Ia membayangkan yang ia remas adalah serpihan mentari retak. Ia merintih di dalam kolam salju menahun. Berusaha berbiak walau langkah beribu-ribu tumbang. Mengusir perih, meskipun sekarat merayu kematian. Kursi terbalik, meja bergetar. Pandangan berpendar. Dan tak ada seorang pun yang nenjadi kawan. Alam justru menjadi lawan, hujan menghajar ketenangan. Miris, ia mengaduh. Kening berpeluh. Reruntuhan air dari langit tak mau memberi kesempatan telinga lain mendengar. Egois. Guntur mentertawakan keadaan yang menyesakkan. Kabut mengubur cahaya terang. Pemuda itu nyaris kehilangan kata sadar.
‘T.o.l.o.n.g!’
Lirih. Waktu pun nyaris tak mampu mendengar. Cicak di dinding merayap perlahan. Mengamati nyawa yang terkapar di ruang makan. Sendok juga kekasihnya garpu terpelanting di atas lantai. Nasi berserakan. Piring pecah. Darah mengalir dari telapak tangan. Temaram. Guntur bersahut-sahutan. Angin mengembuskan aura kelam di tirai jendela. Bingkai gelap. Lantai marmer semakin mendinginkan tubuh. Menyiksa raga rapuh yang terlempar dari atas kursi kayu. ‘Aku mohon, Tuhan tolong aku!’
Dadanya bak dilempari batu dari neraka. Jantungnya dijerat tambang yang tergantung. Napas disumpal tanah hingga m...