Disukai
0
Dilihat
13
Monolog Besi Berkarat
Slice of Life
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Dua meter di bawah lapisan trotoar beton yang retak dan berlumut, akar-akar bajaku tertanam kaku. Aku adalah tiang besi tuang, dipancang puluhan tahun lalu ketika jalan raya ini masih berupa jalan dua jalur yang dinaungi pohon-pohon angsana. Kini, pohon-pohon itu telah ditumbangkan, digantikan belantara beton dan deretan papan reklame neon yang saling bertumpuk.

Kulit luarku yang dulu bercat abu-abu mengilap kini terkelupas habis, digantikan sisa-sisa karat tebal yang kasar saat disentuh. Bertapis-tapis riwayat kota menempel di tubuhku: kerak lem kusam bekas iklan sedot WC 24 jam, stiker pinjaman online ilegal, hingga poster caleg dengan wajah memudar yang matanya telah robek disayat angin.

Di kepala dan bahuku, belitan kabel optik hitam bergantung tidak beraturan. Sambungan kabel itu menggelantung rendah menyerupai usus terburai, berderit pelan setiap kali dihantam angin malam. Aku tidak memiliki pita suara untuk menjerit atau paru-paru untuk menghembuskan napas. Suaraku hanyalah denging tegangan tinggi yang merayap halus di sepanjang kawat tembaga.

Pukul setengah enam pagi, kota mulai menggeliat dari tidur yang tidak pernah nyenyak. Lengang malam pelan-pelan tergerus oleh batuk kering mesin diesel bus kota dan raungan sepeda motor yang berebut celah aspal. Udara dingin perlahan mengental, berganti menjadi jelaga hitam dan bau timbal menyengat yang meresap ke sela-sela bautku yang mulai aus.

Di tengah kesibukan yang mulai memuncak, segerombolan anak sekolah berseragam putih-abu-abu kerap berkumpul di sekeliling pangkal kakiku. Mereka menunggu angkutan umum yang kerap berhenti sembarangan di persimpangan. Di antara mereka, ada seorang gadis berkacamata bulat dengan tas ransel kain yang warnanya sudah pudar.

Gadis itu bernama Siska. Pagi ini, ia berdiri tegak sambil memeluk map plastik berisi berkas latihan ujian. Matanya menatap lurus ke seberang jalan, tempat sebuah gedung pencakar langit berbingkai kaca cermin berdiri megah menjulang menembus awan pagi.

"Kalau lulus ujian masuk fakultas hukum nanti, aku mau kerja di gedung itu," kata Siska tiba-tiba. Suaranya terdengar jernih di tengah deru mesin yang bising.

Kawan di sebelahnya, seorang pemuda berjaket lusuh bernama Bayu, menoleh sambil terkekeh pelan. Bayu mengunyah gorengan dingin yang dibelinya dari pedagang keliling di sampingku.

"Jangan mimpi ketinggian, Sis," sahut Bayu sambil menyapu remah tepung di dagunya. "Di gedung itu isinya pengacara kelas atas. Lulusan kampus kita mah paling banter jadi staf administrasi di kantor kecamatan."

"Aku serius, Bay," potong Siska cepat. Matanya menyipit menahan silau sinar matahari yang mulai memantul dari kaca gedung. "Aku mau masuk ke dalam sana, bersihin mafia hukum yang bikin rakyat kecil kena tindas terus. Negara ini harus dibikin waras."

Bayu menepuk bahu Siska agak keras hingga gadis itu sedikit terdorong ke depan. "Gaji gede dulu yang dikejar, Sis. Ibu lu minggu lalu hampir berantem sama pemilik warung gara-gara utang beras belum dibayar."

Gelak tawa renyah pecah di antara kawan-kawan mereka. Siska tertunduk sejenak, menggigit bibir bawahnya rapat-rapat. Jemarinya mencengkeram erat map plastik di dadanya hingga buku-buku jarinya memutih.

Aku mendengarkan percakapan itu melalui getaran suara yang merambat dari aspal ke pangkal bajaku. Di dalam kepalaku, trafo bertegangan menengah mendesing makin keras. Aku ingin sekali berteriak pada anak gadis bersorot mata polos itu.

Aku ingin memberitahunya bahwa di lantai tiga puluh gedung megah itu, keadilan tidak lebih dari komoditas yang diperjualbelikan di atas meja mahoni. Di sana, berkas kasus rakyat kecil kerap ditumpuk di laci terbawah hingga kedaluwarsa, sementara berkas para korporat diselesaikan hanya dengan satu tiupan napas dan beberapa lembar cek dengan angka fantastis.

Namun, tidak ada suara yang bisa keluar dari rongga besiku. Yang tersisa hanyalah denging tembaga dingin yang tenggelam oleh deru klakson bus kota.

Angkutan umum berwarna biru tua akhirnya merapat dengan rem yang mencicit tajam. Asap knalpotnya yang hitam pekat menyembur tepat ke arah Siska dan kawan-kawannya, membuat mereka terbatuk-batuk kecil. Satu per satu dari mereka memanjat pintu angkutan, memanggul cita-cita yang masih wangi menuju sekolah, meninggalkan aku yang terus berdiri diterpa polusi.

Matahari merayap tepat ke puncak langit ketika jarum jam menunjukkan pukul dua belas siang. Panas memancar terik dari segala arah, dipantulkan oleh dinding-dinding kaca gedung dan permukaan aspal yang mulai melunak.

Suhu tubuh besiku meningkat drastis. Molekul-molekul logam di dalam diriku memuai pelan, menimbulkan getaran halus yang membuat baut-baut penopangku menggeletar. Karat di kulit luarku makin mengering dan melepuh, jatuh berguguran dalam bentuk serbuk cokelat ke atas trotoar.

Di bawah naungan bayang-bayang tubuhku yang sempit, Pak Joko menggelar dagangan rokok dan kopi seduhnya. Pria tua berkulit sawo matang itu duduk di atas kursi plastik patah, mengibas-ibaskan topi capingnya untuk mengusir hawa panas yang membakar.

Tak jauh dari situ, seorang kurir bersepeda motor yang mengenakan kemeja hijau kusam menepikan kendaraannya. Nama di dadanya tertera Danu. Ia melangkah gontai ke arah Pak Joko, lalu menyandarkan bahunya yang basah oleh keringat pada batang besiku.

"Kopi hitam satu, Pak. Gula dikit aja," ujar Danu dengan suara parau. Ia melepaskan helmnya, memperlihatkan rambut yang lepek menempel di dahi.

Danu menarik napas panjang, lalu merogoh saku celananya untuk mengeluarkan ponsel pintar yang sudah usang dan layarnya retak. Jarinya menari gusar di atas layar, memeriksa aplikasi antaran barang yang sejak pagi baru menghasilkan dua orderan.

"Orderan sepi, Mas?" tanya Pak Joko sambil menuangkan air panas dari termos seng yang sudah penyok.

"Hancur, Pak," jawab Danu sambil mengusap wajahnya kasar. "Sistemnya lagi acak-acakan. Dari pagi baru dapet tiga puluh ribu. Padahal anak saya di rumah lagi demam tinggi, butuh obat."

Pak Joko menyodorkan gelas plastik berisi kopi hangat. "Sabar, Mas. Namanya juga nyari makan di jalanan. Kadang rame, kadang nombok."

Danu mendengus pelan. Ia menyeruput kopinya sedikit, lalu menyandarkan kepalanya ke tubuh besiku. Aku dapat merasakan kelelahan yang luar biasa menjalar dari punggung pria itu, sebuah beban berat yang tidak terlihat namun sanggup meremukkan tulang-tulang manusianya.

Tiba-tiba, sebuah mobil SUV hitam mewah berpelat nomor khusus berhenti tepat di areal bertuliskan "Dilarang Parkir di Depan Trotoar". Kaca mobil yang gelap bergulir turun separuh. Seorang pria paruh baya bertuksedo rapi—wajahnya sering terpampang di baliho kampanye lingkungan—terlihat sedang bicara di telepon genggamnya.

Pria itu adalah Pak Wijaya, pemilik salah satu korporasi pengembang properti terbesar di kota ini. Dari posisiku yang agak tinggi, aku bisa mendengar jelas setiap kata yang keluar dari mulutnya melalui kaca jendela yang terbuka.

"Urus dokumen AMDAL-nya hari ini juga," seru Pak Wijaya dengan nada dingin dan tanpa ampun. "Kalau orang dinas lingkungan hidup masih banyak alasan, siram saja pakai uang kas proyek. Saya tidak mau tahu, minggu depan lahan rawa itu harus sudah didatarin."

Lawan bicaranya di telepon tampaknya mengungkapkan kekhawatiran soal potensi banjir yang akan menimpa permukiman warga di sekitar lahan rawa tersebut.

Pak Wijaya terkeh sinis. "Biarin saja mereka kebanjiran. Nanti tinggal kita kirim bantuan mi instan sama air bersih atas nama yayasan kita. Selesai, kan? Yang penting proyek lapangan golf tetap jalan."

Pria itu menutup teleponnya rapat-rapat, lalu menaikkan kembali kaca mobilnya sebelum SUV mewah itu melesat pergi, meninggalkan jelaga halus yang membumbung di udara.

Danu yang berada di dekatku menyapu pandang ke arah mobil itu dengan tatapan kosong. Ia tidak mendengar percakapan di dalam mobil, namun ia bisa merasakan keangkuhan yang memancar dari kendaraan mewah tersebut. Pria kurir itu menghembuskan napas panjang, merogoh lembaran uang lima ribuan yang lusuh dari sakunya untuk membayar kopi Pak Joko.

Saat Danu hendak berbalik menuju motornya, sebuah sepeda motor lain melintas dengan kecepatan tinggi dari arah gang samping. Pengendaranya tampak terburu-buru dan tidak memperhatikan tanda berhenti.

BRAK!

Benturan keras tak terhindarkan. Sepeda motor itu menghantam bagian samping kendaraan Danu yang terparkir. Danu berteriak kaget saat kendaraannya tumbang ke aspal, membuat boks antaran di jok belakang terlempar dan isinya berhamburan.

Keributan di siang hari itu menguap seiring berjalannya waktu. Ketika sang surya mulai tergelincir ke ufuk barat, langit di atas persimpangan berubah warna menjadi jingga keunguan yang pekat.

Sistem sensor otomatis di puncarku bekerja. Sebuah getaran listrik meloncat di dalam sakelar, dan dalam hitungan detik, lampu merkuri berdaya tinggi menyala terang. Cahaya keemasan menyembur ke bawah, menyapu trotoar yang penuh noda dan retakan.

Kota pada jam senja adalah pesulap yang ulung. Cahaya lampu-lampu jalan dan pendar neon dari toko-toko modern bertindak seperti bedak tebal yang menutupi wajah seorang wanita tua yang merana.

Gedung-gedung kaca memantulkan rona tembaga yang anggun. Kemacetan panjang yang tadinya terasa brutal dan penuh amarah, kini berubah menjadi deretan lampu belakang kendaraan yang merah menyala dari kejauhan, tampak syahdu bagaikan kalung permata yang melilit leher kota.

Di bawah temaram lampuku, sepasang muda-mudi melangkah pelan lalu duduk di pembatas jalan beton. Si pria mengenakan jaket pabrik bertuliskan nama sebuah perusahaan manufaktur otomotif, sedangkan si wanita memeluk tas belanja kain yang tampak berat.

Pria itu bernama Hendra, dan pasangannya adalah Sandra. Hendra menyandarkan bahunya yang lunglai ke batang besiku yang hangat bekas terik siang.

"Kontrak kerjaku nggak diperpanjang bulan depan, San," kata Hendra. Suaranya pelan, hampir tenggelam oleh desau angin malam yang mulai bertiup. "Pihak manajemen bilang mau ada pengurangan karyawan gara-gara efisiensi."

Sandra menghentikan jemarinya yang sedang merapikan tali tas. Ia menoleh menatap wajah Hendra yang tampak pucat di bawah sinar lampu merkuri.

"Lalu... rencana kita ambil unit rumah subsidi di pinggir kota gimana?" tanya Sandra, berusaha menjaga suaranya agar tidak bergetar.

Hendra menunduk dalam-dalam, menatap ujung sepatunya yang terkelupas. "Mungkin harus ditunda lagi, San. Atau malah batal sama sekali. Uang pesangon yang dijanjikan cuma cukup buat bayar kontrakan kita tiga bulan ke depan."

Hening merayap di antara mereka berdua. Sandra tidak menjawab. Ia hanya meraih tangan Hendra, menggenggam jemari pria itu rapat-rapat.

Dari sentuhan tubuh mereka yang menempel pada besiku, aku dapat merasakan denyut nadi Sandra yang berpacu kencang. Perempuan itu tersenyum tipis, sebuah senyuman terpaksa yang tampak sangat menyayat hati.

"Nggak apa-apa, Mas," bisik Sandra lembut. "Kita jalani dulu yang ada. Asal sama kamu, ngontrak di kamar sepetak pun aku nggak keberatan."

Itu adalah dusta yang sangat manis, dibuat demi menjaga agar kesadaran dan harapan pasangannya tidak hancur berantakan malam ini. Aku tahu pasti, sebab dua malam lalu, aku melihat perempuan itu menangis sendirian di bangku taman tak jauh dari sini, meratapi harga kebutuhan pokok yang terus melambung sementara tabungannya terus menguap.

Di sisi lain trotoar, pintu belakang sebuah restoran Jepang berbintang terbuka sedikit. Seorang pelayan muda bercelemek hitam melangkah keluar dengan terengah-engah. Nama di dadanya tertera Bagas.

Bagas memegangi pinggang bawahnya yang kaku. Ia telah berdiri dan melayani pelanggan selama empat belas jam nonstop tanpa jeda istirahat yang layak. Pemuda itu menyalakan sebatang rokok, membiarkan asapnya membubung ke arah kabel-kabelku.

"Lembur nggak dibayar, bonus dipotong gara-gara piring pecah satu," umpat Bagas pelan pada kegelapan gang. "Kalau bukan karena takut dosa, sudah kukuras isi laci kasir buat bayar cicilan motor adikku sama biaya perawatan bapak di Puskesmas."

Ia menghembuskan asap rokoknya keras-keras, mematikan puntungnya di dinding beton, lalu kembali masuk ke dalam dapur yang panas melalui pintu besi yang berderit.

Aku menyaksikan semuanya dari ketinggian. Di balik keindahan cahaya kota yang berkilauan bak intan permata, tersimpan penderitaan manusia yang ditimbun rapat-rapat. Kemiskinan dipoles menjadi estetika visual dalam potret senja para perantau, sementara keputusasaan disembunyikan di balik senyuman palsu dan unggahan media sosial.

Di seberang jalan, awan hitam pekat mulai berkumpul dengan cepat, menelan sisa-sisa warna jingga di langit malam.

Tetesan air hujan pertama jatuh menghantam puncarku dengan bunyi dentang nyaring seperti lemparan kerikil besi. Dalam hitungan menit, gerimis berubah menjadi hujan lebat yang mencambuk seluruh penjuru kota.

Air dingin membasahi kulit besiku yang panas, menimbulkan uap tipis yang berbau logam basah. Air hujan mengalir deras di sepanjang alur-alur karat di tubuhku, membawa serta debu, jelaga, dan serpihan kertas iklan yang hancur menjadi bubur.

Di bawah, air comberan meluap dari selokan yang mampet oleh sampah plastik. Genangan air hitam mulai merendam trotoar, menciptakan arus kecil yang menyapu sampah-sampah ringan ke arah persimpangan.

Angin malam bertiup makin kencang, menggoyangkan belitan kabel optik di kepalaku. Setiap kali kabel-kabel tebal itu terlempar ke udara, bahu besiku tertarik keras, menimbulkan tekanan hebat pada pondasi bawah tanahku.

Di situlah luka lamaku kembali menganga.

Sepuluh tahun lalu, sebuah truk kontainer dengan muatan berlebih mengalami rem blong saat meluncur di jalan menurun ini. Truk besar itu oleng, menaiki trotoar, dan menghantam pangkal kakiku dengan kekuatan luar biasa.

Saat itu, dentuman dahsyat menggetarkan bumi. Dudukan beton dua meter di bawah tanah retak hebat. Baut-baut pengikat utamaku patah, dan tiang besiku terdorong hingga condong tiga derajat ke arah jalan raya.

Petugas dinas kebersihan dan perhubungan datang keesokan harinya. Mereka melihat posisiku yang miring, memasang garis kuning, lalu berdiskusi sebentar. Bukannya membongkar dan menanam ulang tiang baru, mereka hanya memasang dua potong besi penyangga tambahan di pangkal kakiku dan mengelasnya secara darurat.

"Masih kuat ini," kata salah satu petugas kala itu sambil menepuk batang tubuhku. "Yang penting lampunya masih menyala."

Sejak hari itu, aku berdiri dengan tubuh condong, menahan beban kabel yang makin hari makin bertambah berat. Besi penyangga darurat itu kini sudah keropos dimakan usia, dan retakan beton di bawah tanah semakin melebar setiap kali hujan deras turun mengguyur.

Di tengah derasnya hujan dini hari, seorang pria tua berjalan pincang sambil menyeret gerobak kayu penuh barang bekas. Pria itu adalah Mbah Sastro, seorang pemulung yang biasa beroperasi di sepanjang jalan protokol ini.

Mbah Sastro berteduh di bawah teritisan toko kain yang tutup, tepat di sebelah tiangku. Tubuhnya yang kurus menggigil hebat dibalik jas hujan plastik yang sudah robek di beberapa bagian.

Ia menatap ke arahku, lalu tersenyum tipis memperlihatkan deretan gusi yang hampir ompong.

"Koen ya masih bertahan di situ, Tiang tua?" gumam Mbah Sastro pelan, suaranya hampir tertutup oleh gemuruh hujan. "Sama seperti aku... ditabrak zaman tapi nggak bisa ambruk."

Pria tua itu mengeluarkan sebungkus nasi dingin sisa warung yang ia temukan di tempat sampah, lalu membaginya dengan seekor kucing jalanan yang ikut berteduh di samping kakinya. Mereka makan dalam diam, dikepung oleh guyuran air yang seolah ingin membasuh seluruh dosa kota ini.

Tak jauh dari situ, di balik bayang-bayang tiangku yang terlindung dari lampu toko, dua orang pria berpakaian serba hitam tampak berbisik-bisik. Salah seorang dari mereka adalah petugas pemeriksa sarana kota, sedangkan yang lainnya adalah perwakilan pemilik kelab malam yang berdiri di ujung jalan.

Sebuah kantong plastik berisi tumpukan uang berpindah tangan dengan cepat di balik punggungku.

"Urus sertifikat layak fungsi gedung itu," kata pemilik kelab malam dengan nada menekan. "Soal pintu darurat yang tersumbat, buat saja catatan bahwa itu sedang dalam perbaikan."

Petugas itu meraba tebalnya kantong plastik di dalam jaketnya, lalu mengangguk pelan. "Beres. Asal uang sisanya transfer besok pagi sebelum jam sembilan."

Mereka berpisah menuju arah yang berlawanan, menyatu kembali dengan kegelapan malam.

Aku merasakan kemarahan yang membakar dari dalam rongga tembagaku. Tegangan listrik di dalam kabelku meloncat-loncat liar, menghasilkan kilatan percikan api biru di dekat trafo atas. Aku ingin memutus arusku sendiri, menjatuhkan kabel bertegangan tinggi itu tepat ke atas kepala orang-orang brengsek seperti mereka.

Namun, hukum fisika menahanku. Aku hanyalah perantara mati yang dipaksa menyaksikan segalanya tanpa mampu mengubah apa pun.

Gemuruh angin makin menjadi-jadi. Petir menyambar di langit malam, memancarkan cahaya putih yang menyilaukan. Di bawah tanah, beton retak tempat kakiku tertanam bergeser beberapa milimeter lagi.

Pukul empat pagi, curah air mencapai puncaknya. Hujan badai menerjang kota tanpa ampun, membawa angin kencang yang sanggup merobohkan papan-papan reklame berukuran sedang di sepanjang jalan.

JAS-JAS!

Percikan api membumbung tinggi dari trafo utama di puncarku saat salah satu kabel jaringan terkelupas akibat tergesek dahan pohon yang patah. Cahaya kebiruan menerangi persimpangan jalan yang sepi selama beberapa detik sebelum aliran listrik di jalur sebelah kiri mendadak padam total.

Deretan lampu toko dan lampu jalan di jalur tersebut mati, tersisa gelap yang merayap. Hanya lampuku yang masih bertahan menyala, berkedip-kedip tidak stabil karena fluktuasi tegangan yang parah.

Tekanan angin yang menerjang dari arah samping makin tidak terkendali. Belitan kabel optik yang basah dan berat bertindak seperti layar kapal yang ditarik kencang, memaksakan gaya dorong hebat pada batang tubuhku yang condong.

KREK...

Suara erangan besi tua bergema pelan di tengah deru hujan. Besi penyangga darurat di pangkal kakiku akhirnya patah. Kemiringan tubuhku bertambah dari tiga derajat menjadi lima derajat ke arah jalan raya.

Di bawah, di dalam kegelapan dan guyuran hujan yang ganas, beberapa jiwa masih berkeliaran di sekitar persimpangan.

Danu, sang kurir bermotor yang mulai bekerja sejak sebelum subuh demi kejar setoran, tampak mendorong kendaraannya yang mogok akibat banjir yang merendam karburatornya. Wajahnya pucat pasi, matanya menyipit menembus tirai air hujan.

Siska yang menenteng plastik kresek hitam besar berisi jajanan pasar buatan ibunya, berlari kecil terburu-buru sambil merentangkan payung lipat menuju pasar tradisional yang masih sedikit bertahan di kota ini. Ia berharap segera sampai pasar untuk menitipkan jajanan itu pada bibinya yang sudah menunggu. Inilah rutinitas sehari-hari Siska sebelum berangkat sekolah.

Sementara itu, di bawah halte bus yang berjarak hanya beberapa meter dari pangkal kakiku, Sandra dan Hendra meringkuk bersama. Mereka saling memeluk untuk mengusir rasa dingin yang menusuk tulang, menunggu hujan mereda sebelum melanjutkan perjalanan pulang dari tempat tinggal kerabatnya.

Aku merasakan getaran berbahaya di dalam struktur bajaku. Jika aku ambruk sekarang, tubuh besiku yang seberat ratusan kilogram akan menghantam halte dan jalan raya, memutuskan seluruh jaringan listrik dan menimpa siapa saja yang berada di bawahku.

Akar-akar betonku yang tersisa di dalam tanah berjuang mempertahankan cengkeramannya. Aku mengumpulkan seluruh sisa kekuatan dari molekul-molekul baja tuangku, menahan dorongan angin yang seakan ingin merobohkan seluruh ingatan tentang kota ini.

"Tahan..." bisik gema listrik di dalam dadaku. "Satu jam lagi. Hanya tinggal satu jam lagi sampai fajar tiba."

Aku membiarkan arus bawahku yang bertegangan tinggi terus mengalir melalui urat-urat tembagaku, menjaga agar cahaya lampuku tetap terpancar terang, menjadi satu-satunya titik terang yang memandu langkah manusia-manusia terbuang di bawah sana.

Danu melihat pendar lampuku dan menggunakan cahayanya untuk menuntun motornya berteduh di bawah teritisan toko. Siska melangkah mengikuti bayangan lampuku agar tidak terperosok ke dalam lubang trotoar yang terbuka.

Badai perlahan-lahan mulai kehilangan tenaganya ketika garis kemerahan memancar di ufuk timur. Hujan deras mereda menjadi gerimis tipis yang menenangkan. Angin kencang berlalu, meninggalkan jalanan yang tergenang air dan dipenuhi sampah daun serta ranting patah.

Lampu merkuriku mati secara otomatis saat sinar matahari pagi mulai menerobos ketebalan awan.

Aku masih berdiri. Tubuhku kini lebih condong dari sebelumnya, retakan di pangkal kakiku makin menganga, namun aku tidak ambruk. Aku berhasil melewati malam paling parah dalam dekade ini.

Pukul enam pagi, kota terbangun kembali dengan rutinitasnya yang abadi. Bus-bus kota kembali meraung garang, menyemburkan asap hitam ke udara. Para pekerja bergegas melangkah di atas trotoar basah, tidak menyadari bahwa tiang besi yang mereka lewati hampir saja merenggut nyawa mereka beberapa jam yang lalu.

Sandra dan Hendra melintas di trotoar dengan pakaian yang sedikit basah, mereka begandengan tangan saling menguatkan. Langkah kakinya terhenti sejenak di samping pangkal kakiku. Perempuan lemah lembut itu menatap ke arah tiangku yang kini tampak makin miring.

Ia mengulurkan tangannya yang halus, menyentuh kulit besiku yang dingin dan basah selama satu detik. Ada simpati yang aneh di dalam matanya, seolah ia bisa merasakan kelelahan yang tersimpan di dalam struktur logamku.

Di sisi jalan yang berjarak beberapa meter dariku, Siska menatap ke arah gedung pencakar langit berbingkai kaca di seberang jalan yang kini mulai memantulkan sinar matahari pagi yang hangat. Matanya tidak lagi sepolos kemarin pagi; ada keteguhan baru yang tertanam di sana, sebuah keberanian yang ditempa oleh badai semalam.

Gadis itu merapikan tali ranselnya, berjalan di atas garis penyeberangan, dan melangkah mantap menuju masa depannya.

Aku memperhatikan punggungnya yang makin menjauh sampai melenyap di antara kerumunan manusia. Aku membiarkan arus listrik siang mulai mengisi kembali sel-sel bajaku, bersiap menghadapi panas yang menyengat, polusi yang meracuni, dan rahasia-rahasia baru yang akan dibisikkan manusia di bawah kakiku.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Slice of Life
Rekomendasi