Langit Jovia yang Biru
Karya Dewi Fortuna
“Kurang apa, sih? Liat Jo! Bukti SS an ini! Lengkap!”
Aku menghela napas. Danisa tak pernah tahu yang kurasakan saat bertemu dengan Aksa. Bahkan, aku sangat mengenal pria itu meskipun di depan Danisa aku pura-pura bego.
Aku juga tidak mengerti, mengapa satu rasa yang kini menguasai ubun-ubun Danisa sama sekali tak pernah ada di hati dan pikiranku. Rasa yang menjadi pemicu hujatan. Menambah deretan kebusukan. Dan, melengkapi dosa Aksa.
“Dan, gue paham. Lu gak suka sama Aksa.”
“Nah, jenius, lo!”
“Tapi, gue kagak ada masalah sama Aksa. Napa gue harus ikut musuhin dia?”
“Hih, lu ini! Otak dipake, Non! Bucin boleh, tapi lu bisa jadi korban dia juga entar!”
Aku menutup kepala pakai bantal. Bukan tak mau mendengarkan nasihat Danisa. Bukan menutup mata pada cerita cewek-cewek yang punya bukti screenshot chat Aksa dengan mereka. Bagiku, selama Aksa baik padaku, tak apa berkawan dengannya.
Lagipula, Aksa adalah biru. Warna paling kusukai yang menjadi atap selagi aku berkelana di bumi. Atap yang menaungi aku ketika terik mentari terasa cetak menyengat kulit. Dan atap yang memberi rasa sejuk saat jiwaku gersang.
“Jo! Jovia!”
Suara Danisa cukup lantang memekakkan telinga. Dia kembali berujar bahwa dia tidak tanggung jawab kalau aku di akhir nanti menangis jika ditinggal Aksa. Sebab kejadian semacam itu sudah sering terjadi dalam lingkaran hidup Aksa.
Bersamaan dengan suara dibukanya pintu kamar, lalu dalam hitungan detik langsung terdengar pintu ditutup, aku membuka bantal dari wajahku.
Hm, dunia memang unik. Yang tampak di media sosial terkadang menjadi patokan tentang seseorang. Padahal, bisa saja aku membuat akun dengan nama CEO di suatu perusahaan pengolahan ikan tuna. Bukan ikan hiu, apalagi ikan teri. Bisa juga aku menamai akun dengan nama mandor di perkebunan sawit yang kemarin baru buka lahan lagi. Atau, bos pemilik kapal di Tanjung Priok.
Ketika tengah asyik memikirkan kelakuan “deterjen” ponselku berdering. Nama lagu Hey Kamu berbunyi nyaring.
Hey kamu, yang selalu hadir di pikiranku. La la la … hm … hm … Hey kamu, kesayangannya aku, kecintaannya aku, bahagia aku, datang perlahan menyentuh kalbu … bikin hariku jadi berwarna baru …
“Iya, halo!”
“Jovi, salat Vi! Sudah apa belum?”
Aaah! Itu Aksa! Aku bangkit dari rebahan. Suaranya sangat candu. Rasanya aku tak sanggup berlama-lama tak mendengar suaranya.
“Aksaa! Beluum. Aku belum salat!”
“Salat dulu, gih! Nanti aku telepon lagi.”
Secepat kilat aku mengambil air wudu. Lalu, salat Magrib, dan berdoa. Aksa memang sering menelepon aku, kadang usai Magrib, kadang setelah Isya, bahkan menjelang salat Subuh.
Tak menunggu lama, suara Aksa sudah terdengar lagi di telepon. Aku pakai earphone agar memudahkan mengobrol.
“Sayang, ngaji, yuk!” ajaknya. “Kemarin sampai ayat berapa? Surat Ar Rum.”
“Sekarang ayat 21,” jawabku seraya merapikan jilbab.
Dalam hitungan tiga, kami pun membaca surat Ar Rum, ayat 21.
Ini bagian yang paling aku suka. Kami membaca Al Quran bersama. Tak peduli jauhnya jarak di antara kami. Tak peduli hanya sekejap momen kebersamaan ini. Asalkan, Aksa tetaplah berwarna biru di langitku. Dan hanya itu yang menjadi penutup semua suara sumbang yang terdengar di sana-sini.
Aku percaya, siapa yang telah mencabut rasa benci di hatiku. Lalu, mengisinya dengan rasa full sayang untuk Aksa. Hanya Dia, yang bisa melakukannya. Hanya Tuhan yang dapat menitahkan agar aku selalu sayang pada Aksa. Tak peduli dunianya sedang runtuh. Tak peduli banyak orang menghujatnya.
Bagiku, Aksa adalah langit, angkasa, dirgantara. Ciptaan-Nya, yang menaungi aku. Meskipun kadang mendung, temaram, menghitam kala malam, dirgantara tetaplah terang. Aku tak akan pernah takut seandainya suatu saat warna biru di atas sana itu mendadak gulita. Aku hanya perlu berpindah posisi agar birunya tetap dapat terlihat.
“Jovia, baca arti ayat 21, Ar Rum ini.”
“Siap! Aksaku! Kau dengerin, ya! Aku akan baca artinya.”
“Tentu, Sayang!”
“Bismillah. Di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah bahwa Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari (jenis) dirimu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya. Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.”
Aksa lantas menjelaskan bahwa jodoh itu telah diciptakan oleh Tuhan, Allah Subhanahu Wata’ala. Bersama jodohnya, seseorang akan nyaman, damai, tenteram, dan penuh kasih sayang. Uwh! Manisnya. Seperti aku yang selalu nyaman ketika interaksi dengan Aksa.
Tuhan, apa Aksa jodohku? Aku percaya pada rasa yang tumbuh ini. Yang telah Tuhan cipta dan titipkan ini. Rasa sayang tanpa ada benci untuk Aksa seorang. Aku percaya, ada kebaikan dari dirinya yang tak akan pernah dapat dilihat oleh mereka.
Hanya aku, yang bisa melihat betapa indahnya dia di hati. Meskipun di mana-mana banyak yang menguliti hingga tercerabut akar-akarnya sampai mati. Bersamaku, Aksa akan tetap hidup, selamanya.
“Jovi … Jovia? Kau tidur, Sayang?”
Suara Aksa memanggil di telepon. Mataku saat itu rasanya sudah tak kuat menahan kantuk. Kubiarkan saja panggilannya.m
Biarkan jiwaku damai sedamai tatkala melantunkan ayat-ayat suci. Sedamai ketika memaknai alur hidup yang tak pernah bisa diprediksi secara tepat.
Selama aku merasa baik-baik saja, maka dunia pun akan seperti itu. Selama aku meyakini Aksa adalah biru, Aksa adalah angkasa, maka langitku akan selalu biru karena Aksa.
Esoknya ….
“Morning, Jovia!”
Suara renyah Aksa kembali menyapa. Selalu saja seperti itu. Awalan yang akan menuai senyum sepanjang hari. Awalan yang akan memanen rindu di akhir nanti.
Jakarta, 5 Mei 2026