Disukai
0
Dilihat
11
Ketika Surga Dipimpin Oleh Sekawanan Kera part 1
Thriller
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

“Namamu adalah Ben. Tugasmu cuma satu, lakukan apapun untuk memperbaiki bumi”.

Suara itu terdengar samar-samar di sekeliling Ben. Dalam keadaan kebingungan ia mencoba untuk membuka matanya, namun cahaya putih yang begitu pekat menerpanya sehingga ia begitu kesulitan. Ben menyadari bahwa ia tengah berbaring di atas ranjang dengan kondisi tangan dan kakinya terikat. Siluet sekelompok orang yang mengenakan pakaian dokter mengelilinginya.

Ketika matanya telah terbuka sempurna, ia yakin bahwa dirinya tengah berada di sebuah ruang eksperimen. Perasaan takut bercampur marah ia rasakan, “Apa yang kalian lakukan?”, rintihnya pelan. Ben tidak mengingat apapun kecuali bisikan suara tadi. Di atasnya terdapat sebuah kubah besar yang terbuat dari cermin yang jernih. Ia dapat melihat pantulan seluruh ruangan, termasuk dirinya yang tengah berbaring di tengah, menjadi sebuah objek penelitian. 

Rasanya begitu aneh bagi Ben, seperti baru pertama kali melihat tubuhnya berbentuk seperti itu. Kulit sawo matang, rambut dan brewok hitam semrawut, badan kurus, dan mata sayu, apakah ia sekarang berada di usia 40an? Tanyanya dalam hati. Berbeda sekali jika diperhatikan dengan bentuk fisik para dokter yang kini mulai memasang alat-alat medis yang tidak ia ketahui ke tubuhnya. Mereka berperawakan tinggi dengan kulit putih pucat, mata biru lebar, hidung mancung, dan rambut kuning keemasan.

“Apa yang sedang terjadi?” tanya Ben dengan suara seraknya. Ben melihat perbedaan yang kontras dari dirinya dan para dokter, sepertinya Ben bukan bagian dari mereka. Salah seorang dokter yang tengah mengatur tabung oksigen di sudut ruangan kini mulai menghampirinya dengan bergegas. Ben yang terkulai lemas mencoba untuk tetap awas walaupun hanya bisa menggunakan lirikan mata.

“Kau adalah salah satu orang yang ditugaskan untuk kembali ke masa lalu. Perlu diingat bahwa tugasmu begitu penting, jadi jangan sampai gagal” jawab si dokter dingin sembari mengamati seluruh tubuh Ben dari atas hingga bawah.

“Masa lalu? Apa maksudnya?” Dengan ekspresi sedikit kaget Ben kembali menimpali. Ia berpikir bahwa seharusnya memasang ekspresi itu sejak awal siuman.

“Bumimu sudah tamat, tidak ada lagi yang tersisa, dan tak ada lagi yang bisa kau harapkan. Sementara itu populasi bangsa kalian terus membludak di planet kami. Menciptakan banyak kekacauan serupa seperti yang kalian lakukan di sana. Dan Dewan Langit kami sepertinya sudah muak, tapi mereka tidak mungkin melakukan genosida kan?” Jawabnya santai seolah-olah kelinci percobaannya sudah tahu segalanya.

Keduanya terdiam, dan kini suasana menjadi hening sesaat.

“Sampai di sini kau sudah paham?” Dokter tersebut memecah keheningan dengan nada meminta konfirmasi. “Tidak” tegas Ben. 

“Siapa kau sebenarnya? Dimana aku? Kenapa kalian memerintahkanku untuk melakukan… apa tadi? Kembali ke masa lalu?” Ben sedikit memberontak namun tak bisa. Ia cuma bisa menaikkan nada suara dan mengatur sorot matanya untuk menunjukkan bahwa ia sama sekali tidak setuju dengan semua ini.

Sambil menggaruk kepala, dokter itu menghela nafas “Tadinya kukira kau tak paham arti genosida”. 

Dokter lainnya tertawa kecil. Ia lalu melanjutkan “Dengar Ben, aku tidak perlu menjelaskan panjang lebar mengenai siapa kami, siapa kau, dan apa yang tengah terjadi saat ini. Nanti kau juga akan mengerti. Intinya, lakukanlah apapun yang bisa kau lakukan. Amati situasinya dan bertindaklah sesuai keyakinanmu. Kau akan tahu mana yang benar dan mana yang salah. Kalau kau merasa bingung, ingatlah dialog kita saat ini. Apa itu cukup?” Ia menjeda selama beberapa detik. “Nah kalau cukup, selanjutnya bersikaplah kooperatif untuk yang terakhir kalinya, bisa kan?”.

Untuk yang terakhir kalinya? Apa maksudnya? Apakah ini sebuah jebakan? Apakah mereka berniat untuk membunuh? Ben mulai cemas dan mencoba melepaskan diri dengan meronta-ronta. Ranjangnya bergetar, beberapa alat yang terhubung kabel dan menempel di tubuhnya yang telanjang kini mulai terlepas. Secara spontan tiga orang dokter berusaha memeganginya dengan kuat agar ia tetap tenang.

“Semakin kau memberontak… hmmm apa ya? Tidak masalah sih untuk kami, karena itu hal biasa. Kau bukanlah pasien pertama, jadi kami tidak terkejut melihat reaksimu. Tapi aku menyarankan untuk tidak melakukannya jika aku jadi kau” Jari telunjuk dokter tersebut mengayun di udara, mengisyaratkan kepada rekannya untuk memulai sesuatu yang tidak diketahui oleh Ben. “Baik semua, bersiap untuk melakukan prosedur transformasi-teleportasi kepada pasien atas nama… Ben. Oh iya kami akan memanggilmu: Ben, nama yang bagus bukan?.” Sebuah suntikan dengan cairan hijau neon dipersiapkan. Ben semakin panik begitu tahu alat tersebut akan digunakan kepadanya, ia yang tadinya ingin menjerit, dengan cepat dibungkam dengan sebuah kain yang disumpal ke mulutnya secara paksa. Cengkraman para dokter semakin erat, Ben tidak bisa bergerak sedikitpun. Jarum suntik itu akhirnya menembus urat nadi leher Ben, cairan hijau yang berkilauan itu diinjeksikan dan tanpa disadari reaksinya begitu cepat.

Ben yang tadinya menggeram dengan tegang kini perlahan mulai terkulai lemas namun masih memiliki kesadaran. Sedikit demi sedikit ia mulai merasakan efek panas yang menjalar dari dada, kepala, hingga ke sekujur tubuh. Rasanya seperti kelumpuhan total pada badannya, ia bahkan memikirkan apakah dia sudah mati atau masih bernyawa setelah cairan tersebut menyebar ke seluruh pembuluh darahnya. Yang bisa dilakukannya hanyalah melihat pantulan dirinya yang terbaring tak berdaya dari kubah cermin tadi. Para dokter kembali memasang alat medis yang terlepas, memantau detak jantung dan kadar oksigen, serta mengamati Ben dengan seksama selayaknya sebuah tikus percobaan yang akan dijadikan umpan untuk ular eksotis di aquarium kaca. 

“Apakah berhasil?” Tanya salah seorang dokter ragu. Sementara dokter yang berbicara dengan Ben menatap dengan heran. “‘Memangnya kita pernah gagal?”. Kulit Ben terasa perih dengan sensasi terbakar, kini ia merasakan sekujur tubuhnya seperti terkelupas. Dirinya begitu terkejut ketika pantulan di cermin mulai menampilkan tubuhnya yang perlahan memudar secara mengerikan. Mula-mula lapisan kulitnya menipis, makin lama semakin transparan sehingga ia bisa melihat daging yang berwarna kemerahan menyelimuti tulang-tulangnya. Ia sampai di momen dimana ia dapat menyaksikan secara langsung organ-organ dalamnya yang melekat satu sama lain, jantungnya berdetak, paru-parunya kembang kempis, bahkan penisnya yang mulai ereksi akibat reaksi cairan tadi. Ben merasa seperti pisang yang tengah dikupas kulitnya. Ia merasa jijik ketika melihat dirinya sendiri namun tak dapat berbuat apa-apa. Semua bagian tubuhnya menipis dan menghilang perlahan seperti debu yang beterbangan ke udara dalam hitungan menit, begitu seterusnya hingga penglihatan sekaligus kesadarannya memudar dan semuanya menjadi gelap.

Ben tidak menyaksikan seluruh proses transformasi-teleportasi seperti yang dilihat para dokter, karena organ mata lebih cepat memudar ketimbang tulang belulang. Sementara mereka sudah terbiasa menyaksikan sampai ke tahap kerangka dan jaringan-jaringan kecil lainnya. Kini semua bagian tubuh Ben pudar, alat-alat yang menempel di tubuhnya terjatuh begitu saja ke ranjang. Tidak ada indikasi detak jantung di monitor, tandanya mereka kembali berhasil entah untuk keberapa kalinya di tahun yang sama.

Para dokter masih menunggu situasi aman selama beberapa saat sebelum prosedur benar-benar berakhir. Keheningan dipecah oleh salah satu suara dari mereka “Apakah kau pernah berpikir kemana perginya mereka?” Tanya dokter lainnya yang sedari tadi hanya terdiam. Sepertinya dokter yang berbicara dengan Ben merupakan pemimpin mereka, karena setelahnya ia kembali menjawab pertanyaan anggota yang lain layaknya seorang wali bicara yang akan menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan.

“Kita tidak pernah tahu, karena sejak awal belum pernah ada yang kembali dan menceritakan apa yang terjadi setelah tahap ini. Dan, nasib kita belum berubah sampai sekarang kan? Artinya mereka semua gagal di sana”. Tegasnya sembari melepas sarung tangannya satu persatu.

“Tapi apa mereka benar-benar kembali ke masa lalu yang sama dengan masa lalu kita? Atau ada kemungkinan mereka kembali ke masa lalu yang salah? Maksudku… masa lalu milik diri kita dalam versi yang lain?” Sahut dokter yang lain dengan keraguan yang lebih besar. “Banyak kemungkinan kehidupan yang lain di luar sana selain kita kan?”.

“Seharusnya, dan sejujurnya aku tidak bisa memastikan kebenarannya. Tapi… yang terpenting, kalaupun mereka benar-benar kembali ke tujuan yang sesuai, meskipun mereka sudah dalam tubuh dan pikiran sedewasa ini, tetap saja mereka tidak bisa menyelesaikan masalah mereka sendiri. Terbukti kan? Kita masih di sini dan terus mengirim orang-orang seperti mereka.” si dokter pimpinan menjawab dengan nada merendahkan, khususnya ke Ben yang baru saja menghilang belum ada semenit yang lalu.

Seolah ingin memberi solusi, dokter yang tengah memantau monitor menimpali, “Lalu kenapa bukan kita saja yang pergi dan memperbaiki semua itu?” 

“Jangan konyol—“ sanggah si dokter pimpinan dengan cepat “—Nyawa satu bangsa kita tidak sebanding dengan jutaan nyawa mereka. Kita ini berbeda, kita spesial!. Sementara mereka hanya ras terkutuk yang berpikir bisa menguasai Firdaus. Lihat sekarang? Mereka malah mengubahnya jadi neraka dan lautan kesengsaraan. Begitulah kalau surga dipimpin oleh sekawanan kera.” Cemooh si dokter pimpinan.

Para dokter memulai untuk merapikan ruang eksperimen. Beberapa lampu dipadamkan. Sisa-sisa limbah medis dibuang ke tempat sampah khusus. Dan sebuah jam pasir di atas meja kayu diputar ke posisi semula. Kini serpihan pasir perlahan turun dari bagian atas yang penuh untuk mengisi bagian bawah yang kosong. Butiran-butiran berwarna putih kecoklatan itu berbenturan dengan bagian permukaan yang terbuat dari kaca, mengeluarkan suara desing yang sangat pelan bahkan hampir tidak terdengar.

“Satu kali dua puluh empat jam. Semoga berhasil Ben!” Gumam si dokter ketua dengan pelan.

Ben terperanjat, ia sudah tidak dalam posisi berbaring di ruang eksperimen tadi. Masih dalam kebingungan yang sama seperti sebelumnya, ia melirik ke sekeliling, posisinya kini diapit rombongan manusia yang serupa dengannya di dalam sebuah parade besar di tengah kota. Ben yakin benar bahwa ia merupakan bagian dari mereka karena kesamaan ciri fisik, seperti berkulit sawo matang, berambut hitam, dan berbagai kemiripan lainnya. Rombongan itu begitu ramai, mereka mengenakan seragam yang sama seperti yang sekarang dikenakan oleh Ben, berjalan searah menuju suatu tempat yang entah ada dimana.

Ben berusaha mengatur nafasnya sembari mencerna situasinya sekarang. Sensasi aneh dan pemandangan mengerikan yang ia lihat beberapa detik yang lalu terasa bagai mimpi buruk yang begitu nyata. Namun ia sekarang berpikir, apakah kilasan tadi adalah mimpi, atau sekaranglah yang sebenarnya merupakan mimpi. Pikirannya kalut, fokusnya terpecah antara peristiwa tadi dan usaha untuk menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi saat ini. Sekarang ia merasa berada di dunia yang berbeda, bukan seperti di ruang eksperimen tadi.

Ben tidak tahu dunia ini sama sekali, bahkan permulaannya, kenapa dia bisa ada di tempat ini. Yang ia ingat hanyalah tiba-tiba terbangun di tengah kerumunan parade. Sebuah permulaan yang janggal, sama seperti ketika manusia baru memasuki fase alam mimpi. Ya benar, kita tak pernah benar-benar mengingat bagian awal dari mimpi kita, hanya perpindahan ruang yang terjadi secara acak.

“Hey jangan dorong dong!” Teriak salah seorang yang berada di kerumunan yang penuh sesak. Dalam langkah kecil Ben mengerling sekitar. Dilihatnya gedung-gedung tinggi dengan arsitektur modern di sekelilingnya. Banyak panji-panji putih dengan sebuah simbol burung phoenix merah berkibar di sekeliling gedung tersebut. 

Orang-orang bersorak-sorai, suasana meriah di tengah parade dapat dirasakan oleh Ben saat itu. Ia mengira tengah berada di sebuah kota besar yang maju dan indah, namun terasa tidak familiar karena belum pernah ada di hidupnya pemandangan yang seperti ini. Semua terasa asing baginya sekarang. Nafasnya sesak diselimuti oleh kepanikan dan keraguan yang membuat tubuhnya sedikit bergetar.

Tiba-tiba rombongan berhenti di depan sebuah monumen yang terbuat dari emas setinggi 200 meter. Monumen tersebut berbentuk seperti tiang pancang dengan ukuran puncak yang makin mengerucut dan meruncing. Di sekeliling monumen tersebut dipasangi beberapa panji dengan simbol yang sama seperti yang bertebaran di tengah kota. Siluet pria muncul dan berdiri di depan monumen diiringi oleh kegirangan massa yang berkumpul. Ia naik ke sebuah podium dan beberapa orang pengawal berbadan besar mengelilingi podium tersebut dengan tatapan siaga.

Ben menyipitkan matanya, mencoba untuk fokus dan melihat sosok tersebut lebih jelas. Namun itu semua percuma, jarak Ben berdiri dengannya cukup jauh, sehingga Ben tak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Semua orang bersorak sorai, meneriakkan sebuah nama yang sepertinya dianggap agung dan dipuja-puja oleh ribuan orang yang memadati jalanan kota.

“Supreme Leader! Supreme Leader! Supreme Leader!”

Bersambung…

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)