Derasnya arus sungai pada malam itu membawaku kepadamu. Aku yang putus asa; aku yang dipenuhi banyak masalah; dan aku yang saat itu tidak tahu ke mana arus akan membawaku, lalu kamu tiba-tiba datang, menarikku dari dinginnya air sungai. Sungguh, saat itu aku mengira bahwa mungkin saja aku sudah mati. Bahwa keberadaanmu hanya sebuah ilusi. Namun di ambang kesadaranku, sayup-sayup aku mendengar suaramu. Menepuk kedua pipiku dengan lembut dan menggumamkan kata bangun berulang kali. Begitu mataku terbuka, aku melihatmu di sana, menatapku dengan pandangan khawatir. Helaan napas dan wajah pucatmu masih kuingat jelas hingga sekarang. Dan saat itulah aku sadar, bahwa kamu bukanlah sebuah ilusi yang dikelola oleh otakku, kamu nyata; kamu ada; dan kamu dapat kusentuh. Hanya saja, pada malam itu aku merasa bahwa kamu sangat asing. Tidak, seluruh tempat yang kulihat terasa asing. Kamu dan duniamu terasa asing bagiku.
"Kamu nggak papa?" tanyamu saat itu. Dan aku bingung harus bagaimana menjawabnya. Bagaimana mungkin orang yang baru saja kamu tarik dari dasar sungai merasa baik-baik saja?
Aku tidak baik-baik saja, dan seperti yang kamu kira, malam itu aku ingin mati. Aku sengaja menerjunkan diri ke dalam sungai dengan harapan ditemukan sudah tidak bernyawa keesokan harinya. Tapi kamu datang menyelamatkanku, kamu menggagalkan rencanaku, dan jujur saja. Saat itu aku sangat marah padamu.
"Oh, maaf, pertanyaanku bodoh sekali. Mau ke rumah sakit saja?" tanyamu lagi pada saat itu, dan aku hanya menggeleng. Yang aku mau, aku hanya ingin pulang, pulang ke rumahku yang suram.
"Aku pulang saja," jawabku, dan kamu mengangguk. Kamu mengulurkan tanganmu lalu membantuku berdiri.
"Biar kuantar, alamat rumahmu, di mana?"
Rumahku? Ah, nyaris saja aku lupa di mana rumahku. Ketika aku menyebutkan alamat rumahku dengan lengkap, kamu terlihat bingung. Seperti orang yang tidak pernah mendengar tempat itu sebelumnya.
"Kamu nggak tau itu di mana? Nggak papa, aku bisa pulang pake ojek, kok," kataku seraya meraba-raba pakaianku. Ah, bodoh sekali. Ponselku pasti terjatuh dan terbawa arus ketika aku melompat. Kalaupun tidak, benda itu pasti sudah tak bisa digunakan lagi. Lalu sekarang bagaimana? Saat aku keluar rumah dan memutuskan untuk bunuh diri, aku sengaja tidak membawa dompetku, karena kupikir, untuk apa aku membawa barang itu jika ingin mati? Aku tidak punya uang sepeserpun.
"Di daerah sini jarang ada ojek, dan lagi pula, alamat yang kamu sebutkan itu tidak ada. Aku pernah ke sana, dan yang kulihat hanya lahan kosong yang sudah ditumbuhi semak belukar."
Aku terdiam, terpaku. Tidak percaya dengan apa yang kamu katakan. Tidak mungkin rumahku lenyap begitu saja dalam semalam. Iya, kan?
"Tapi rumahku memang di sana," kataku lagi masih kekeuh.
"Kalau kamu tidak percaya, besok kita ke sana. Malam ini kamu menginap saja di rumahku."
Tentu aku menolak. Meskipun kamu adalah orang yang menyelamatkanku, bagaimana mungkin aku menerima tawaranmu tanpa pertimbangan?
"Nggak perlu, aku pulang saja." Dan aku pun mulai beranjak. Kamu pun begitu.
"Bahaya kalau kamu pergi sendiri, di daerah sini banyak premannya," katamu berhasil membuatku bergidik. Aku yang semula tidak takut mendadak merasa takut. Apalagi daerah di sekitar kita pada malam itu sangat gelap. Tidak ada lampu penerangan, ditambah lagi keadaannya sangat sepi.
"Ke rumahku saja, rumahku tidak terlalu jauh dari sini, kok." Dan begitulah aku menurut padamu. Mengekorimu hampir lima belas menit lamanya, hingga akhirnya kita sampai ke rumahmu. Rumah yang terlihat sangat sederhana, tapi terasa hangat bagiku.
"Ayo masuk, aku akan menyuruh bibi membawakan pakaian hangat untukmu."
Aku pun memasuki rumahmu, ada banyak foto dan piagam yang terpajang, hingga tatapanku berhenti pada kalender yang bertuliskan tahun 1994 di atasnya. Awalnya aku mengira mungkin kamu memang suka mengoleksi kalender-kalender lama, karena orang tuaku terkadang begitu, bahkan di rumah orang tuaku ada kalender dari tahun 1985 yang terpajang.
Ya, awalnya kupikir begitu, hingga aku merasa sangat asing dengan apa yang kulihat. Interior rumahmu, bahkan perabotan rumahmu merupakan perabotan model lama yang tentu sudah sangat ketinggalan zaman, tapi aku masih berpikir positif. Mungkin kamu adalah orang yang suka mengoleksi barang-barang antik. Namun, ketika kamu datang menemuiku dengan model baju yang memang popular pada tahun 90-an, mataku melotot sempurna. Berharap bahwa apa yang kupikirkan tidaklah benar.
"Cepat ganti bajumu, nanti masuk angin," katamu seraya menyerahkan sepasang pakaian yang kuyakini adalah milikmu yang sudah kekecilan.
"Terima kasih, tapi boleh aku bertanya?"
"Kamu ingin menanyakan apa? Kalau pertanyaanmu bisa kujawab, akan kujawab," katamu mendelik bingung.
"Sekarang tahun berapa?" tanyaku saat itu, dan kamu tiba-tiba saja tertawa.
"Serius, hanya itu pertanyaanmu? Ku kira kamu ingin menanyakan hal penting."
Aku pun mengangguk. Ya, hanya itu pertanyaanku, dan hanya itu yang ingin aku ketahui, agar aku tak menduga-duga.
"Iya, jawab saja. Sekarang tahun berapa?"
"Agak aneh ada orang yang menanyakan tahun berapa sekarang, kamu sudah lihat kalender yang tergantung di sana, kan? Sekarang tahun 1994."
Aku terkejut. Sungguh aku sangat terkejut, dan masih tak bisa menerima fakta yang kudengar. Lalu aku pun tertawa.
"Kamu pikir aku percaya? Mana mungkin sekarang tahun 1994, bukankah sekarang tahun 2023?" tanyaku masih menyisakan tawa, dan kamu yang semula menertawaiku malah memasang ekspresi sangat bingung. Lalu kemudian meraba dahiku, memeriksa bagian kepalaku dengan teliti.
"Apa saat terjatuh ke sungai, kepalamu membentur sesuatu? Kalau kamu ingin hidup selama itu, kenapa memutuskan untuk bunuh diri?"
Aku mendelik, bagaimana dia tahu kalau aku memang ingin bunuh diri? Apa saat aku lompat dari jembatan, dia ada di sana? Apa dia melihatku?
"Kamu tau kenapa aku bisa ada di sungai?"
"Aku melihatmu," katamu yang tentu saja membuatku terkejut. Aku yakin betul, pada saat aku akan melompat, aku masih berada di tahun 2023, bagaimana bisa kamu melihatku?
"Nggak mungkin, kamu nggak mungkin ada di sana. Dan kamu nggak mungkin melihatku," kataku menggeleng tak percaya. Biar bagaimana pun, itu adalah hal yang mustahil. Kalau tahun ini memang benar tahun 1994, dan jika memang benar dia adalah orang yang hidup di tahun 1994, tidak mungkin dia bisa melihat diriku di tahun 2023. Kecuali dia adalah orang yang berasal dari tahun yang sama denganku.
"Sudah kuduga, saat kamu bilang sekarang adalah tahun 1994, kamu berbohong padaku."
Kamu pun menggeleng. "Tidak ada satu pun dari ucapanku yang penuh akan kebohongan. Justru kamu yang aneh, mengira bahwa tahun ini adalah tahun 2023."
"Kamu bilang kamu melihatku, kamu melihatku yang melompat dari jembatan, saat kejadian itu, aku berada di tahun 2023, dan kamu nggak mungkin ada di sana."
Pada malam itu, aku dapat melihatmu menghela napas. Mungkin lelah dengan perkataanku yang mungkin bagimu sangat tidak masuk akal.
"Lupakan saja, lebih baik sekarang kamu beristirahat. Mungkin besok ingatanmu akan normal kembali." Lalu kamu pergi, meninggalkanku yang masih terpaku di ruang tamumu, sebenarnya apa yang sedang terjadi? Jika pada hari kematianku aku bertemu denganmu, tidak mungkin itu tidak ada artinya, kan? Pasti ada sesuatu. Segala sesuatu dan sebab akibat yang terjadi di dunia ini pasti ada alasannya.
•••
Pagi harinya ketika aku bangun dan membuka mata, kupikir aku akan berada di kamarku dan memulai hari-hari melelahkan itu lagi, tapi ternyata, ketika aku membuka mata dan terbangun, aku masih berada di tempat yang sama. Aku masih berada di ruangan dengan bau pinus di dalamnya, ruangan yang sama dengan ruangan yang kamu pilih untuk kutempati. Dan tentu masih ada kamu di sana. Aku pun keluar kamar, dan kemudian aku melihatmu duduk dan memainkan piano dengan tenang. Jari-jari lentikmu menari di atas sana dengan penuh penghayatan, dan tanpa sadar aku menangis. Musik yang kamu mainkan terdengar menyedihkan dan menyayat hati.
"Selamat pagi," sapaku ketika permainanmu terhenti, dan kamu menatapku, lalu tersenyum. Senyuman yang dapat menghangatkan hatiku.
"Kamu sudah sarapan?" tanyamu yang kubalas dengan gelengan, lalu kamu tersenyum lagi padaku.
"Ayo sarapan bersama," ujarmu lagi, dan aku pun mengangguk. Aku mengikuti langkahmu yang membawaku ke ruang makan, di sana sudah terhidang berbagai jenis makanan, dan hanya ada kita berdua di sana.
"Kita belum berkenalan, namamu siapa?" aku memulai percakapan.
"Dewandaru, panggil saja aku Daru. Namamu, siapa?"
"Aurelia, panggil saja aku Lia."
"Namamu terdengar sangat modern," katamu waktu itu.
"Sebagai orang yang hidup di tahun 1994, namamu juga sangat keren."
"Terima kasih, jarang ada yang bilang begitu padaku," katamu malu-malu. Wajahmu tiba-tiba saja memerah. Saat itu kupikir kamu sangat lucu.
Lalu kita berdua pun kembali terdiam. Kita sibuk dengan pikiran masing-masing yang jujur saja membuatku sedikit tidak nyaman. Aku adalah tipe orang yang berbicara banyak pada orang lain. Sehingga ketika dihadapkan pada situasi yang seperti ini, aku jadi bingung sendiri. Jadi, aku hanya diam dan menyantap makananku.
"Kamu masih menganggap kalau sekarang adalah tahun 2023?" tanyamu tiba-tiba. Aku gelagapan. Haruskah aku jujur? Haruskah aku mengatakan hal konyol itu lagi? Dan jika aku mengatakannya, apakah kamu akan percaya?
"Mungkin ini akan terdengar tidak masuk akal bagimu, tapi aku akan mengatakannya dengan sederhana, aku harap kamu bisa memahami ucapanku dengan baik. Sederhananya, aku dan kamu berasal dari waktu yang berbeda. Kamu dari masa lalu, dan aku dari masa depan. Aku tau, kedengarannya emang sangat konyol, tapi beginilah faktanya."
Setelah kamu mendengarkan penjelasanku, kamu terdiam cukup lama, dan raut bingung tercetak jelas di wajahmu.
"Itu ... sangat tak masuk akal, dan kamu nyuruh aku buat percaya? Itu konyol banget, Lia."
"Iya, aku tau. Ini tuh emang konyol banget. Tapi aku nggak tau lagi harus jelasinnya kayak gimana, dan aku juga nggak tau kenapa hal nggak masuk akal kayak gini harus terjadi pada kita berdua. Jadi, selama aku masih mencari jalan untuk kembali. Please terima aku di sini, aku bakalan ngelakuin apa pun yang kamu suruh, asal bukan hal yang aneh-aneh."
Tiba-tiba kamu tertawa, apa kamu tidak tahu? Saat aku menjelaskan hal itu padamu, aku merasa sangat malu, dan aku mulai berpikiran, bahwa mungkin saja aku sudah gila. Mau berapa kali pun aku memikirkan hal itu, tetap aku tidak menemukan jawabannya. Bahkan tidak ada petunjuk, tidak ada yang menuntunku untuk kembali, jadi ketika aku mengatakan hal itu padamu, aku sudah pasrah kalau-kalau kamu mengusirku, tapi kenyataannya tidak. Kamu tidak mengusirku dan membiarkanku tinggal di sana; di rumahmu. Dan begitulah bagaimana aku dan kamu menjadi sangat dekat. Bahkan terlampau dekat untuk dikatakan bahwa hubungan kita hanya sebatas teman.
Tapi Daru, apakah kamu tahu? Selama aku terjebak di duniamu, tak pernah sekalipun aku merasa takut, bahkan jika aku tak bisa kembali lagi ke duniaku, aku sama sekali tidak takut, itu karena ada kamu di sana, dan satu-satunya hal yang aku takutkan, Daru. Adalah tidak adanya kamu di duniaku.
••••
Hari berganti hari, tak terasa sudah sebulan lebih aku di sini. Selama sebulan itu, kita banyak menghabiskan waktu berdua. Kamu mengajariku banyak hal. Bahkan kamu juga mengajariku bermain piano. Walaupun aku termasuk murid yang payah, kamu tetap mengajariku dengan sabar. Tidak mengeluh ataupun protes. Kamu tetap melatihku sampai aku bisa memainkan piano itu. Memainkan jari-jemariku di atas tuts-tuts yang terlihat megah itu. Daru, aku belum sempat mengatakan ini padamu, tapi biarlah kata itu kukatakan sekarang meski kamu mungkin tak mendengarnya. Tidak, mungkin kamu tak akan pernah mendengarnya secara langsung. Daru, aku ingin kamu tahu, bahwa aku mencintaimu. Sangat. Perasaan itu tumbuh seiring kita bersama. Aku ingin sekali mengatakannya langsung padamu, tapi aku tidak tahu kalau ternyata waktu kita sesingkat itu.
Daru, kamu pernah bertanya padaku. Waktu itu hujan turun lebat sekali. Kita berdua berdiri di depan jendela, memperhatikan tiap rinai yang jatuh ke bumi; memperhatikan tiap rinai yang menghiasi kaca jendela hingga berembun. Waktu itu kamu membuka jendela dengan lebar, membiarkan rinai hujan membasahi wajah pucatmu. Lalu kemudian, kamu menoleh padaku dan bertanya.
"Lia, kenapa hari itu kamu ingin bunuh diri?"
Waktu itu aku tak bisa menjawab pertanyaanmu itu Daru. Karena sampai sekarang pun, aku tidak tahu apa alasanku melakukan itu. Yang aku tahu, hari itu, aku hanya ingin pergi. Aku lelah dengan semuanya. Rasanya tak ada yang bisa aku lakukan selain mati, lalu aku bertemu denganmu. Berada didekatmu membuatku ingin melakukan satu hal, bahwa aku ingin terus bersamamu, berada di sisimu dan menua bersama. Itu tujuan akhir hidupku; hidup bersamamu selamanya; sampai nanti; sampai maut memisahkan kita. Tapi waktu itu kamu mengatakan sesuatu padaku, sesuatu yang maknanya gagal aku pahami. Katamu, "jangan menyia-nyiakan hidupmu seperti itu lagi, Lia. Kalau kamu punya banyak waktu, maka nikmati saja hidupmu. Karena mungkin di luar sana; ada yang ingin hidup lebih lama, tapi tidak bisa."
Saat itu kupikir, kamu mengatakan kalimat itu padaku hanya untuk menghiburku. Menghibur jiwa yang ingin sekali mati, tapi ternyata aku salah. Aku baru memahami kalimat itu ketika menemanimu ke rumah sakit. Aku tidak tahu, ternyata selama ini kamu sakit, ternyata selama ini kamu berjuang untuk hidupmu, lalu kamu bertemu orang sepertiku, orang yang sama sekali tidak menghargai hidupnya sendiri. Maafkan aku, Daru. Aku sungguh minta maaf.
"Jangan muram begitu, setidaknya aku masih hidup," katamu waktu itu, dan aku hanya bisa menatapmu dengan sendu.
"Lia, kalau semisalnya nanti aku sudah pergi. Berjanjilah padaku, kembalilah ke tempat seharusnya kamu berada, hiduplah dengan baik, jangan pernah berpikiran untuk bunuh diri lagi, berjanjilah padaku agar aku bisa pergi dengan tenang."
Itu kata-kata terakhir yang kamu ucapkan padaku sebelum akhirnya kamu dirawat. Sebelum akhirnya kamu pergi meninggalkanku. Sebelum akhirnya aku kembali lagi ke rumahku entah bagaimana caranya. Begitu aku bangun dan membuka mata, aku sudah berada di sini. Kamu tahu, Daru? Saat kembali lagi ke dunia asalku, aku menangis, meratapi kepergianmu berhari-hari lamanya. Aku kembali putus asa, dan ingin bunuh diri sekali lagi, tapi biarpun kamu sudah tidak ada, kamu lagi-lagi menggagalkan rencanaku. Itu karena aku melihat cincin yang kamu sematkan di jari manisku, aku tidak tahu kalau ternyata cincin itu juga terbawa olehku. Aku ingat sekali, hari di mana kamu memberikan cincin itu padaku, hanya perasaan bahagia yang meliputi aku dan kamu. Hari di saat kamu memberikan cincin itu padaku, untuk pertama kalinya, aku melihat wajah cerahmu berhiaskan senyuman yang sampai sekarang masih terekam jelas di otakku. Selama bersamaku, kamu memang banyak tersenyum. Namun, senyuman dengan wajah cerah itu, aku baru melihatnya hari itu. Sangat indah dan memesona.
"Lia, cincin ini adalah tanda dariku, sehingga kalau-kalau nanti kita bertemu lagi, aku bisa mengenalimu, dan sampai saat itu, percayalah padaku, Lia. Aku akan menemuimu dan kita akan hidup bahagia selamanya."
Saat itu aku hanya bisa mempercayai kata-kata penuh kebohongan itu, dan aku mengangguk begitu saja. Tanpa tahu kalau kamu akan pergi lebih dulu dariku. Daru, kenapa kamu harus berjanji kalau tahu tak akan bisa menepatinya? Aku tahu, kamu mungkin tak bermaksud memberiku harapan, tapi entah kenapa, kata-katamu itu selalu membuatku berharap. Bila suatu saat nanti kamu akan datang menemuiku, sebab kamu sudah berjanji.
•••
Daru, hari ini cuacanya cerah sekali, tidak mendung seperti yang sudah-sudah. Suasana hatiku pun menjadi lebih baik dibuatnya. Hari ini setelah seminggu lamanya mengurung diri di rumah karena hujan selalu mengguyur bumi, aku akhirnya bisa keluar juga. Hari ini aku akan membeli eskrim dan makanan yang banyak. Aku tidak akan sedih lagi, aku tidak akan meratapi kepergianmu lagi. Daru, hari ini aku akan bersenang-senang, dan kuharap kau pun juga begitu. Bersenang-senanglah di atas sana. Kesedihanku mungkin menjadi beban bagimu, tapi sekarang aku akan melepaskanmu, aku akan membiarkanmu bebas. Atas segala hal yang sudah kita lalui bersama, aku ingin sekali berterima kasih padamu. Daru, terima kasih karena waktu itu sudah menolongku. Terima kasih karena sudah menyelamatkan nyawaku dan sudi menampungku di rumahmu.
Mulai hari ini hingga seterusnya, aku akan menepati janjiku padamu, agar kamu tidak perlu mengkhawatirkanku.
"Aku tidak perlu khawatir lagi karena sudah melihatnya sendiri."
Aku menoleh, terkejut dengan suara yang baru saja kudengar. Daru, aku melihatmu, apa kau sungguh ada di sini? Apa yang kulihat itu memang betulan dirimu?
"Lia, aku bukan orang yang suka ingkar janji, pantas ketika aku melihatmu, aku bisa mengenalimu. Ternyata kamulah orang yang selama ini kucari."
Aku terkejut. Betulan terkejut. Apa ini bukan mimpi? Kamu sungguhan ada di sini?
"Daru?"
"Iya Lia, ini aku. Darumu."