Disukai
0
Dilihat
89
Lentera di Balik Kabut London
Romantis
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Arkan Al Ghazi, pemuda sederhana asal pinggiran Yogyakarta, bertarung menaklukkan studinya di London dengan ikatan beasiswa yang menuntut kesempurnaan mutlak. Di tengah kesepian kota asing yang menusuk tulang, pertemuannya dengan Clarissa Evelyn Vance—seorang gadis jelita yang ternyata putri tunggal seorang konglomerat terkemuka Inggris—membuka ruang kehangatan yang tak terduga. Namun, ketika nilai akademiknya merosot dan ancaman pemutusan beasiswa tiba, Arkan terhimpit dalam dilema batin yang menyiksa: apakah cinta adalah kemewahan terlarang yang mengkhianati amanah keluarganya?*

═━═━═━═ ◈ ◈ ◈ ═━═━═━═

Bab 01: Dentang Westminster dan Nafas Beku Earl's Court

Amanah Bermaterai di Negeri Asing yang Dingin. Lokasi: Earl's Court & South Kensington, London | Waktu: Awal Musim Gugur, Oktober

✦ ──── ✦ ──── ✦

"Bagi anak rantau yang berangkat dengan doa kaum dhuafa, kegagalan bukan sekadar aib; ia adalah vonis pengkhianatan atas harapan yang tak mampu dibeli dengan uang."

Kabut tebal menggantung rendah di atas atap-atap bata kelabu South Kensington ketika Arkan Al Ghazi melangkah keluar dari stasiun bawah tanah. Hembusan angin Oktober menyapu permukaan trotoar yang basah oleh sisa gerimis pagi, membawa aroma khas London: perpaduan antara uap kopi pahit, debu rel kereta Tube, dan dingin yang merayap perlahan menembus mantel wol bekas yang ia beli di pasar loak Bayswater seharga dua belas poundsterling. Arkan mengeratkan lilitan syal rajutan tangan ibunya di leher. Benang wol murah berwarna marun itu adalah satu-satunya benteng pertahanan yang terasa akrab di tengah kota megah yang sama sekali tidak peduli pada eksistensinya.

Dua bulan telah berlalu sejak pesawat Garuda Indonesia mendaratkannya di Heathrow, namun tubuh dan pikirannya seolah masih tertinggal di sebuah rumah berdinding semen tak diplester di sudut barat Yogyakarta. Di kantong dalam ranselnya yang lusuh, tersimpan selembar salinan kontrak bersegel dinas Kementerian: Beasiswa Unggulan Cendekia Garuda. Di atas kertas berlogo garuda emas itu, tertera klausul hitam di atas putih dengan ketegasan tanpa ampun: mahasiswa diwajibkan mempertahankan peringkat akademis dengan predikat First Class Merit atau rata-rata nilai minimal 70 persen pada setiap kuartal evaluasi. Keterlambatan tugas akhir, ketidakhadiran tanpa alasan medis yang diverifikasi konsulat, atau penurunan prestasi di bawah ambang batas akan berujung pada penghentian tunjangan hidup seketika dan kewajiban ganti rugi seluruh dana perkuliahan.

Bagi orang lain, angka 70 persen mungkin terdengar seperti tantangan yang terukur. Namun di Imperial College London, pada program Master of Science in Energy Economics and Stochastic Modeling, angka itu adalah benteng karang yang nyaris mustahil dipanjat. Di ruang kuliah bersusun kayu jati di Sir Alex...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp1.000
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Rekomendasi