Petak Umpet

“Mau ke mana, Din?” tanya Bu Aminah ketika melihat putra semata wayangnya yang baru berumur lima tahunan membuka pintu rumah.

Udin mengurungkan niat membuka pintu ketika menyaksikan kedua mata sang mama yang memandang tajam ke arahnya.

“Mau main, Ma,” ujar anak itu dengan agak takut, lalu berpaling menatap Pak Hamid, memohon papanya agar mendukung keinginannya.

Pak Hamid tersenyum lembut, lalu meraih cangkir berisi kopi hitam dari atas meja dan menyeruputnya sedikit.

“Biarin Udin main, Ma. Dia pasti merasa jenuh di rumah terus. Paling mainnya di lapang sebelah. Dekat, kan?”

Setelah hampir sepuluh menit Bu Aminah memberi wejangan, lengkap dengan panduan protokol kesehatan, wanita paruh baya itu akhirnya mengizinkan Udin untuk bermain. Bahkan, setelah Udin ke luar dari rumah pun, Bu Aminah masih saja meneriakkan wejangan terakhirnya dari arah ruang tengah. Sementara Pak Hamid hanya menanggapi kekhawatiran istrinya dengan senyum tipis.

“Din, mainnya jangan lama-lama! Maskernya dipake!"

***

Udin tak mampu menutupi rasa bahagianya. Sebab, sejak pandemi merebak, baru kali ini mamanya mengizinkan dia bermain di luar. Dia bergegas menuju lapang Danalaga, bergabung dengan anak-anak yang rata-rata memiliki usia di atas dirinya.

Namun, memang dasarnya Udin itu anak yang baik dan penurut, lebih tepatnya takut pada mama, baru lima belas menit meninggalkan rumah, dia sudah pulang.

Bu Aminah menghampiri Udin dengan tergopoh-gopoh sembari memasang wajah panik. Begitu juga dengan Pak Hamid. Pria berkacamata itu mengamati setiap jengkal badan Udin, khawatir ada yang terluka.

“Kamu kenapa nangis? Bilang sama Mama, siapa yang udah jahatin kamu?”

“Kamu jatuh? Atau dipukul? Mana yang sakit, Din? Papa obati, ya.”

Mendapat interogasi dari kedua orang tuanya, tangis Udin malah semakin keras. Bu Aminah dan Pak Hamid saling pandang dengan menunjukkan raut khawatir serta merasa bingung.

“Hayuk, ikut Mama. Tunjukkin muka anaknya ke Mama. Biar Mama kasih pelajaran!” Bu Aminah menarik tangan Udin dan membawanya ke lapang sebelah. Disusul oleh Pak Hamid, usai mengunci pintu rumah.

Tiba di lapang, Bu Aminah mencak-mencak sembari berkacak pinggang. Anak-anak yang tengah bermain di situ tampak terkejut dan merasa takut. Tak ada yang berani bersuara. Hanya bunyi ocehan Bu Aminah yang terdengar membahana.

“Hayo ngaku? Siapa yang udah mukul Udin sampai nangis nggak berhenti-berhenti?”

“Tenang, Ma, tenang!” Pak Hamid berusaha menenangkan istrinya yang bagai singa kelaparan hendak menelan mangsanya. Sesekali, dia tersenyum pada tetangga yang kebetulan lewat dan menyapa, sembari menahan malu.

“Tenang gimana, sih, Pa? Ibu mana yang nggak sakit hati anaknya dizalimi?"

“Iya, Papa paham. Sebaiknya, kita tanya langsung sama Udin, Ma. Din, kamu kenapa sampai nangis begini?”

“Udin tadi diajak main petak umpet. Disuruh berhitung sampai sepuluh sambil tutup mata,” terang Udin di sela-sela isak tangisnya.

Pak Hamid, Bu Aminah, dan semua anak-anak masih penasaran, menunggu penjelasan Udin yang mulai sesenggukan lagi.

“Terus kamu dipukul? Sama siapa?” cecar Bu Aminah penasaran.

Udin menggeleng sambil terus menangis.

“Kamu dijaili?” Kali ini Pak Hamid yang bertanya.

Udin menggeleng lagi.

“Pas Udin buka mata, nggak ada siapa-siapa. Udin ditinggal sendirian. Mereka semua pulang.”

Pak Hamid dan Bu Aminah saling pandang. Untung saja tak ada anak yang jadi korban salah sangka.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

11 disukai 10 komentar 1.8K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
@Rudi 🤭
Ebuseeeet, hahaha.
@Mufidah, iya, Kak 😅
@hendra Iya, nanti nangisnya malah makin kencang
Bikin rusuh si Udin. Hahaha
Cup-cup-cup.
Sudah. Udin jangan nangis. Entar benar2 ditinggal ma teman2mu loh😁
@Lirin, iya, Kak 🤭
polosnya kamu, nak hahaha
🤭iya, Kak
Tokohnya islami semua😊
Saran Flash Fiction