Flash Fiction
Disukai
0
Dilihat
11
Bayang di Balik Singgasana
Sejarah
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Malam turun di atas Keraton Wisesa seperti kain kafan yang disampirkan perlahan. Lampu minyak di balairung bergoyang oleh angin dari celah jendela, membuat bayangan para pejabat menari di dinding batu. Raja Wira Bhumi duduk di singgasana tanpa bergerak, tetapi seluruh isi istana tahu malam itu bukan malam untuk diam.

Di hadapannya, Patih Jayeng berdiri dengan tangan terlipat di depan dada. Wajahnya tenang, seperti orang yang terlalu lama menyimpan pisau di balik selimut.

“Utusan dari barat tak kembali,” kata Raja. Suaranya rendah, berat, dan lelah. “Lumbung di utara terbakar. Dua kadipaten mulai menahan upeti. Katakan padaku, Patih, siapa yang menggerakkan semua ini?”

Jayeng menunduk sesaat. “Hamba menduga ada tangan dari dalam.”

“Siapa?”

“Kalau Paduka berkenan,” ucap Jayeng, “malam ini hamba akan menyebut nama yang paling dekat dengan tahta.”

Ruang balairung seketika menjadi dingin. Para menteri saling pandang, dan para pengawal di sisi pilar merapatkan tombak. Di sisi kiri singgasana, Raden Surya, putra mahkota, berdiri tegak. Sorot matanya tenang, seperti lelaki yang sudah terlalu lama menatap perang.

“Lanjutkan,” kata Raja.

Jayeng mengangkat wajah. “Cap rahasia istana dipakai untuk mengirim surat kepada adipati barat. Hanya orang dalam yang bisa menggunakannya. Dan tanda itu—” ia menoleh ke Raden Surya “—adalah milik putra mahkota.”

Tak ada suara. Bahkan desir angin pun seakan tertahan.

Raden Surya tidak kaget. Ia justru tersenyum tipis. “Tuduhan berat harus disertai bukti.”

Jayeng membuka gulungan kulit dari balik jubahnya. Di dalamnya ada salinan surat dan cap kerajaan. Di bawahnya tertulis nama yang sama: Raden Surya.

Raja Wira Bhumi menatapnya lama. “Surya, apakah ini benar?”

Putra mahkota menatap ayahnya tanpa gentar. “Jika hamba menjawab tidak, apakah Paduka akan percaya?”

“Jawab saja.”

“Baik.” Surya melangkah ke depan. “Sebagian benar, sebagian dusta.”

Jayeng menyipitkan mata. “Kau hendak membelah pengkhianatan menjadi kebijaksanaan?”

“Tidak,” jawab Surya. “Hamba hendak menyingkap siapa yang menggali lubang di bawah singgasana.”

Ia menatap para menteri. “Patih Jayeng adalah orang yang mengirim surat-surat itu. Patih Jayeng pula yang membakar lumbung, menyusun kabar palsu, dan menyingkirkan utusan yang tak sejalan. Semua ini untuk memaksa raja kehilangan kendali.”

Jayeng tidak bereaksi. Namun jari telunjuknya bergerak kecil, hampir tak terlihat.

Raja berdiri dari singgasana. “Aku tak akan membiarkan malam ini berubah menjadi pengadilan. Jayeng, Surya, kalian berdua akan bicara jujur.”

Jayeng menunduk. “Kalau begitu, izinkan hamba membuka seluruh isi malam ini.”

Ia melangkah ke tengah balairung. Lampu minyak di atas kepalanya membuat bayangannya jatuh panjang ke lantai. “Benar,” katanya. “Hamba memang mengatur pergerakan itu. Hamba menghubungi adipati barat. Hamba sengaja menyalakan api di lumbung agar para mata-mata yang bersembunyi keluar.”

“Alasan yang mulia untuk pengkhianatan,” ujar Surya dingin.

Jayeng menoleh tajam. “Dan alasan yang mulia untuk menutupi kenyataan bahwa kau sendiri yang lebih dulu mengirim pesan.”

Surya tertawa kecil. “Kau kehilangan kendali, Patih.”

“Tidak,” kata Jayeng. “Aku justru baru memegangnya.”

Ia mengeluarkan segel perunggu berbentuk matahari terbelah. Lambang itu tua, nyaris punah, tetapi para menteri yang paling senior masih mengenalinya.

“Lambang dinasti lama,” bisik seorang tua.

Raja Wira Bhumi menatap benda itu. “Dari mana kau mendapatkannya?”

“Dari tangan orang yang Paduka anggap putra mahkota.”

Surya menatap segel itu, lalu kembali menatap raja. Matanya tetap tenang, namun ada sesuatu yang retak.

“Paduka ingat malam saat istana lama terbakar?” tanya Jayeng pelan. “Hamba menemukan anak kecil di antara puing-puing. Hamba selamatkan dia. Hamba besarkan dia. Hamba ajarkan cara berdiri di dekat tahta tanpa gemetar.”

Balairung berguncang oleh bisik-bisik tertahan.

“Dan anak itu,” lanjut Jayeng, “adalah Surya.”

Raja terdiam. Wajahnya memucat.

Surya menghela napas panjang. “Jadi akhirnya dibuka juga.”

Raja menatapnya liar. “Apa maksud semua ini?”

Surya melangkah maju. “Hamba bukan darah Paduka.”

“Dusta.”

“Tidak.” Suaranya tetap datar. “Ayah hamba adalah raja tua dari timur, yang gugur setelah berusaha menyatukan dua negeri. Paduka membunuhnya bukan di medan perang, tetapi lewat sumpah palsu dan jamuan racun.”

Raja mundur satu langkah. “Kau berani berkata begitu?”

“Patih Jayeng tahu sejak awal.”

Balairung berubah menjadi kubangan bisik. Raja menatap Jayeng dengan mata bergetar. “Kau tahu?”

Jayeng berlutut. “Ya, Paduka. Sejak hari hamba menyelamatkannya.”

“Kenapa kau diam?”

“Karena negeri ini butuh keturunan yang dianggap sah agar tak pecah sebelum waktunya.”

Surya menatap mereka berdua dengan senyum pahit. “Jadi aku dijadikan pilar untuk menopang kebohongan?”

“Untuk menjaga negeri,” kata Jayeng.

“Dengan membohongi tahta?”

“Dengan menunda perang.”

Surya menatap Raja Wira Bhumi lama sekali, lalu menarik keris dari pinggangnya. Semua pengawal maju serentak, tetapi ia mengangkat tangan.

“Kalian salah paham,” ucapnya tenang. “Aku tak datang untuk membunuh raja.”

Keris itu berputar di tangannya, lalu diarahkan ke dadanya sendiri.

“Tidak!” teriak Raja.

Terlambat.

Keris masuk ke dada Surya dengan satu gerakan cepat. Tubuhnya terhuyung, darah mengalir deras ke lantai batu. Para pengawal mendekat, tetapi Surya jatuh lebih dulu.

Saat tubuhnya miring ke samping, lengan kirinya tersingkap. Di sana ada tanda lahir berbentuk matahari terbelah, sama persis dengan lambang dinasti lama.

Raja mematung.

Jayeng memejamkan mata. “Sekarang Paduka tahu,” katanya lirih. “Yang selama ini duduk di dekat tahta bukan anak musuh. Ia darah yang Paduka kubur hidup-hidup.”

Raja Wira Bhumi bergetar. “Tidak... itu mustahil...”

Surya menatap ayahnya untuk terakhir kali. “Bukan aku yang palsu,” bisiknya. “Yang palsu adalah sejarah yang Paduka pilih.”

Lonceng perang tiba-tiba berbunyi dari kejauhan.

Dari luar istana, obor-obor menyala berderet di gelap malam. Pasukan mengepung keraton. Bukan pasukan adipati barat. Bukan pula pemberontak.

Itu pasukan kerajaan sendiri.

Jayeng menoleh ke arah pintu. Raja Wira Bhumi memandangnya, lalu memandang tubuh Surya yang tergeletak di lantai. Pada saat itulah ia mengerti: intrik yang ia sangka bisa dikendalikan ternyata sudah lebih dulu menelan semua orang di dalamnya.

Dan di luar, suara seorang panglima bergema dari balik gerbang:

“Waktu tahta palsu berakhir malam ini.”

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Sejarah
Rekomendasi