Disukai
0
Dilihat
538
Ukhti Naila
Romantis

Angin bulan Maret berhembus membawa aroma tanah basah di sebuah desa kecil di pinggiran Sumatera. Di sebuah kamar yang diterangi lampu temaram, Jaka, seorang pemuda dengan tatapan mata yang selalu penuh harap, sedang berselancar di dunia maya. Jemarinya berhenti pada sebuah profil dengan foto seorang gadis berhijab anggun. Senyumnya manis, setenang laut Banda yang menjadi latar belakang fotonya.

Naila. Nama itu terbaca singkat, namun entah mengapa menggetarkan jemari Jaka. Tanpa berpikir panjang, Jaka menekan tombol “Tambah Teman”. Ia tidak menyangka bahwa klik sederhana itu akan menjadi awal dari sebuah perjalanan rasa yang menguras air mata.

Hanya butuh beberapa jam bagi Naila untuk menerima permintaan pertemanan itu. Sejak saat itu, layar ponsel Jaka tak lagi sepi. Chat pertama dimulai dengan basa-basi klasik, namun perlahan berubah menjadi diskusi panjang tentang kehidupan, impian, dan perbedaan budaya antara Sumatera yang hijau dengan Ambon yang eksotis.

Jarak yang Menjelma Rasa

“Di sini, laut adalah halaman rumah kami, Kak Jaka,” tulis Naila suatu sore.

Jaka tersenyum membaca pesan itu. “Di tempatku, sejauh mata memandang hanya ada barisan perkebunan kelapa sawit. Mungkin suatu saat, aku harus belajar berenang di halaman rumahmu.”

Setiap pagi, Jaka tak pernah absen mengirimkan ucapan selamat pagi. Naila pun tak ragu membalas. Bagai ritual wajib, komunikasi mereka mengalir deras melampaui ribuan kilometer laut dan daratan yang memisahkan. Maret berganti April, dan perkenalan itu kian mendalam. Jaka mulai mengenal tawa Naila lewat pesan suara, mengenal cara Naila bercerita tentang keindahan Pantai Tetulain, dan betapa ia sangat mencintai keluarganya.

Tanpa disadari, benih-benih kagum di hati Jaka bermekaran menjadi cinta yang hebat. Sebuah perasaan ganjil; mencintai seseorang yang wujudnya belum pernah ia sentuh, namun jiwanya terasa begitu akrab.

“Naila, aku sungguh-sungguh. Suatu saat, aku akan ke Ambon. Aku ingin melihat lautmu, dan tentu saja, melihat senyummu secara langsung,” janji Jaka di suatu malam yang sunyi.

Naila hanya membalas dengan emotikon tersenyum dan pesan singkat yang menyejukkan, “Insya Allah, Kak. Naila tunggu di sini.”

Perjuangan di Kota Pahlawan

Memasuki bulan Mei, tekad Jaka sudah bulat. Ia memutuskan berangkat ke Surabaya, menuju rumah pamannya. Surabaya adalah kota transit terdekat yang ia pikir bisa memberinya peluang untuk mengumpulkan uang tambahan demi biaya tiket kapal atau pesawat menuju Ambon.

Di Surabaya, Jaka bekerja serabutan. Siang hari ia membantu pamannya di gudang, malam hari ia mencari tambahan dengan menjadi buruh angkut atau apa saja yang bisa menghasilkan rupiah. Lelahnya raga tak pernah dirasakannya karena setiap kali ia membuka WhatsApp, pesan-pesan penyemangat dari Naila selalu ada.

“Kak Jaka jangan lupa makan. Jangan terlalu memaksakan diri. Kesehatan Kakak lebih penting dari apa pun,” tulis Naila.

Perhatian itu terasa begitu nyata. Meski raga di Surabaya, hati Jaka seolah sudah tertambat di dermaga Ambon. Ia merasa Naila adalah pelabuhan terakhirnya.

Badai Tanpa Mendung

Memasuki bulan Juni, tepat tiga bulan sejak perkenalan pertama, langit asmara Jaka mulai diselimuti kabut tipis yang tak ia pahami. Komunikasi yang biasanya selancar air di muara, mulai tersendat.

Naila yang biasanya langsung membalas pesan, kini butuh waktu berjam-jam, bahkan seharian untuk sekadar memberi kabar. Jaka mencoba berprasangka baik. Mungkin sinyal di sana sedang buruk, atau Naila sedang sibuk dengan kuliahnya, pikirnya. Namun, firasatnya berkata lain. Ada sesuatu yang janggal.

Puncaknya terjadi di awal Juli. Sebuah petaka bagi hati Jaka.

Malam itu, Jaka bermaksud mengirimkan foto hasil kerja kerasnya hari itu. Namun, saat ia membuka ruang obrolan, foto profil Naila telah hilang. Hanya ada lingkaran abu-abu kosong. Pesan yang ia kirim hanya menunjukkan tanda centang satu. Jaka mencoba menelepon, namun suara operator menjawab dingin bahwa nomor tersebut tidak aktif.

"Naila? Ada apa?" gumam Jaka panik.

Ia mencoba menghubungi lewat Facebook, namun akun Naila pun seolah lenyap ditelan bumi. Ia meminjam ponsel temannya, berharap nomornya hanya diblokir secara tidak sengaja, namun hasilnya nihil. Naila hilang. Benar-benar hilang tanpa sepatah kata pun penjelasan.

Dunia Jaka serasa runtuh. Ia terjebak di Surabaya dengan sisa uang yang belum cukup, dan kehilangan alasan utamanya untuk berjuang. Hari-harinya berubah menjadi pencarian yang sia-sia. Kesedihan mendalam menyelimuti hatinya; rasa cinta itu sudah telanjur tumbuh rimbun, namun kini akarnya dicabut paksa oleh ketidakpastian.

Botol di Lautan Malam

Akhir Juli, Jaka memutuskan untuk menyerah pada keadaan di Surabaya. Dengan hati yang hancur, ia berpamitan kepada pamannya untuk pulang ke Sumatera. Namun, sebelum ia benar-benar meninggalkan Surabaya, ia ingin melakukan satu hal terakhir. Sebuah tindakan yang mungkin dianggap gila oleh orang lain, namun terasa benar bagi hatinya yang terluka.

Ia menuliskan sepucuk surat pendek. Ia melipatnya kecil-kecil dan memasukkannya ke dalam botol plastik bekas minuman.

Di hari kedua perjalanannya pulang, Jaka tiba di Pelabuhan Merak. Saat itu jam menunjukkan pukul 23.00 WIB. Angin laut Selat Sunda berhembus kencang, menusuk tulang. Jaka berdiri di tepi pagar kapal feri yang sedang melaju. Ia menatap hamparan air hitam yang pekat di bawahnya.

Dengan tangan gemetar dan mata yang berkaca-kaca, ia menggenggam botol itu erat-erat.

“Tolong... antarkan surat ini kepada Naila,” bisiknya lirih kepada samudera, seolah laut memiliki telinga dan hati.

Sambil menahan tangis yang menyesak di dada, Jaka melemparkan botol itu sekuat tenaga ke tengah lautan malam yang gelap. Botol itu jatuh dengan suara kecipak kecil, lalu segera hilang ditelan ombak dan kegelapan. Ia tahu secara logika botol itu mungkin takkan pernah sampai, namun ia butuh melepaskan beban itu pada alam.

Surat Terakhir dari Sumatera

Sesampainya di rumahnya di Sumatera, Jaka masih belum bisa melupakan Naila. Namun, ia mulai belajar untuk pasrah. Sebagai usaha terakhir yang lebih rasional, ia memutuskan mengirimkan surat fisik melalui kantor pos ke alamat yang pernah Naila sebutkan secara sekilas saat mereka masih dekat dulu.

Satu minggu berlalu dengan penuh kecemasan. Hingga akhirnya, surat itu tiba di tangan yang tepat.

Isi surat Jaka sederhana, namun sarat akan ketulusan:

Untuk Ukhti Naila,

Aku tidak tahu apa yang terjadi, dan aku tidak akan menuntut penjelasan lagi. Aku hanya ingin menitipkan salam hangat dan ucapan terima kasih atas waktu yang pernah kau berikan. Walaupun kita dibatasi jarak ribuan kilometer, kau harus tahu bahwa cinta yang tulus pernah tumbuh dan masih ada di hati ini untukmu.

Semoga kau baik-baik saja di sana, di antara aroma laut dan senyum Ambon yang memikat. Aku telah menitipkan separuh jiwaku pada laut, dan sisanya kubawa pulang untuk melanjutkan hidup.

Salam hangat,

Jaka

Jaka kini berdiri di teras rumahnya, menatap langit senja Sumatera. Ia tidak lagi mengecek ponselnya setiap detik. Ia sadar, ada beberapa cerita yang memang ditakdirkan untuk indah di awal namun tak memiliki akhir yang sempurna. Namun baginya, Naila akan selalu menjadi “Nona Ambon” yang pernah membuat hidupnya jauh lebih berarti, meski hanya sekejap mata.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Rekomendasi