Disukai
0
Dilihat
22
Sang Penyelamat Kota
Komedi

Sang Penyelamat Kota

Karya Dewi Fortuna

Hari itu aku sedang menikmati liburan awal Ramadan. Sesekali memanjakan diri sendiri. Tak perlu ngabuburit dulu. Biasanya aku jalan kalau lagi ingin jajan es. Meskipun aku dijuluki oleh seseorang sebagai CEO yang menyamar jadi Kang Beli Es, tak selalu pula aku jajan es.

Apalagi, aku masih punya project dengan kawan-kawan yang belum diselesaikan. Harusnya bulan lalu sudah launching. Terpaksa ditunda karena kesibukan penjurian event di bulan Ramadan.

Project itu bukan suatu kebetulan. Sejak lama sudah direncanakan. Walaupun meleset dari jadwal, tapi aku tetap akan melanjutkannya. 

Kata orang, di dunia ini, tak ada yang kebetulan. Semua sudah digariskan oleh Tuhan. Meskipun tak tahu dan tak paham mengapa sesuatu itu bisa terjadi, selama meyakini bahwa di balik setiap kejadian ada pesan tersembunyi, ada hikmah di dalamnya, dan ada kebaikan yang  datang, maka semua akan baik-baik saja.

Seperti kala itu, saat Ramadan ke-4, ada nomor asing kirim pesan  ke WhatsApp. Aku yakin, ini juga bukan kebetulan. Mungkin, aku terlalu over thinking gara-gara peristiwa di masa lalu. Atau terlalu protektif pada diri sendiri. Hingga sebagian besar orang-orang yang kutemui di dunia maya sering aku curigai.

Ilham Hardika, nama yang tertera di nomor kontak asing yang masuk. Tanpa mengucap salam dia langsung mengirim pesan. 

[Siang.]

Aku tertarik untuk langsung membalasnya. Kutulis kata sama dengannya, “siang.” Ah, harusnya jam segitu bukan siang lagi karena itu waktu untuk mulai ngabuburit. Jalan sore mencari menu takjil yang kusukai atau sekadar jajan ice cream toffee hazelnut latte.

Dia menulis namaku dengan alamat lengkap di daerah Jawa Barat. Dia bertanya, apakah alamat yang ditulisnya itu benar?

Meskipun aku yakin dia ini salah orang. Aku tergoda untuk membalasnya lagi. Aku bertanya siapa yang dia cari? Nama yang ditulisnya memang namaku, nama panggung, nama beken, atau nama pena. Alamatnya yang salah karena aku tinggal di ibukota, bukan di kota kabupaten.

Aku juga menjelaskan bahwa orang yang dicarinya bukan aku meskipun namanya sama persis. Dia yakin karena di NIK juga namanya Dewi Fortuna, sama dengan namaku. Ah, dia belum tahu nama asliku. Makanya Ilham sangat yakin bahwa aku orang yang dicarinya. Dia ingin mencocokkan data katanya. Data karyawan di tempat kerjanya.

Dia juga menanyakan usiaku, nama dan alamat juga. Tentu saja aku tak akan memberitahu pada orang asing. 

Aku menjawab, usiaku ada di KTP.  Dia lantas meminta aku menfoto KTP dan mengirimkan padanya. Astaga! Mengapa aku harus melakukan itu? Aku tentu menolaknya.

Agar tak berlarut-larut akhirnya aku meminta dia menyebutkan apa kesukaanku? Jangan sampai orang lama yang sudah diblokir interaksi lagi denganku. 

Bukan karena benci, hanya saja aku tak suka dengan sikapnya. Aku sudah menghargainya sebagai teman baik. Dia justru bertingkah fatal. Aku sudah mengingatkan pun, tak diindahkannya. Alasan logis, ‘kan? Aku harus waspada dengan nomor baru yang belum dikenal. 

Ternyata, Ilham, orang dengan nomor asing, tak menjawab pertanyaanku. Aku lantas bertanya kembali.

[Gini aja, deh. Aku tanya, apa kamu suka aku?]

Ah, pertanyaan ngaco. Mana mungkin orang baru bisa suka sama aku? Namun, kecurigaanku terlalu kuat. Apa boleh buat? Pertanyaan itu harus dilontarkan padanya, daripada aku salah mengira orang.

Ternyata dia malah membahas topik lain.

Dia meminta aku kirim foto PAP. Olalaa, buat apa foto PAP? Dikirim ke dia pula? Hm, tak akan mungkin terjadi aku mengirimkan fofo padanya.

[Tak boleh].

Aku menolak keras. Dia heran, kenapa tak boleh? Lalu, aku bertanya untuk kesekian kalinya.

Ilham malah menyuruh aku menebaknya. Aku minta clue. Dia memberikan ciri-ciri yang tidak spesifik. Dia malah mau menelepon. Katanya mau menjelaskan padaku. Aku ragu dan bimbang. Aku tak mau dengar suara teman lama yang sudah diblokir dulu. Aku khawatir orang dengan nomor baru itu teman lamaku. 

Aku tanya lagi padanya via pesan teks.

[Jadi, siapakah kamu?]

Sekitar satu atau dua jam kemudian, empat kali pesan dikirim olehnya.

[Tapi jangan bilang siapa-siapa, ya!]

[Sebenernya aku spiderman penyelamat kota.]

[Janji, ya, jangan kasih tau orang.]

[Nanti mereka tau.]

Aku langsung ngakak nggak habis-habis. Dasar! Lucu banget, sih! 

Kubalas pesannya. [Terus … kamu ke sini mau nyelametin aku, gitu?]

Dia menjawab lagi. [Iya, wkwk.]

Aku tertawa lagi. Ya ampun! Pipiku pegal. Dia lantas meminta akan meneleponku. Aku masih ragu untuk mengizinkan dia. 

Heyhey! Tinggal tulis namanya siapa, beres. Namun, dia keukeuh ingin menelepon. Aku akhirnya menyerah kalah setelah dia salah menjawab apa warna kesukaanku. Harusnya biru, dia menjawab pink. 

Jika dia memang kenal dengan aku, pasti dia akan menjawab dengan benar. Meskipun fakta yang kudapati sudah menunjukkan bahwa dia bukan teman lamaku. Aku masih saja curiga. Bisa saja, ‘kan? Dia berbohong. Agar bisa menelepon aku. 

Dengan berat hati aku memberi tawaran, aku akan memblokirnya setelah kuizinkan menelepon. Ini untuk jaga-jaga jika suaranya nanti sama dengan suara temanku.

Tanpa salam, kuterima telepon darinya. Aku masih waspada. Tak banyak kata. Aku ingin dengar suara dia lebih dulu. Dan, ternyata suara di telepon tidak sama dengan suara temanku. 

Ilham menjelaskan secara detail tentang tujuannya mengirim pesan padaku. Dalam hati aku merasa bersalah karena terlalu curiga. Namun, itu semua demi kenyamanan dan keamanan. 

Durasi telepon yang cukup singkat malam itu terpaksa putus karena aku harus ke musala dekat rumah untuk tarawih. Aku sudah memutuskan, tak jadi memblokirnya jika dia memang mau berteman. 

Usai salat, aku kirim pesan padanya.

[Berhubung kamu mau nyelametin aku, aku batal blokir kamu.]

Pesan itu tak terkirim. Hanya centang satu. Aku kirim.pesan dengan nomor lain. Ahay, ternyata aku malah kena blokir dia. 

Jika dia tahu apa yang terjadi malam itu, entah apa pikirnya? Tarawihku tidak terlalu khusyuk gara-gara ada spiderman. Namun, aku bersyukur, kejadian itu sangat lucu. Pasti ada suatu hal baik terkait takdir ini. Meskipun aku tak tahu, entah apa itu?

Siapapun dia, pasti Allah juga yang telah mengirimkan dia agar aku tertawa sore itu. Tawa lepas, seolah-olah tanpa beban. Tawa hangat, seperti hangatnya mentari di pagi hari. Tawa ceria, seperti para pencinta senja kala hari mulai temaram. Tawa yang menjadi pemicu semangat ketika hari-hari tak selalu rapi. 

Masa depan memang tak ada yang tahu. Apakah matahari masih bersinar terang? Apakah bulan masih cemerlang di atas sana? Apakah bintang-bintang masih setia bersama kerlipnya? Misteri. Semua hal yang ada di dunia ini adalah misteri. Cukup ini dulu yang kuyakini sebab hikmah seringnya baru dapat dipahami di kala akhir. 

Jakarta, 20 Februari 2026

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Komedi
Rekomendasi