasan dari Ello. Raut wajahnya berubah keruh.
From: My Ello
Maaf, Sayang. Tiba-tiba ada acara keluarga yang sangat penting dan tidak bisa kutinggalkan. Lain kali kita nonton, ya. Aku minta maaf sudah membatalkan janji kita.
Aira menyimpan ponselnya ke dalam tas dengan tangan gemetar. Rasa kecewa menusuk dadanya. Untuk menenangkan hati, ia memutuskan berjalan-jalan mengelilingi mal. Langkah kakinya membawanya ke sebuah toko boneka. Matanya tertuju pada etalase yang memajang boneka-boneka lucu, namun perhatiannya teralihkan oleh suara yang sangat ia kenali.
"Boneka ini gemas sekali, persis sepertimu," ucap sebuah suara pria.
"Ish, kamu bisa saja. Aku malu," sahut suara wanita yang terdengar manja.
Jantung Aira berdesir hebat dan dilanda ketakutan yang nyata. Ia melangkah perlahan, mendekati sumber suara di balik rak tinggi.
"Kenapa harus malu? Kamu benar-benar lucu," lanjut pria itu.
"Ih, sakit!" si wanita memekik kecil.
Aira mengintip dari celah etalase. Pandangannya mendadak kabur oleh air mata, tubuhnya menegang kaku. Di sana, Ello tengah merangkul seorang wanita.
"Maaf, Baby. Kamu tahu? Aku tidak menyesal meneruskan perjodohan kita. Kamu benar-benar tipe ideal aku," ucap Ello dengan nada yang jauh lebih lembut daripada saat ia berbicara pada Aira.
"Lalu, pacarmu bagaimana? Kapan kamu putusin dia?" tanya wanita itu.
Dunia Aira seakan runtuh. Sepasang kekasih yang bermesraan itu adalah Ello dan wanita yang pernah ia lihat di kafe waktu itu. Aira berbalik, menyandarkan punggungnya pada rak boneka, berusaha sekuat tenaga agar isak tangisnya tidak pecah.
"Aira? Tenang saja, Baby. Aku pasti akan putusin dia demi kamu. Lagipula aku sudah lelah, dia selalu marah-marah karena aku sering terlambat. Padahal aku terlambat juga karena menemuimu, Sayang."
Perkataan Ello menusuk lebih dalam daripada belati mana pun. Firasatnya selama ini benar. Orang yang ia sayangi ternyata menikamnya dari belakang. Pengkhianatan itu nyata, dan rasanya jauh lebih menyakitkan daripada yang pernah ia bayangkan.
Aira melangkah keluar dari toko boneka dengan wajah tertunduk. Tangannya meraba-raba tas dengan gemetar, mencari ponsel, lalu segera menghubungi nomor Arta. Sambil menunggu sambungan tersambung, ia menggigit jarinya dengan gelisah hingga terasa perih.
"Halo, Aira?" suara Arta terdengar di seberang sana.
"Ha... halo, Arta," suara Aira serak, bergetar hebat menahan isak.
"Ada apa?" Arta terdiam sejenak.. "Kamu di mana? Tunggu, Aira... kamu menangis?"
"Aku... aku ke sana," bisik Aira tanpa menjawab pertanyaan itu.
"Aira, ada apa sebenarnya? Jangan membuatku khawatir!" desak Arta, suaranya naik satu nada.
"Aku ke sana sekarang," Aira mengulang dengan suara yang hampir tercekat habis.
"Baiklah. Aku akan segera menutup kafe begitu kamu sampai. Hati-hati di jalan, mengerti?"
Aira menaiki taksi dengan gerakan linglung. Sepanjang perjalanan, ia hanya mampu menatap kosong ke luar jendela, membiarkan bayangan lampu jalanan mal kabur oleh air mata yang menggenang di pelupuk. Begitu sampai, ia bergegas turun dan berjalan cepat menuju kafe yang lampunya sudah mulai diredupkan.
Arta sudah berdiri di depan pintu, melipat tangan di dada. Tatapannya tajam menyapu wajah Aira, namun rautnya jelas menyiratkan kekhawatiran yang mendalam.
Tanpa sepatah kata pun, Aira berlari dan menghambur ke pelukan pria itu. Ia memeluk Arta seerat mungkin, seolah takut jika ia melepasnya sedikit saja, tubuhnya akan hancur berkeping-keping.
"Menangislah. Setelah itu baru kamu cerita padaku," bisik Arta lembut. Ia membalas pelukan itu dengan protektif, menyandarkan kepala Aira di dadanya.
Pertahanan Aira runtuh. Ia menangis sejadi-jadinya di balik dekapan Arta, mengeluarkan seluruh rasa sakit, kecewa, dan perihnya pengkhianatan yang baru pertama kali ia rasakan. Arta tetap diam, membiarkan bajunya basah oleh air mata, hanya tangannya yang terus mengusap punggung Aira hingga tangis perempuan itu mereda menjadi isakan-isakan kecil yang pilu.
"Sudah lebih tenang?" tanya Arta lembut, jemarinya menyisir rambut Aira dengan kasih sayang. Aira tidak menjawab, ia hanya mengangguk pelan dalam dekapan dada Arta.
"Mau cerita sekarang?" tanya Arta lagi.
Aira menggeleng lemah. Ia merasa energinya sudah terkuras habis bersama air matanya tadi.
Arta menghela napas panjang, mencoba memahami tanpa memaksa. "Oke. Malam ini kamu tidur di sini saja, Aira. Di kamarku." Tanpa menunggu jawaban, Arta menyusupkan lengannya ke bawah lutut dan punggung Aira, mengangkatnya dalam gendongan bridal style.
"Ih, Arta! Tidak mau! Nanti kalau kamu macam-macam bagaimana?" protes Aira spontan. Meski mengeluh, ia tetap mengalungkan tangannya erat-erat pada leher Arta.
"Aku tidur di sofa, janji," ucap Arta meyakinkan.
"Tetap tidak mau. Aku mau pulang saja."
"Tidur di sini atau aku marah?" Arta menghentikan langkah, menatap Aira dengan raut kesal yang sengaja dibuat-buat.
Aira memanyunkan bibirnya, menyadari bahwa ia tidak akan menang melawan keras kepala Arta. "Ya sudah, aku tidur di sini."
Arta membaringkan Aira di ranjangnya dengan hati-hati, lalu menyelimutinya hingga sebatas dada. Ia menatap mata sembab perempuan itu, lalu kembali mengusap kepalanya pelan, memberikan ketenangan hingga perlahan kelopak mata Aira terpejam sepenuhnya.
Setelah memastikan Aira terlelap, Arta melangkah menuju balkon kamar. Ia menutup pintu kaca di belakangnya, lalu menempelkan ponsel ke telinga.
"Halo, Kev. Tolong cari tahu kenapa Aira menangis malam ini," perintah Arta, suaranya kini berubah drastis—rendah dan dingin.
"..."
"Karena itu aku minta bantuanmu. Dia sudah tidur... Aku yakin ini ada hubungannya dengan Ello. Kabari aku secepatnya."
Arta menutup panggilan dan kembali masuk. Ia berdiri di tepi ranjang, menatap wajah lelap Aira sejenak. Tangannya terulur mengusap pipi Aira dengan sangat lembut, seolah perempuan itu adalah porselen yang mudah retak. Tak lama, ponselnya kembali bergetar.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Arta langsung begitu mengangkat telepon.
"..."
"Kurang ajar," desis Arta. Rahangnya mengeras, matanya berkilat penuh amarah. "Besok, akan kubuat dia menyesal karena telah menyakiti wanitaku."
"..."
"Dia sudah menyakitinya, Kev! Kau tahu sendiri betapa sakit hatiku mendengar dia menangis seperti tadi? Akan kupastikan besok pria itu merasakan sakit yang jauh lebih hebat!"
Arta mematikan sambungan telepon secara sepihak. Ia mengepalkan tangan hingga buku-buku jarinya memutih. Beraninya Ello mengkhianati wanita yang selama bertahun-tahun ini ia jaga dan lindungi dengan sepenuh hati? Amarah membakar dada Arta, dan ia sudah memutuskan, tidak akan ada ampun untuk Ello esok hari.
Pagi menjelang, namun suasana di dalam kamar itu justru terasa semakin panas. Aira membuka matanya perlahan, mendapati Arta sudah berdiri di depan cermin, mengenakan pakaian rapi.
"Kamu mau ke mana?" tanya Aira seraya bangkit dan bersandar di kepala tempat tidur.
Arta menoleh, tatapannya menyapu wajah Aira dengan penuh perhatian. "Masih pusing?"
"Tidak. Kamu mau ke mana, Arta?" tanya Aira sekali lagi, firasatnya mulai tidak enak.
"Mau menghajar si brengsek itu," jawab Arta pendek. Suaranya dingin, namun penuh tekanan.
Aira tersentak kaget. "Kamu gila? Jangan nekat!"
"Aku tidak gila! Aku hanya marah karena dia sudah berani menyakitimu!" teriak Arta tiba-tiba. Pertahanannya runtuh. Kemarahan yang ia pendam semalaman meledak di depan Aira.
"Tapi, tidak perlu sampai menghajarnya."
"Kamu tahu sendiri, Aira. Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku," desis Arta sambil menyambar kunci mobilnya.
"Aku mohon. Jangan lakukan itu," Aira segera melompat dari ranjang dan mencengkeram lengan Arta sekuat tenaga.
"Kenapa? Kamu masih mencintainya?!" Arta berbalik dan berteriak tepat di depan wajah Aira. Suaranya bergetar, menandakan kecemburuan mendalam yang selama ini ia simpan di balik kedok persahabatan.
"Bukan begitu, Arta! Aku mohon, jangan perpanjang masalah ini. Aku... aku sudah tidak apa-apa," ucap Aira, mencoba meyakinkan Arta dengan matanya kembali berkaca-kaca.
"Tidak apa-apa, katamu? Kamu menangis hancur semalaman, Aira! Minggir, biarkan aku pergi!" Arta berusaha melepaskan tangan Aira dari lengannya dengan gerakan kasar.
"Tidak mau! Tolong dengarkan penjelasanku dulu, Arta. Please..." Aira memohon, suaranya mulai tercekat oleh isak tangis yang kembali muncul.
Arta mengembuskan napas dengan sangat kasar. Ia berdiri mematung, rahangnya mengeras, namun akhirnya ia berhenti memberontak. "Baiklah," ucapnya ketus tanpa menatap Aira. "Cepat jelaskan."
Aira menatap Arta dengan pandangan yang perlahan melunak. "Dari awal aku berpacaran dengannya, aku tidak pernah benar-benar menyukainya, Arta. Dia yang memaksaku, dan aku menyetujuinya hanya karena... aku ingin melupakan seseorang yang aku harapkan sejak dulu."
Aira menarik napas panjang, mencoba menahan getaran di suaranya. "Tapi aku takut. Aku takut dia tidak memiliki perasaan yang sama. Aku takut cintaku hanya bertepuk sebelah tangan, dan itu jauh lebih menyakitkan."
Arta terdiam, mendengarkan setiap kata dengan saksama.
"Tiga bulan kami bersama, aku tidak sengaja melihatnya dengan wanita lain di kafe ini. Awalnya aku mencoba berpikiran positif, mungkin itu sepupunya. Saat itu, sikap dia mulai berubah, selalu menolak ajakanku, dan kalaupun datang, dia selalu terlambat. Baru semalam aku tahu kebenarannya. Dia membatalkan janji denganku hanya untuk jalan bersama wanita itu, yang ternyata... adalah tunangannya. Mereka dijodohkan oleh orang tua mereka." Air mata Aira kembali jatuh, membasahi pipinya yang pucat.
Arta mengangguk perlahan. Kini ia mengerti sumber luka Aira, namun satu hal mengusik benaknya. "Lalu, laki-laki yang ingin kamu lupakan itu... siapa?" tanya Arta sembari menatap tajam, menuntut jawaban Aira.
Aira segera membuang muka, menghindari tatapan Arta. "Kamu tidak perlu tahu."
"Aku harus tahu, Aira. Siapa?" desak Arta, suaranya mulai meninggi.
"Aku tidak tahu," gumam Aira lirih.
"Jangan bohong!" Arta meraih dagu Aira, memaksanya untuk kembali bertatapan. "Siapa dia?"
"Kamu tahu? Aku merasa tidak pantas bersanding dengannya," ucap Aira, suaranya nyaris hilang. "Dia sempurna meski terkadang dingin. Dia tampan, mandiri, pandai memasak... dia laki-laki idaman. Sedangkan aku? Aku hanya wanita biasa yang cengeng, cemburuan, dan kekanak-kanakan."
"Siapa, Aira?" tanya Arta lagi, kali ini dengan nada yang tertahan oleh kekesalan.
Aira kembali terdiam, menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"SIAPA, AIRA?!" teriak Arta akhirnya. Frustrasi dan cemburu meledak menjadi satu.
Aira tersentak hebat, bahunya bergetar karena tangis yang kembali pecah.
Arta mengacak rambutnya sendiri dengan gusar. "Astaga, aku hanya bertanya siapa, kenapa kamu malah menangis? Sini..." Arta menarik Aira ke dalam pelukannya, menyesali amarahnya yang meledak.
"Kamu," bisik Aira di balik dada Arta. Suaranya sangat kecil, nyaris teredam detak jantung mereka sendiri.
"Apa?" Arta melepaskan pelukannya, menatap Aira dengan dahi berkerut, bingung.
Aira mendongak dengan mata yang basah dan kemerahan. "Orang itu adalah kamu, Arta. Selama ini, orang itu selalu kamu."
Arta terpaku. Ia menatap Aira terkejut, seolah baru saja dihantam kenyataan yang luar biasa. Ia kembali menarik dagu Aira, menyelami manik mata perempuan itu dalam-dalam untuk mencari setitik saja kebohongan. Namun, yang ia temukan hanyalah ketulusan dan keputusasaan yang selama ini disembunyikan.
Seketika, debaran jantung Arta membuncah. Perasaan lega dan bahagia yang campur aduk terasa menggelitik di dadanya.
"Sial! Kenapa kau baru mengatakannya sekarang, hah?!" seru Arta frustrasi, namun kali ini suaranya tidak lagi dingin. Aira menundukkan kepala, namun Arta segera menariknya kembali agar mata mereka bertemu. "Kau tidak pantas untukku? Persepsi bodoh dari mana itu, Aira?! Justru selama ini hanya kamu yang kuinginkan! Hanya kamu yang ada di kepalaku setiap kali aku meracik kopi!"
Arta merendahkan suaranya, menggenggam tangan Aira dengan jemari yang sedikit bergetar. "Aku mencintaimu, Aira. Sangat mencintaimu sampai rasanya aku hampir gila setiap kali melihatmu jalan dengan si brengsek itu."
Aira terperanjat. Ia menatap Arta dengan tatapan tak percaya. "Bohong..." bisiknya lirih, bibirnya bergetar. "Kamu selalu memperlakukanku seperti anak kecil. Kamu selalu bilang aku ini 'Mungil' yang merepotkan."
"Karena itu satu-satunya cara supaya aku bisa menyentuhmu tanpa terlihat lancang, Aira," Arta mendekatkan wajahnya, memangkas jarak di antara mereka hingga ujung hidung mereka hampir bersentuhan. "Selama tiga tahun, perasaan ini tidak pernah berubah sedikit pun. Aku tidak berbohong. Aku mencintaimu, lebih dari apa pun."
Tangis Aira kembali pecah, kali ini bercampur dengan rasa kesal yang luar biasa. Ia memukul-mukul dada bidang Arta dengan tangan mungilnya. "Jahat! Aku benci kamu! Kenapa harus menunggu aku hancur dulu baru kamu mengatakannya?!"
"Iya, iya, aku tahu aku salah. Aku pengecut," Arta terkekeh pelan, namun matanya berkaca-kaca. Ia menarik Aira ke dalam pelukan yang paling erat yang pernah ia berikan, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Aira. "Maafkan aku karena membuatmu menunggu terlalu lama dalam ketidakpastian."
Aira terdiam dalam pelukan itu, menghirup aroma kopi dan kayu manis yang selalu melekat pada tubuh Arta—aroma yang selalu menjadi favoritnya. "Aku sudah tidak mencintaimu lagi," gumam Aira pelan, suaranya teredam di dada Arta, namun jemarinya justru meremas kaus pria itu semakin erat.
Arta melonggarkan pelukan sedikit, menatap Aira sambil menaikkan sebelah alisnya—menahan senyum kemenangannya.
"Yakin?"
"Yakin," ucap Aira cepat, sengaja membuang muka meski rona merah di pipinya tak bisa disembunyikan.
"Kalau begitu, kenapa jantungmu berdetak sekeras ini?" Arta meletakkan tangan Aira tepat di atas jantungnya sendiri yang juga berpacu cepat. "Jantung kita sedang berdebat, Aira. Dan punyaku bilang kalau kau sedang bohong besar."
Arta membelai pipi Aira dengan ibu jarinya, menghapus sisa air mata di sana. "Mulai detik ini, tidak akan ada Ello, tidak ada lagi kencan buta, dan tidak ada lagi tangisan karena pria lain. Hanya ada aku. Mengerti?"
Aira akhirnya luluh, ia menyandarkan keningnya di bahu Arta. "Dih, posesif sekali."
"Tentu saja," Arta mengecup puncak kepala Aira dengan lama.
"Aku sudah menunggu tiga tahun untuk ini. Aku tidak akan membiarkanmu lolos lagi, Sahabat Mungilku... yang sekarang sudah jadi milikku."
Aira hanya bisa cemberut, masih mencoba memproses pengakuan mereka yang baru saja terjadi. Namun, Arta tidak memberinya waktu untuk melamun lebih lama. Tiba-tiba, pria itu meraih tangan Aira, menggenggamnya dengan erat, dan menariknya keluar kamar. Tangannya yang bebas dengan cepat meraih ponsel dan mengetik sebuah nomor.
"Halo, Pa? Malam ini Papa dan Mama harus ke rumah Aira," ucap Arta lugas, langkah kakinya terdengar tegas di lorong rumah.
"..."
"Aku akan melamar Aira, Pa. Malam ini juga," lanjutnya tanpa basa-basi.
"Kamu gila?!" Aira terpekik, langkahnya terhenti seketika hingga Arta pun ikut berhenti. Ia menatap Arta dengan mata membulat tak percaya.
Arta tidak menghiraukan keterkejutan Aira. Ia kembali menjawab suara di seberang telepon dengan nada yang jauh lebih lembut, namun tidak bisa dibantah.
"..."
"Aku tidak mau kehilangan wanitaku lagi, Pa," ucap Arta, matanya kini terkunci pada manik mata Aira. Ada kilat kesungguhan di sana, sebuah janji yang selama ini terkunci rapat. "Aku sudah cukup membuang waktu tiga tahun hanya untuk menjadi 'sahabatnya'."
"..."
"Oke, thanks, Pa. Sampai bertemu nanti malam."
Arta menurunkan ponselnya, namun ia sama sekali tidak melepaskan genggaman tangannya dari Aira. Ia justru menarik Aira mendekat, memperkecil jarak hingga perempuan itu bisa merasakan embusan napasnya yang lega.
"Kenapa menatapku begitu?" tanya Arta, ujung bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang nakal sekaligus meyakinkan. "Aku sudah bilang, kan? Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku, Mungil."
Arta terus melangkah menuju mobil yang terparkir di halaman kafe, namun Aira tiba-tiba memaku langkahnya. Arta berhenti, lalu menoleh ke arah gadis yang masih berdiri di sampingnya itu.
"Kenapa?" tanya Arta lembut.
"Kamu tidak bercanda, kan? Mengenai lamaran itu?" Aira menunduk, memainkan jari-jarinya dengan gugup. Ia masih merasa semua ini terlalu indah untuk jadi kenyataan.
Arta memutar tubuhnya, menghadap Aira sepenuhnya. Ia meraih kedua tangan Aira, menghentikan kegugupan jemari itu. "Aku serius, Aira Mentari. Sangat serius sampai rasanya aku tidak ingin membiarkanmu pulang sendirian lagi mulai hari ini."
"Tapi... aku selalu merepotkanmu," bisik Aira, mulai mengabsen daftar kekurangannya sendiri.
"No problem," jawab Arta enteng, seolah itu bukan masalah besar baginya.
"Aku cengeng, Arta. Aku bisa menangis hanya karena hal sepele."
"Aku tahu. Dan aku sudah menyiapkan bahuku untuk itu sampai puluhan tahun ke depan," jawab Arta tanpa ragu.
"Aku sering ceroboh. Aku sering menjatuhkan barang atau menghilangkan sesuatu."
"Aku juga tahu," Arta mengangguk pelan, senyumnya tak luntur sedikit pun. "Tugasku adalah memastikan kamu tidak menghilangkan atau menjatuhkan apapun lagi."
Aira membuang muka ke arah lain, suaranya mengecil. "Aku... aku sangat cemburuan. Aku bisa marah kalau kamu tersenyum pada pelanggan wanitamu."
Arta terkekeh kecil, menarik Aira agar kembali menatapnya. "Aku sangat tahu, Sayang. Justru aku sudah menunggu saat-saat di mana kamu menunjukkan cemburumu itu sebagai milikku, bukan sebagai sahabat. Aku lebih suka kamu marah padaku daripada kamu diam dan memendamnya sendiri."
Arta mengusap pipi Aira dengan ibu jarinya. "Dengar, Aira. Aku tidak mencari wanita yang sempurna. Aku hanya mencari kamu—dengan segala tangisanmu, kecerobohanmu, dan kecemburuanmu. Selama itu kamu, aku tidak keberatan."
Tidak tahan lagi dengan rasa haru yang membuncah, Aira menghambur dan memeluk Arta dengan erat. Ia menyembunyikan wajahnya di dada bidang pria itu, menghirup aroma kopi yang selama ini menjadi zona nyamannya.
"Aku mencintaimu, Arta," ucap Aira tulus, suaranya terendam di balik kemeja Arta.
Arta tertawa hangat, tangannya mendekap punggung Aira dengan protektif. "Haha, aku tahu. Dan aku jauh lebih mencintaimu, Aira. Bahkan lebih dari yang bisa kau bayangkan." Ia merunduk, mengecup kening Aira dengan lembut dan lama.
"Terima kasih," bisik Aira lagi. "Terima kasih sudah tidak pernah menyerah menungguku."
Arta menyatukan keningnya dengan kening Aira, membuat mereka terjebak dalam ruang kecil yang hanya berisi detak jantung mereka. "Terima kasih sudah akhirnya melihat ke arahku, Mungilku."
Mereka saling melempar senyum di bawah sinar matahari pagi yang mulai menghangat. Sebuah akhir yang manis setelah penantian panjang, di mana luka pengkhianatan Ello kini benar-benar telah tenggelam oleh cinta tulus yang selama ini ada di depan mata.
"Ternyata, perjalanan terjauhku hanya untuk menyadari. Bahwa, rumah yang kucari selama ini tidak pernah ke mana-mana. Ia selalu ada di sini, dalam seduhan kopi dan pelukan hangatnya."