Kau pernah bercerita kalau kota ini telah lama membangun kisah dalam tubuh duniamu. Tentu, itu bukan bermula denganku, tapi pada sebuah perjalanan pertamamu yang mencoba menerjemahkan para nelayan dan petani, atau sekadar menjadi penghubung ringkas jagongan mereka.
"Aku ingin membuka otakmu! Kok bisa masih ingat, bukannya itu cerita yang sudah sangat lama!" ucapmu ketika derasnya malam bersimpangan dengan kilat cahaya.
"Aku mengingatmu lebih banyak dari sekadar itu."
Malam menggeser percakapan kami pada setiap jengkal jalan yang kami sengaja datangi. Ketika kami menjelma dua orang asing di trotoar-trotoar yang seolah tertarik oleh gaya pegas ketapel.
Kau bercerita tentang kisah lampau ketika duniamu bergeser, warna biru harus menerima kuning yang berkibar. Dan, kau memilih bergerak ketika semua tangan sejatinya memintamu untuk berhenti.
Bintang terpecah, berserpih, dan dimensi hitam menelan segala yang pernah kau rencanakan. Kau memilih untuk bersalin rupa berkali-kali, mengendalikan segala waktu agar tetap bergerak di sekitarmu.
Aku mendengarmu, melihat kedip kelopakmu yang hendak menumpahkan lelah. Namun, senyum yang menangkap pantulan cahaya itu mengubah sebuah jalan menjadi doa, menjadi langkah tak berbatas, "Jika harus berjalan di langkah baru, pada dunia berikutnya, kuharap, aku dan kau akan menjadi kita."
"Dunia ini tidak akan sepenuhnya runtuh," sembari kulukiskan keyakinan pada sorot mataku, "Nyatanya, kita hanya sedang memilih menanggung kesedihan yang mana, dan membangun kebahagiaan yang serupa apa, maukah kau yakin dengan segala ketidakpastian ini?"
Pada kaca mobil ketika tetes-tetes deras hujan bersungai, berjajaran, berebut pantulan sinar lampu jalanan. Serpihan kayu dari kota yang begitu akrab berganti dengan daun hijau besar yang mencoba menyelimuti sebuah jembatan. Pada ujung batasnya, roda-roda kecil telah beriringan dengan putaran roda-roda besar.
"Kelana?"
"Aku melihat dunia ini akan terus bergeser bersamamu! Sangat menantang, sesekali menyulitkan, tapi aku selalu ingin melihat kota-kota lain, dunia yang tidak dibatasi oleh waktu! Apakah kau mau Lentera?"
Aku tak menjawabnya, kita bersalin rupa, mengubah jelaga menjadi kemuning jingga.