“Supreme Leader! Supreme Leader! Supreme Leader!”
Massa mulai menggaungkan nama tersebut, jelas saja pria itu merupakan orang penting bagi mereka semua. Ia menaiki podium dengan mengenakan setelan jas berwarna hitam pekat dengan aksesoris pin merah dengan simbol burung phoenix yang Ben lihat terus menerus di kota. Badannya benar-benar gemuk sehingga kancing-kancing jas nya yang terbuat dari emas murni terlihat seperti menahan sesak lemak di perutnya. Sepertinya ia merupakan orang yang paling gemuk yang Ben lihat sejauh ini. Rambutnya disisir rapi dan klimis, mata sipit dan pipi tembamnya bergetar sedikit ketika ia menghembuskan nafas.
Kerumunan massa bersorak histeris ketika ia mengepalkan tangan kanan dan mengacungkannya ke udara. “Hey… antek-antek asing!” Ia membuka orasinya dengan penuh tenaga, suara itu menggema di speaker-speaker yang telah disusun rapi di sekeliling parade. Keramaian kini berubah jadi keheningan, semua menyimak si Supreme Leader yang melanjutkan orasinya. “Saya, selaku Supreme Leader bangsa ini, menegaskan kepada kalian bahwa saya tidak takut dan saya akan lawan kalian dengan kekuatan penuh!” Teriaknya dengan nada marah. Penonton langsung bertepuk tangan serentak dengan kegirangan, sementara Ben yang kebingungan segera ikut bertepuk tangan agar tidak terlihat mencurigakan.
“Kalian pikir saya akan menyerah dengan ancaman dari Dewan Langit kalian?” Lanjutnya tegas, kerumunan kini makin berlonjak tak karuan. “Dewan langit itu bilang bahwa kita bangsa yang tidak punya kapasitas untuk mengelola bumi, mereka bilang bangsa mereka lebih hebat dari kita, lebih bisa segalanya, lebih maju, lebih beradab” ia memberi jeda selama beberapa detik “Itu omong kosong!” Lalu menggebrak podium sebanyak tiga kali.
“Hey Dewan Langit! Kalian kirim antek-antek kalian untuk memata-matai kami, menyabotase, merusak tatanan kehidupan bangsa kami dengan embel-embel prikemanusiaan. Itu cuma alasan kalian agar bisa kembali tinggal dan menguasai sumber daya di bumi kan? Agar kalian bisa menjadikan bangsa kami budak kalian yang bisa kalian suruh-suruh layaknya anjing yang selalu setia kepada tuannya? Kalau benar apa adanya, maka saya tidak akan pernah mau dan tidak akan pernah menerimanya!”
Riuh berganti hening dan begitu pula sebaliknya.
“Saya tahu kalian ada di dalam parade ini kan… Hei antek-antek asing! Lebih baik kalian menyerahkan diri sebelum tertangkap oleh bangsa kami yang hebat!”.
Ia melanjutkan orasinya selama setengah jam ke depan. Memang tak dapat dipungkiri bahwa Supreme Leader benar-benar berkharisma dan mampu membakar semangat massa yang hadir dengan untaian kata-katanya yang nasionalis. Ia bercerita mengenai bagaimana bangsa mereka, yang kulitnya berwarna, bisa merebut seluruh bumi dan mengusir bangsa kulit putih untuk meninggalkan bumi, lalu mengenai mega proyek program kerjanya yang mensejahterakan masyarakat, pembangunan fasilitas dengan skala masif, hingga pencegahan masuknya antek-antek asing untuk merusak moral dan tatanan negara. Yang paling ekstrim di akhir 5 menit pidatonya, Supreme Leader bahkan menyerukan akan berperang dalam waktu dekat melawan bangsa kulit putih untuk mempertahankan bumi dan memperluas wilayah kekuasaan bangsa ini demi masa depan yang lebih baik.
Sekarang Ben kembali mengingat apa yang terjadi sebelum ia sampai di parade ini. Semuanya terasa janggal baginya, karena tadinya ia sedang terbaring di ruang eksperimen yang berisi beberapa dokter berkulit putih, dan ia diberi misi untuk kembali ke masa lalu untuk memperbaiki bumi dengan cara apapun. Seketika ia sadar bahwa ia telah terjebak dalam perang antar ras, tanpa mengetahui apa sebabnya, dan bahkan tanpa tahu pula siapa dirinya sebelumnya. Perasaan marah yang tak tertahankan bergemuruh dalam dada Ben, namun rasa was-was juga menghantuinya, apakah dia seorang mata-mata yang diutus ras kulit putih? Apakah dirinya termasuk golongan antek-antek asing yang dibicarakan oleh Supreme Leader?.
Ben mengerling ke kanan dan kirinya, mencari-cari petunjuk apapun yang bisa ia dapatkan untuk tetap mempertahankan ketidaktahuan orang-orang mengenai jati dirinya, sekaligus menggali informasi sebanyak-banyaknya untuk terus mengulur waktu sampai ia bisa bertindak. Tapi di balik gelombang fakta yang mengejutkan sekaligus menekan keberanian Ben, rasa penasaran mengenai siapa dirinya yang sebenarnya tiba-tiba malah menggerogoti pikirannya. Ben merasa tidak pernah familiar dengan pemandangan yang dilihatnya saat ini apabila benar dirinya sedang berada di masa lalu. Tapi dia sendiri juga tak tahu seperti apa masa lalunya. Ingatannya seolah-olah dikunci rapat sampai ruang eksperimen, selebihnya tidak bisa diakses bahkan disusupi oleh pemilik ingatan itu sendiri.
Lamunan Ben di tengah orasi panas Supreme Leader teralihkan oleh suara letupan senjata api yang begitu dekat dari tempatnya berdiri. Kurang lebih dua meter di sisi kanannya, seorang pria bertubuh tegap dengan kumis lebat sedang mengacungkan pistol langsung ke arah Supreme Leader. Sayangnya tembakan tersebut meleset beberapa senti dan hanya mengenai bagian ujung podium kayu jati dekat dengan tangan kiri Supreme Leader. Semua pandangan tertuju ke si penembak, dan dengan sergap orang sekitarnya mengerubungi lalu menjatuhkan tubuhnya ke tanah dengan sekuat tenaga.
“Pembohong! Semua yang dilakukannya hanyalah omong kosong! Kau merusak segalanya, kau menghancurkan bumi. Mati kau diktator pengecut!” Teriak si penembak yang tergeletak di tanah. Ia terus memaki-maki Supreme Leader meskipun kepalanya diinjak dengan keras oleh salah seorang yang meringkusnya. Beberapa orang yang emosi melemparkan tinju dan tendangan ke tubuh si penembak yang terkunci di tanah, sebagian yang lain meneriakkan untuk membunuhnya di tempat.
“Antek-antek asing! Tetap waspada, mereka ada di sekeliling kalian—“ Seru Supreme Leader dari atas podium sambil menunjuk ke arah si penembak, “Jangan takut, bangsa kita besar! Bangsa kita kuat!” dengan kepala sedikit ditundukkan dan ditempeli enam orang pengawal bersenjata lengkap di sekelilingnya. Sembari berjalan menuruni podium, ia kembali mengepalkan tangan dan mengacungkannya ke udara untuk membakar semangat massa yang kini kembali bersorak, panji-panji dengan logo burung Phoenix merah berkibar diterpa angin seolah mendukung pemandangan heroik tersebut. Tak berselang lama, sebuah peluru panas dari jarak dekat menyasar ke kepala si penembak yang masih meronta-ronta di tanah, seketika badannya tak bergerak.
Ben yang berdiri sangat dekat dengannya melihat bagaimana darah dan serpihan isi kepala mencuat mengotori celananya. Ia terkejut bukan kepalang menyaksikan kejadian tersebut. Masih menerka darimana dan siapa orang yang menembak, ia malah didesak mundur oleh orang-orang di sekitarnya yang serentak mengeluarkan pistol dan menghujani mayat yang tergeletak tadi dengan peluru panas. Puluhan peluru tersebut mengoyak daging dan tulang-tulang mayat tersebut, menghambur-hamburkannya ke udara bersamaan dengan percikan darah yang bergitu banyak sampai tak berbentuk.
“Hei, apa yang kau lakukan? Keluarkan pistolmu!” Bentak seorang pria muda berambut keriting di seberang Ben. “Iya, kau!, kenapa diam saja?” Tegasnya menunjuk ke arah Ben. Masih dalam keadaan syok, Ben bahkan tidak menyadari bahwa ia juga memiliki sebuah pistol di sabuknya. Dengan tangan gemetaran dan alasan sederhana: agar identitasnya tidak terbongkar, ia mencabut pistol perlahan dan melepaskan tembakan sekali ke mayat, atau bisa dibilang gumpalan daging dan tulang yang sudah tak berbentuk itu sebagai bentuk formalitas. Setelah tembakan terakhir berhenti, gerombolan orang tadi berdiri untuk mengisi ruang kosong tempat sisa serpihan mayat tergeletak, tanpa menghiraukan rasa jijik bahkan tak acuh sama sekali, mereka menginjak daging-daging yang berceceran di tanah dengan sepatunya.
Ben menahan mual, namun ia tidak bisa memuntahkan isi perutnya sekarang, itu sangat berbahaya dan mungkin membuatnya ketahuan, dan yang terburuk, nasibnya malah bisa sama seperti serpihan daging yang dilihatnya di depan mata. Pria muda berambut keriting tadi mendekati Ben, ia berparas tampan dengan rahang tegas dan dada bidang, mungkin usianya sekitar 20an menuju 30. “Jamal” ia menyodorkan tangannya ke Ben untuk mengajak berkenalan, “Ben” keduanya berjabat tangan, genggaman Jamal cukup kuat. Dengan sedikit mendekat ke arah telinga kiri Ben, Jamal membuka pembicaraan, “Dari distrik berapa?”, Ben sekedar mengeluarkan apa yang ada di pikirannya saat itu “Dua puluh tujuh”, Jamal menyipitkan mata seolah curiga dan dengan santai berkata “oh”.
Setelah Supreme Leader meninggalkan monumen, muncul seseorang yang Ben rasa juga merupakan petinggi di tempat ini. Kiranya pria tersebut berusia 85 tahun itu masih terlihat necis dengan kumis yang dicukur rapi dan simetris. Ia naik ke podium yang sebelumnya ditempati oleh Supreme Leader, tanpa memperkenalkan diri dan mulai menginstruksikan kepada seluruh massa yang hadir untuk bersiap menuju ke armada untuk menjalankan program pembagian pangan ke masyarakat sekitar. Ia juga memberi peringatan untuk waspada akan adanya kemungkinan sabotase, serangan, ataupun penculikan yang dilakukan oleh ras kulit putih kepada mereka maupun masyarakat secara mendadak.
Di tengah-tengah arahan tersebut, Jamal terus mengajak Ben untuk mengobrol, menanyakan hal-hal sepele kepada Ben, kadang-kadang pendapatnya terkait Supreme Leader, dan berapa sisa pangan yang masih disimpan di brankas rumahnya. “Kenapa kau mematung tadi? Kalau aku jadi kau, mungkin aku orang pertama yang menembak kepala si antek asing tadi!” Tegas Jamal sembari menyikut perut Ben seolah telah akrab. “Aku kaget, dan lebih mengkhawatirkan Supreme Leader. Aku takut terjadi apa-apa kepadanya” Ben berdalih asal-asalan. Jamal tertawa kecil dengan nada meremehkan, “Kau pikir mereka bisa membunuh Supreme Leader semudah itu?”. Ben mengangkat bahu, “Entahlah, di tengah situasi seperti ini tidak ada yang tidak mungkin kurasa”.
Saat perintah untuk bubar jalan, Jamal mengajak Ben untuk ikut dengannya menuju armada. Ben tak menolak dan berpikir dengan terus menempel dengan Jamal, ia bisa memperoleh banyak informasi terkait kota ini dan situasi seperti apa yang tengah berlangsung. Massa berbondong-bondong menuju sebuah lapangan terbang yang sangat luas di pinggiran kota. Di sana sudah terdapat puluhan helikopter besar berwarna putih yang dapat menampung hingga dua puluhan orang sekali terbang.
Benda itu memiliki sebuah logo yang sepertinya dicat menggunakan cat semprot di sisi ekornya secara tidak rapi, menutupi logo lain yang sudah ada sebelumnya, gambarnya tidak lain dan tidak bukan adalah phoenix merah seperti yang ada di jalan-jalan. Ben menduga bahwa helikopter ini dulunya milik ras kulit putih yang dirampas oleh ras mereka, atau jangan-jangan bukan hanya helikopter yang dirampas, melainkan seluruh kota dan seisinya.
Bersambung…