** NB: EPISODE 2. LANJUTAN DARI (BAYANG DI BALIK SINGGASANA) **
**********
Pasukan di luar gerbang tidak bergerak. Obor-obor mereka membentuk lingkaran merah yang mengitari Keraton Wisesa seperti kalung api. Dari dalam, Raja Wira Bhumi masih menatap tubuh Raden Surya yang tergeletak di lantai balairung. Darah putra mahkota—atau yang ia kira putra mahkota—telah membentuk genangan gelap di antara ukiran batu.
Patih Jayeng berdiri perlahan. Wajahnya masih tenang, tetapi ada retakan kecil di sudut matanya.
“Paduka harus memilih,” katanya. “Buka gerbang dan hadapi panglima itu, atau biarkan pasukan ini menghancurkan istana dari luar.”
Raja menoleh tajam. “Panglima siapa?”
“Panglima Arung,” jawab Jayeng. “Orang yang Paduka kirim ke perbatasan utara tiga tahun lalu. Orang yang Paduka kira sudah mati.”
Raja Wira Bhumi terdiam. Ingatan itu datang seperti pisau: surat kematian palsu, laporan yang ia perintahkan untuk dipalsukan, dan sumpah yang ia ucapkan di depan dewa bahwa tidak ada lagi darah timur yang tersisa.
“Dia datang untuk apa?” tanya Raja.
“Untuk tahta yang seharusnya menjadi milik Surya,” jawab Jayeng. “Dan untuk darah yang Paduka hutangkan.”
Raja berdiri dari singgasana. Tubuhnya goyah, tetapi ia memaksakan diri untuk tegak. “Kumpulkan pengawal. Kita akan bicara di gerbang.”
Jayeng menunduk. “Seperti yang Paduka perintahkan.”
Para menteri bubar dengan cepat. Beberapa di antaranya melirik tubuh Surya dengan pandangan yang sulit dibaca: ada yang sedih, ada yang lega, ada yang hanya ingin selamat dari malam ini.
Raja Wira Bhumi melangkah keluar balairung dengan langkah berat. Di belakangnya, dua pengawal membawa jenazah Surya dengan kain putih. Lampu minyak di sepanjang lorong istana bergoyang oleh angin malam, membuat bayangan mereka menari seperti hantu.
Di gerbang utama, Panglima Arung sudah menunggu. Ia berdiri di atas kuda hitam, dengan baju besi yang lusuh oleh debu perjalanan. Di punggungnya tergantung pedang panjang, dan di matanya ada api yang tidak pernah padam.
“Raja Wira Bhumi,” suaranya menggelegar. “Tiga tahun aku menunggu malam ini.”
Raja menatapnya dari atas tembok gerbang. “Arung, kau masih hidup?”
“Cukup hidup untuk melihat Paduka membayar,” jawab Arung. “Di mana Surya?”
Raja menoleh ke pengawal. Kain putih dibuka sedikit, memperlihatkan wajah Surya yang pucat. Arung menatapnya lama, lalu menutup mata.
“Jadi benar,” katanya. “Ia mati sebelum sempat tahu.”
“Tahu apa?” tanya Raja.
Arung membuka mata. Sorotnya tajam. “Bahwa ia bukan satu-satunya. Bahwa darah timur masih punya cabang lain. Bahwa malam ini bukan tentang membalas dendam, tetapi tentang mengembalikan tahta kepada yang berhak.”
Raja Wira Bhumi merasakan dingin menjalar di punggungnya. “Apa maksudmu?”
Arung turun dari kuda. Ia melangkah ke depan gerbang, sampai hanya terpisah beberapa tombak dari Raja. “Surya punya adik. Perempuan. Umurnya dua tahun lebih muda. Ia selamat dari pembantaian itu karena disembunyikan oleh pengasuh setia.”
Jayeng, yang berdiri di samping Raja, bergerak kecil. “Di mana ia sekarang?”
“Di tempat yang aman,” jawab Arung. “Dan malam ini, ia akan datang.”
Seolah menjawab ucapannya, dari kegelapan di belakang pasukan, seorang perempuan muda melangkah keluar. Ia mengenakan jubah cokelat sederhana, tetapi sorot matanya sama persis dengan Surya: tenang, tajam, dan penuh tekad.
Raja Wira Bhumi merasakan lututnya goyah. “Siapa kau?”
Perempuan itu berhenti di depan gerbang. “Namaku Kirana. Dan aku datang untuk mengambil kembali apa yang menjadi milikku.”
Raja menatap Jayeng. “Kau tahu tentang ini?”
Jayeng menunduk. “Ya, Paduka. Hamba tahu sejak awal.”
“Kenapa kau diam?”
“Karena menunggu saat yang tepat.”
“Dan malam ini adalah saat itu?”
“Malam ini adalah akhir dari kebohongan,” kata Jayeng. “Dan awal dari kebenaran.”
Raja Wira Bhumi tertawa kecil, tapi tawanya pahit. “Kalian semua sudah merencanakan ini?”
“Bukan rencana,” kata Kirana. “Takdir.”
Ia menatap Raja dengan pandangan yang tidak gentar. “Ayahku dibunuh dengan racun. Ibuku dibakar hidup-hidup di istana timur. Kakakku dibesarkan dengan nama palsu dan mati karena kebenaran yang terlalu lama disembunyikan. Sekarang aku datang bukan untuk meminta maaf. Aku datang untuk mengambil tahta.”
Raja Wira Bhumi menarik keris dari pinggangnya. “Kau pikir kau bisa merebut keraton ini dengan satu perempuan dan satu panglima?”
Kirana tersenyum tipis. “Tidak hanya satu panglima.”
Ia mengangkat tangan. Dari belakang pasukan, muncul puluhan prajurit dengan lambang matahari terbelah di dada. Mereka bukan pasukan adipati. Mereka bukan pemberontak. Mereka adalah sisa-sisa pasukan timur yang selama ini bersembunyi, menunggu, dan kini siap untuk perang.
Raja Wira Bhumi menatap mereka semua: Arung dengan pedangnya, Kirana dengan mata yang sama seperti Surya, Jayeng dengan wajah yang tidak bisa dibaca, dan pasukan timur yang sudah terlalu lama menahan dendam.
“Baik,” katanya pelan. “Jika ini yang kalian mau, maka malam ini akan menjadi malam terakhir bagi Keraton Wisesa.”
Ia menoleh ke pengawal. “Tutup gerbang. Siapkan pasukan. Kita akan berperang.”
Tapi sebelum perintah itu dilaksanakan, Kirana sudah lebih dulu berbicara.
“Tidak perlu perang,” katanya. “Serahkan tahta, dan tidak ada darah yang perlu tumpah lagi malam ini.”
Raja Wira Bhumi menatapnya lama. “Dan jika aku menolak?”
Kirana menarik keris kecil dari balik jubahnya. “Maka aku akan mengambilnya dengan cara yang sama seperti ayahku dulu: dengan darah.”
Angin malam berhembus kencang, membawa bau asap dari obor dan bau besi dari senjata. Di lantai balairung, tubuh Surya masih tergeletak dengan darah yang belum kering. Dan di luar gerbang, dua pasukan sudah siap untuk saling membunuh.
Raja Wira Bhumi menutup mata. Ia tahu malam ini ia sudah kalah, bahkan sebelum perang dimulai.
“Buka gerbang,” katanya akhirnya.
Gerbang Keraton Wisesa terbuka perlahan. Dan Kirana melangkah masuk, bukan sebagai penakluk, tetapi sebagai pemilik tahta yang kembali.