Flash Fiction
Disukai
1
Dilihat
17
Gugup, Hujan, dan Dia
Romantis
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

​​"Kiri, Bang!" seru Dian sedikit lebih keras, berusaha mengalahkan deru mesin angkot dan suara hujan yang mulai turun.

​Begitu roda angkot berhenti, Dian segera turun. Jemarinya dengan cekatan menyerahkan selembar uang kepada supir sebelum akhirnya bergegas menanggahkan tangan di atas kepala—berusaha melindungi hijab dan pakaiannya dari rintik hujan yang mendadak berubah menjadi deras.

​Dian berlari kecil menuju sebuah gedung percetakan di hadapannya. Begitu pintu kaca digeser, denting lonceng kecil menyambutnya bersama embusan sejuk pendingin ruangan yang seketika membalut kulitnya yang lembap.

​"Selamat pagi, Mbak. Ada yang bisa dibantu?" sapa kasir dengan ramah.

​"Selamat pagi," jawab Dian sedikit terengah. Tangannya sibuk mengibas-ngibaskan butiran air yang menempel di lengan bajunya. "Saya mau cetak stiker, Mbak."

​"Oh iya, silakan ambil nomor antrean dulu di mesin sebelah sana ya, Kak," ucapnya sambil mengarahkan telapak tangannya ke mesin yang ada di sampingnya.

​Dian mengangguk, mengikuti instruksi tersebut. Jemarinya menekan layar sentuh mesin antrean hingga selembar kertas kecil keluar. Ia kemudian berjalan menuju kursi yang berderet panjang, dan memilih kursi tunggu yang agak pojok.

Menit demi menit berlalu. Dian sesekali menoleh ke arah jendela besar, menatap aspal yang kini sudah tertutup oleh air air. Ia melirik jam dinding, lalu meremas jemarinya yang dingin. Ini kali pertamanya, Dian mengurus urusan percetakan sendirian, dan rasa gugup mulai merayap di dadanya.

​Tiba-tiba, sebuah motor berhenti tepat di gedung. Dua laki-laki itu turun secara bergantian, mengenakan kemeja kasual dan celana hitam panjang. Pandangan Dian tak sengaja terkunci pada salah satu dari mereka yang berdiri di depan pintu, sibuk mengibaskan air dari bahunya. Laki-laki itu tertawa tipis, membalas celetukan temannya dengan raut wajah yang tampak sangat tenang.

​Begitu keduanya melangkah masuk, Dian tersentak. Ia segera membuang muka dan berpura-pura sibuk dengan ponselnya. Jantungnya mendadak berdegup dua kali lebih kencang saat menyadari kedua laki-laki itu memilih kursi tepat di sampingnya.

"​Kenapa dari sekian banyak kursi kosong, dia harus duduk di sini?" Batin Dian dalam hati sambil menahan napas.

​Namun, indra pendengarannya mendadak tajam, begitu memdengar suara rendah laki-laki di sebelahnya. "Suaranya... indah sekali," gumam Dian dalam hati.

​Entah sengaja atau tidak, kedua laki-laki itu kemudian berdiri tepat di depan Dian. Mereka tampak sedang berdiskusi serius mengenai sesuatu sambil menatap ke arah monitor di meja pelayanan, dan posisi mereka benar-benar menghalangi pandangan Dian ke depan.

Dian bergerak gelisah. Matanya melirik layar monitor di atas kepala karyawan. Namanya sebentar lagi dipanggil.

​"Nomor antrean dua puluh dua, silakan!"

​Dian tersentak. Ia menoleh ke kanan, seorang bapak masih asyik dengan ponselnya. Ia mengangkat sedikit bokongnya dari kursi, namun kembali urung. Pikirannya buntu karena panik. Akhirnya, dengan gerakan kaku dan kepala yang tertunduk dalam, Dian memutuskan untuk membelah jalan tepat di antara kedua laki-laki yang berdiri bak dinding itu.

​"Permisi..." bisiknya nyaris tak terdengar.

​Ia melangkah cepat menuju meja pelayanan, di mana seorang staf laki-laki sudah menunggunya di depan laptop. Namun, konsentrasinya buyar saat ekor matanya menangkap gerakan di belakang. Kedua laki-laki tadi tampak saling sikut, menahan tawa melihat tingkah Dian yang baru saja "menerobos" mereka.

​"Gemes banget," bisik laki-laki yang suaranya Dian kagumi tadi.

​Seketika, pipi Dian terasa panas. Merah padam. Jantungnya seolah ingin melompat keluar, dan jemarinya yang memegang flashdisk mulai gemetar.

​"Pagi, Mbak. Mau cetak apa?" tanya petugas itu sambil tangannya bersiap di atas keyboard.

​Dian terkejut, dengan cepat mengubah ekspresinya menjadi lebih tenang. "Pagi, Mas. Ini... saya mau cetak stiker label untuk botol minuman," jawab Dian pelan sambil menyerahkan flashdisk.

​Petugas itu membuka filenya. "Namanya 'Jelly jump' ya? Mau dicetak ukuran berapa? Terus bahannya mau kromo atau vinil?"

​Dian terdiam, menggigit bibir bawahnya karena asing dengan istilah itu. "Eh... bedanya apa ya, Mas? Yang kalau kena air nggak gampang rusak yang mana?"

​"Kalau kromo itu kertas, kena air hancur. Kalau vinil itu plastik, lebih awet. Tapi harganya beda," jelas petugas itu datar.

​Dian masih tampak ragu, matanya menatap monitor dengan bingung. Tiba-tiba, laki-laki yang tadi ia lewati—yang kini berdiri tak jauh di belakangnya—berceletuk pelan, namun jelas kepada temannya.

​"Kalau buat botol minuman yang keluar masuk kulkas, mending pakai vinil. Biar nggak lepas pas berembun."

​Petugas itu mendongak dan terkekeh. "Nah, benar kata Masnya itu, Mbak. Mau yang vinil saja biar awet?"

​"I-iya, Mas. Yang vinil saja," jawab Dian cepat. Pipinya mulai memanas karena menyadari laki-laki itu diam-diam membantunya.

​"Oke, mau potong manual atau sekalian cutting mesin?" tanya petugas itu lagi.

Dian terdiam sejenak. ​"Yang langsung bisa ditempel saja, Mas."

​"Berarti pakai kiss cut ya. Tunggu sebentar." Petugas itu mulai sibuk. "Jadinya dua puluh lembar ya, Mbak. Ditunggu sekitar tiga puluh menit karena antrean mesin lagi penuh."

​"Oh, iya Mas, nggak apa-apa."

​Dian membalikkan badan untuk kembali, namun lagi-lagi ia harus melewati kedua laki-laki tadi. Saat ia melintas, sebuah bisikan halus kembali terdengar di telinganya.

​"Lucu tahu, Bro," ucap suara berat itu diiringi tawa tipis.

​Dian tidak kembali ke kursi tadi. Ia berjalan cepat menuju sudut paling pojok ruangan, bersembunyi di balik rak pajangan.

"​Ya Tuhan, mau ditaruh di mana mukaku?" bisiknya dalam hati, merutapi kejadian barusan. "Kenapa aku harus jalan di antara mereka seperti itu?"

​Tiga puluh menit kemudian, Dian masih menunggu dengan sabar. Sesekali ia melirik kedua laki-laki itu yang kini sedang memeriksa hasil cetakan mereka. Tak lama, mereka melangkah keluar, mengenakan jaket dan helm di bawah kanopi toko.

​Dian memperhatikan dari balik kaca. Saat menyadari Dian sedang memerhatikannya, laki-laki itu menoleh ke arah kaca, tersenyum tipis lalu menggeleng pelan seolah sedang mengenang kejadian lucu tadi, sebelum akhirnya menderu pergi menghilang di balik derasnya hujan.

​Dian menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Ia menutup wajah dengan kedua tangan, menyembunyikan rasa malunya.

​"Duh, memalukan..." bisiknya meratapi diri.

​Dian menyandarkan punggungnya, menatap ke luar jendela. Hujan turun semakin deras, menciptakan melodi yang kini terasa berbeda di telinganya. Ada sedikit rasa manis yang tertinggal di tengah rasa malunya. Sudut bibirnya perlahan terangkat, matanya berbinar menatap rintik air yang jatuh.

​"Semoga, jika semesta mengizinkan... aku ingin bertemu dengannya lagi," bisiknya penuh harap.

​"Terkadang, semesta menjatuhkan hujan bukan hanya untuk membasahi bumi, tapi untuk menciptakan sebuah jeda—di mana dua orang asing dipaksa berbagi ruang, berbagi suara, dan berbagi debar yang tidak terduga."

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Rekomendasi