Disukai
0
Dilihat
14
The Black Circle
Horor
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Aku akan menceritakan salah satu kasus teraneh yang pernah kutangani. Sampai sekarang, kasus ini tak terpecahkan dan dibiarkan begitu saja terkubur oleh waktu. Mungkin bisa dibilang, ini adalah hal paling janggal yang pernah terjadi di dalam hidupku. Perlu puluhan tahun untuk menyadari betapa mengerikannya kasus ini.

Kembali ke awal 80an, saat aku masih jadi polisi muda dan kelewat gila untuk naik jabatan dengan terus berpartisipasi dalam menangani berbagai kasus yang hilir mudik terjadi. Di saat banyaknya peristiwa tak masuk akal dan laporan-laporan masuk dari berbagai daerah terpencil yang melibatkan cerita mistis warga, aku malah ditugaskan di kesatuan kecil di pinggir kota yang ramai. Saat itu marak sekali aduan mengenai penampakan sosok yang mengganggu warga desa, seperti kemunculan wanita berdaster merah yang kerap mengganggu saat malam hari, hilangnya seorang anak kecil saat maghrib di pinggir hutan, hingga sosok berjubah yang konon bisa memperkosa wanita secara gaib. Adrenalinku tentu saja terpacu ketika rekan-rekanku berbagi cerita dalam menangani kasus tersebut melalui sepucuk surat yang dikirimkan seminggu sekali, namun rasa kesal terus menyelimutiku karena tak bisa berbuat apa-apa di tempat ini.

Ya… di kota mana ada hantu. Rasanya tidak ada ruang untuk hal-hal gaib tumbuh di sini. Jalanan terlalu hidup, penuh oleh lalu-lalang kendaraan orang yang bekerja di gedung-gedung tinggi. Sementara pemukiman terlalu padat oleh orang-orang daerah yang merantau untuk mengadu nasib demi sesuap nasi. Tak ada rasa takut akan pergantian malam, ataupun ruang sendiri di tengah sesaknya kota ini.

Namun siapa sangka, ada sebuah kasus yang akhirnya membangkitkan gairahku saat itu (selain pembunuhan sepasang kekasih yang mayatnya dibuang di kolong jembatan). Kasus ini sederhana, tak ada penjahat, tak ada tersangka, dan tak ada motif apa-apa di baliknya. Hanya sebuah kasus kematian seorang remaja laki-laki di sebuah rumah di tengah pemukiman penduduk. Namun ternyata, ini malah menjadi kasus yang paling melekat dalam ingatanku sampai usiaku 70 tahunan sekarang.

Pagi itu ada laporan dari sepasang penghuni rumah, mereka adalah Bibi dan Paman dari korban, kita sebut saja Andi. Mereka baru saja kembali dari liburan selama seminggu, sesampainya di rumah, mereka mencium bau busuk yang begitu menusuk dari kamar keponakannya, mereka tak berani membuka pintu dan akhirnya melaporkan hal ini ke kepolisian setempat, yang berarti waktunya aku beraksi. Sebagai kepala kantor sekaligus pimpinan, akulah yang mendobrak pintu kamar tersebut. Dan setelah pintu kayu itu terbuka, aroma bangkai yang sudah terkumpul di dalam kamar itu akhirnya keluar dan membuat beberapa anak buahku muntah-muntah.

Tak ada yang janggal dari kamar tersebut, semua perabot tertata rapi, tidak ada barang yang hilang, tak ada tanda-tanda perampokan, bunuh diri, perkelahian, maupun kekerasan yang terjadi di kamar itu. Hanya saja jasad Andi sudah membusuk di atas kasurnya dalam posisi terbaring, badannya sudah bengkak, kulit mulai mengelupas, dan muncul banyak belatung yang memakan anggota tubuhnya. Aku langsung menghampiri ranjang tersebut, bisa diperkirakan ia meninggal sekitar 5-7 hari yang lalu, tepat saat Bibi dan Pamannya baru saja pergi meninggalkan rumah. Yang cukup mencuri perhatian hanyalah matanya yang terbuka sebelah, dengan kondisi seperti melotot ke arah langit-langit, aku pun mengamatinya dengan seksama dalam jarak yang cukup dekat, entah kenapa otak dan hidungku rasanya tidak berfungsi sehingga menghiraukan bau busuk yang begitu menyengat itu.

Setelah pemeriksaan lokasi dan autopsi jenazah, kami tidak menemukan apapun, kematiannya murni karena “kematian”. Andi tidak punya riwayat penyakit apapun, ia sebelumnya adalah remaja 16 tahun yang sehat, bahkan seminggu kemudian seharusnya ia berulang tahun yang ke-17. Kami tetap melakukan penyelidikan atas permintaan keluarga korban. Dari keterangan pihak sekolah pun tak ada yang aneh, Andi adalah anak normal yang biasa-biasa saja di sekolah, punya banyak teman, tidak mengalami perundungan, dan cukup berprestasi.

Satu-satunya hal aneh yang didapat dari hasil investigasi di sekolah adalah Andi tidak suka dengan cermin. Ia selalu menghindari jalan, lorong, ataupun tempat-tempat yang memiliki cermin. Ia memilih memutar, mencari jalan lain, ataupun pergi ke toilet di lantai 3 sekolah yang tidak memiliki cermin di dalamnya. Saat salah seorang sahabatnya menanyakan perilaku Andi tersebut, ia hanya menjawab bahwa ia tidak terlalu suka melihat wajahnya sendiri di cermin. Tak ada yang curiga dengan perilaku Andi kecuali diriku.

Sebuah buku harian ditemukan di atas meja belajar Andi sebagai barang bukti. Buku bersampul hitam tersebut diamankan oleh anggotaku, namun mereka belum memeriksa isinya dan berupaya untuk menyerahkannya kepadaku. Mungkin mereka melihat betapa antusiasnya diriku dalam menangani kasus ini. Buku itu tak memiliki isi apapun di halaman awal maupun akhir, tidak pernah ditulisi catatan khusus mengenai keseharian Andi, bagaimana perasaannya, kisah persahabatannya, atau apakah dia sudah pernah berhubungan seks dengan salah satu teman sekelasnya.

Namun saat membolak-balikkan halaman buku tersebut, aku menemukan beberapa lembar di bagian tengah yang terisi oleh tulisan tangan. Aneh, kenapa harus di bagian tengah. Sembari menatap foto almarhum (yang masih hidup) di atas meja kerjaku yang penuh oleh beberapa barang bukti yang kukumpulkan, aku berkata dalam hati

“Andai kau bisa lihat betapa buruknya wajahmu saat terbaring di ranjang itu, tentunya kau pasti akan menghindari cermin lebih sering daripada yang kau bayangkan. Aku bercanda Andi, kau bukanlah anak yang jelek, kau cukup tampan untuk anak seusiamu, harusnya kau lebih sering bercermin saat masih hidup. Semoga kau tenang di sana.” 

Tulisan itu tampaknya dibuat dengan terburu-buru, bisa jadi dalam sekali duduk. Karena konsistensi tulisan yang makin lama makin tak rapi, mungkin karena emosi yang tak stabil. Dengan penasaran, aku mulai membaca tulisan tersebut, sendirian, tengah malam, di dalam kantorku yang tak begitu besar.

“Aku tidak gila… aku tidak gila… aku tidak gila…

Benar kan yang kukatakan? Kenapa sedari dulu tak ada yang mempercayaiku? Mama Papa juga begitu!

Orang bilang beberapa manusia bisa menyadari datangnya kematian. Ada yang bisa merasakannya dari penciuman, katanya orang yang mau mati aroma tubuhnya berbeda. Ada juga yang merasakan aura orang tersebut menjadi dingin, dan kesedihan mulai menjalar ketika kita mendekatinya. Namun aku rasa aku juga punya kemampuan seperti itu, tapi bentuknya saja yang berbeda.

Aku tulis ini karena aku mau kalian tahu bahwa aku tidak gila! Sekali lagi aku tidak gila!

Waktu umurku 10 tahun, aku mulai melihat sesuatu yang aneh terjadi. Ada sebuah lingkaran hitam pekat di atas kepala orang-orang yang umurnya tak lama lagi. Mulanya kecil, hanya sebesar koin, benda itu menggantung satu jengkal dari ujung kepala mereka, mengapung mengikuti kemanapun orang tersebut pergi. Makin lama benda tersebut jadi besar dan jaraknya makin mendekati wajah orang itu.

Puncaknya, ketika seseorang sudah mau mati, aku tak bisa lagi melihat wajahnya, lingkaran hitam tersebut sudah sangat besar dan menutupi seluruh bagian wajahnya. Itu mengerikan sekali! Tak ada yang melihatnya selain diriku. Bayangkan, kemanapun aku pergi aku terus melihat benda itu di perjalanan, di atas kepala orang-orang yang berjalan di sekitarku. Rasanya begitu sesak ketika mengetahui orang mana yang akan mati dalam waktu dekat, bahkan aku sendiri tidak tahu bagaimana bentuk wajah aslinya, yang kulihat hanyalah lingkaran hitam yang memiliki badan, berjalan hilir mudik, duduk, atau melakukan aktivitas normal lainnya.

Dan kalau itu ternyata orang terdekatku bagaimana? Makannya aku berusaha menjaga jarak dari Bayu begitu melihat lingkaran itu muncul di atas kepala Kakaknya, atau tidak mau pergi ke kantin lagi ketika tiba-tiba wajah Ibu kantin tertutup lingkaran hitam saat hari pertama masuk sekolah setelah libur kenaikan kelas. Dan benar saja, besoknya Ibu kantin tergelincir di kamar mandi dan meninggal, dua minggu kemudian Kakaknya Bayu terkena serangan jantung saat sedang mengemudi dan tewas dalam kecelakaan lalu lintas.

Aku selalu tahu kematian itu akan datang dan kepada siapa saja ia akan datang secara spesifik. Tapi aku tak mungkin memberitahu mereka. Mereka akan berpikir aku gila dan menertawakanku. Bukan hanya itu saja, aku tak tahan melihat “itu” datang saat hari mereka mati! 

Aku sangat takut “itu” muncul, makannya aku pergi ke kota dan memilih tinggal di rumah Bibi dan Paman. Aku tak sanggup kalau harus melihatnya mendatangi Mama dan Papa dan aku tak bisa mencegahnya.

Memang “itu” tidak akan bisa kulihat dengan mataku saja, hanya melalui pantulan cermin sosoknya bisa kelihatan. Namun tetap saja, cermin ada di mana-mana. Aku tak lupa saat pertama kali melihatnya, saat itu ada pria bunuh diri dengan menabrakkan diri ke kereta yang tengah melintas. Aku sudah tahu bahwa ia akan mati saat itu, lingkaran hitam sudah menutupi wajahnya, namun setelah kereta berhenti, dari pantulan kaca kereta, aku melihat sosok “itu” menghampiri badannya yang hancur dan berserakan.

Aku tidak bisa menulis banyak kalimat lagi, aku akan gambarkan “itu” di halaman selanjutnya. 

Semoga siapapun yang melihat mataku untuk pertama kali setelah aku mati akan meneruskan derita ini. Agar dunia tahu bahwa aku tidak gila!

Mama… Papa… maafkan aku. Seminggu yang lalu aku aku melihat lingkaran hitam kecil di atas kepalaku saat aku pergi ke toilet sekolah. Sudah kuduga harusnya aku ke toilet lantai 3 saja. Hari ini aku beranikan diri untuk melihat cermin kecil yang kusembunyikan di dalam lemari, lingkaran hitam itu sudah membesar dan aku tidak bisa melihat wajahku lagi.”

Di situlah kalimat berakhir, dengan tulisan yang berantakan, karena pasti tangannya gemetar. Sepertinya ini ditulis di hari tepat saat Andi meninggal. Ia sengaja meninggalkan bukunya di atas meja sebagai satu-satunya petunjuk, karena tidak ada indikasi lain yang menjelaskan kematiannya yang begitu natural. Aku cuma bisa mengernyitkan dahi.

Haruskah aku percaya pada sebuah buku harian anak laki-laki berumur 16 tahun yang sudah meninggal? Yang bahkan sebelumnya tidak pernah menulis catatan harian, yang belum tentu benar isinya, dan mungkin dibuat karena paranoidnya semata, atau bisa dibilang anak ini mungkin berimajinasi atau berhalusinasi berlebihan. Semua keraguan seketika berubah jadi penasaran saat aku mengingat kembali kata “itu” pada catatan tersebut. “Itu” digambarkan sebagai sosok dan juga benang merah dari cerita Andi. Saat aku membalik kertas ke halaman selanjutnya, aku cukup terkejut sekaligus bergidik.

Sebuah gambar yang bisa dibilang cukup mengerikan mulai membuat jantungku berdegup lebih cepat. Melihatnya mungkin malah lebih seram ketimbang melihat mayat Andi itu sendiri. Tak kusangka anak 16 tahun menggambar hal ini di buku hariannya, apakah idenya seliar ini? Atau memang paranoid itu nyata?. Agar tidak bingung, aku akan jelaskan dengan deskripsi sejelas-jelasnya. Andi mengatakan dalam tulisan terakhirnya bahwa: 

“Aku tidak bisa menulis banyak kalimat lagi, aku akan gambarkan “itu” di halaman selanjutnya.”

Jadi beginilah penggambaran sosok “itu” pada halaman terakhir catatan yang ditinggalkan Andi.

Sebuah makhluk yang memiliki anatomi seperti manusia, kurus, dan tinggi bongkok. Badannya berwarna hitam pekat. Kepalanya digambarkan dengan sebuah bola mata raksasa yang melayang di atas leher yang putus, dari bola mata tersebut muncul sepasang tanduk rusa jantan dan domba jantan. Dadanya lebar dan berbentuk seperti vagina yang terbuka, di dalamnya terdapat banyak gigi-gigi taring yang tak beraturan. Ia memiliki sembilan tangan yang kurus dan keriput dengan kuku-kuku panjang. Dua tangannya memegang sabit besar dengan gagang kayu. Sosok “itu” memakai jubah yang robek-robek. Bersayap kelelawar berjumlah empat buah, dan dari punggungnya muncul kepala-kepala orang mati dengan mata terbelalak. Dan salah satu kepala yang ada, memiliki wajah yang sama dengan wajah Andi yang masih hidup, yang kulihat di foto di atas mejaku.

Akupun tidak percaya ketika melihat gambar mengerikan itu. Sampai akhirnya kuputuskan untuk menutup kasus dengan kesimpulan kematian natural. Buku tersebut disimpan di laci kantor itu entah sampai kapan. Dan aku terus menjalani hari demi hari untuk melupakan hal tersebut. 

Berpuluh-puluh tahun setelahnya, aku hidup damai, menjalani masa pensiun di rumah mewahku yang terletak di kaki gunung. Cuacanya sejuk dan aku mendapat ketenangan di sini. Hari ini aku hanya duduk di kursi goyangku sambil menatap cermin besar di kamarku. Ya… aku hanya melihat diriku yang sudah keriput dengan lingkaran hitam besar di wajahku, dan sosok “itu” yang berdiri di sudut kamar. 

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Horor
Rekomendasi