Disukai
2
Dilihat
8
RIUH SENYAP
Slice of Life
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Langit sore selalu punya cara yang sama untuk mengingatkan mereka pada masa kecil, warna jingga yang lembut, seperti pelukan yang tidak pernah benar-benar pergi.

Di sebuah gang kecil yang dipenuhi suara anak-anak dan aroma gorengan dari ujung jalan, dua anak perempuan pernah tumbuh bersama tanpa tahu arti “perpisahan.”

“Aku duluan sampai!”

“Eh curang! Kamu lari!”

Tawa itu pecah lagi. Selalu begitu.

Jena dan Vela.

Dua nama yang hampir selalu disebut bersamaan, seolah dunia memang menciptakan mereka sebagai satu paket kebahagiaan. Mereka bukan sekadar teman. Mereka adalah rumah satu sama lain, tempat pulang setelah hari yang melelahkan, tempat menyimpan rahasia kecil yang bahkan tidak berani mereka tulis di buku harian.

Sejak kecil, semuanya selalu dilakukan berdua.

Berangkat sekolah bareng.

Duduk di bangku yang sama.

Bahkan membeli jajanan pun harus dibagi dua, walau kadang yang satu diam-diam mengambil lebih banyak, lalu pura-pura tidak tahu saat yang lain protes.

“Aku nanti mau jadi apa ya?” tanya Vela suatu sore, sambil menggambar sesuatu di tanah dengan ranting kecil.

Jena berpikir sebentar, lalu menjawab santai, “Apa aja. Yang penting kita tetap bareng.”

Vela tersenyum. Jawaban yang sederhana, tapi entah kenapa terasa cukup untuk saat itu.

Mereka percaya satu hal yang sama:

tidak ada yang bisa memisahkan mereka.

Waktu berjalan seperti biasa, tanpa terasa.

Masa kecil yang penuh lumpur dan tawa berubah menjadi masa remaja yang sedikit lebih rumit. Seragam berubah, cara bicara berubah, dunia mereka mulai melebar.

Tapi satu hal tetap sama.

Mereka masih bersama.

Di bangku sekolah menengah, mereka masih duduk berdampingan. Masih saling tukar cerita, tentang guru yang menyebalkan, tugas yang tidak ada habisnya, sampai hal-hal kecil yang hanya mereka berdua yang mengerti.

“Jen,” panggil Vela suatu hari, suaranya sedikit berbeda dari biasanya.

“Hm?”

“Kamu pernah gak sih… suka sama seseorang?”

Jena berhenti menulis. Ia melirik Vela, lalu tersenyum kecil.

“Kenapa tiba-tiba nanya gitu?”

Vela mengangkat bahu, mencoba terlihat santai.

“Gak apa-apa. Cuma nanya aja.”

Jena menggeleng pelan, lalu kembali menulis.

“Belum. Ribet kayaknya.”

Vela tertawa kecil, lalu menyenggol lengan Jena pelan.

“Udah ah, lanjut nulis. Nanti dimarahin.”

Jena ikut tertawa, kembali menatap bukunya.

Percakapan itu berakhir begitu saja—

ringan, tanpa makna yang perlu dipikirkan lebih jauh.

Kelas kembali berjalan seperti biasa.

Suara guru, coretan pena, dan sesekali tawa kecil dari bangku belakang menjadi latar yang akrab bagi mereka.

Tidak ada yang berubah.

Tidak ada yang berbeda.

Hanya dua sahabat

yang masih menjalani hari-hari mereka seperti biasanya, bersama.

Keesokan hariny...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp1.000
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)