Disukai
0
Dilihat
366
Keluarga besar Nenek
Drama

Bagian I: Misteri di Balik Semak Belukar

Hari Minggu selalu menjadi hari yang paling dinanti-nantikan oleh Putra. Bagi seorang bocah cilik yang saat ini masih duduk di bangku kelas 5 Sekolah Dasar, hari Minggu adalah wilayah kebebasan mutlak di mana ia bisa melepaskan penat dari rutinitas sekolah. Jadwal wajibnya di hari libur seperti ini adalah bermain sepuasnya di area luas di belakang rumahnya, sebuah kawasan yang berbatasan langsung dengan hamparan hijau perkebunan kelapa sawit.

Biasanya, petualangan Putra di belakang rumah tidak pernah sepi. Permainan yang biasa dimainkannya bersama teman-temannya sangat bermacam-macam dan berganti setiap pekan. Kadang kala mereka berkumpul di tanah lapang yang kering untuk bermain kelereng dengan sorak-sorai yang riuh. Di musim angin, mereka akan berlarian menerbangkan layangan kertas berwarna-warni hingga membubung tinggi menantang langit. Jika matahari sedang terik-teriknya, Putra dan kawan-kawannya tidak ragu untuk melompat dan mandi di parit besar yang mengalir di sekitar perkebunan kelapa sawit, merasakan kesegaran air di tengah kepungan pohon-pohon palem raksasa. Tak jarang pula, mereka menyusuri tepian hutan kecil untuk mencari sayur-sayuran liar serta jamur barat yang tumbuh subur pasca-hujan, atau sekadar membawa joran bambu sederhana untuk memancing ikan gabus di rawa-rawa kecil.

Biasanya, Putra selalu ditemani oleh lima orang teman setianya yang tidak pernah absen bertualang. Namun, hari Minggu kali ini terasa sangat berbeda dan sunyi. Halaman belakang rumah terasa lengang karena seluruh temannya sedang tidak bisa hadir ke rumah Putra. Mereka semua sedang ikut orang tua masing-masing untuk berkunjung ke rumah saudara di luar kota. Tinggallah Putra seorang diri, mencoba membunuh sepi di bawah keteduhan pohon pelataran belakang.

Disaat sedang asyik memotong dan merangkai selembar daun kelapa muda untuk dibuat menjadi kincir angin *sebuah keterampilan tradisional yang diajarkan ayahnya*, sebuah keanehan menarik perhatian Putra. Dari kejauhan, matanya yang jeli menangkap sesuatu yang tidak biasa. Di batas antara halaman rumah dan area perkebunan, sebuah semak belukar yang cukup lebat di depannya tampak bergerak-gerak pelan. Gerakan itu konstan, seolah-olah ada sesuatu yang sedang bersembunyi di dalamnya.

 

 

Seketika, perasaan Putra bercampur aduk. Ada rasa sedikit takut yang menyelinap di hatinya, mengingat ia sedang sendirian di sana. Namun, rasa penasaran khas anak-anak segera mengalahkan ketakutannya. Ia mencoba memberanikan diri untuk mendekati pusat gerakan tersebut. Sambil memungut dan memegang sebuah tongkat kayu kecil yang tergeletak di tanah sebagai alat perlindungan diri, Putra melangkah perlahan, menjinjit di atas rumput kering menuju semak belukar di depannya.

Jantungnya berdebar kencang menepuk dinding dada, dan tangannya bergetar hebat ketika ia melangkah semakin dekat dengan semak belukar misterius itu. Pikiran-pikiran liar tentang ular atau hewan liar sempat melintas. Menggunakan tongkat kayu di genggamannya yang mulai basah oleh keringat dingin, ia memilah dan menekan semak-semak berduri itu ke samping dengan sangat hati-hati. Ketika celah di antara dedaunan hijau mulai terbuka, ia menahan napas sedalam-dalamnya, bersiap menghadapi apa pun ancaman yang mungkin bersembunyi di balik kegelapan sana.

Ketika celah semak belukar tersebut akhirnya telah terbuka lebar, mata Putra membelalak sempurna. Bukannya ular sanca atau hewan buas yang ia temukan, melainkan rasa kaget yang berubah menjadi keharuan. Di balik semak belukar tersebut, tampak duduk meringkuk seekor kucing betina bertubuh kurus dengan bulu-bulunya yang belang tiga kombinasi warna hitam, oren, dan putih yang tampak kusam.

Bagian II: Anggota Keluarga yang Baru

Karena sejak dulu Putra memang tidak memiliki binatang peliharaan sama sekali di rumahnya, hati kecilnya langsung tergerak oleh rasa iba. Tanpa ragu-ragu lagi, akhirnya Putra memutuskan untuk mengadopsi kucing betina malang tersebut dan membawanya pulang ke rumah. Setelah membersihkan bulunya yang kotor, Putra memberinya nama yang unik: *Nenek*. Putra memberikan nama tersebut bukan tanpa alasan yang jelas; ia memilih nama *Nenek* karena raut wajah kucing itu terlihat jauh lebih tua, layu, dan penuh kerutan alami jika dibandingkan dengan kucing-kucing lain yang biasa ia lihat berkeliaran di sekitar perkampungan.

Sejak hari itu, Putra merawat Nenek dengan penuh perhatian dan kasih sayang yang luar biasa. Ia memperlakukan kucing belang tiga itu layaknya sahabat barunya yang paling berharga. Setiap pagi sebelum berangkat sekolah dan setiap sore sepulang bermain, Putra selalu rutin memberi makan Nenek dengan menu kesukaannya, yaitu sepiring nasi hangat yang diaduk rata dengan ikan tongkol suwir yang harum. Perawatan yang baik itu membuat tubuh Nenek yang semula kurus kering perlahan-lahan mulai berisi dan bulunya menjadi berkilau.

Waktu terus berjalan dengan cepat. Enam bulan kemudian, Putra menyadari adanya perubahan fisik yang mencolok pada kucing kesayangannya. Perut Nenek tampak semakin membesar dan membuncit dari hari ke hari, sebuah tanda pasti bahwa Nenek akan segera punya anak. Putra pun mempersiapkan sebuah kotak kardus yang nyaman dan dialasi kain hangat di sudut dapur untuk tempat bersalin.

Beberapa minggu kemudian, momen yang ditunggu-tunggu pun tiba. Nenek telah melahirkan tiga ekor bayi kucing yang sangat lucu dan menggemaskan. Dari ketiga anak tersebut, dua ekor berjenis kelamin jantan dan satu ekor berjenis kelamin betina. Kini, jumlah kucing di rumah Putra telah bertambah banyak, menjadi empat ekor secara keseluruhan. Putra berkomitmen dalam hatinya untuk merawat semua kucingnya dengan baik, tanpa membeda-bedakan kasih sayang di antara mereka.

Bagian III: Siklus Kehidupan dan Kehadiran si Oren

Beberapa tahun telah berlalu tanpa terasa, mengubah dinamika di dalam rumah kecil Putra. Tiga ekor anak Nenek yang dulunya bayi-bayi kecil kini telah tumbuh dewasa dan mandiri. Namun, hukum alam pun mulai berlaku. Tak lama setelah mencapai usia dewasa, dua ekor anak Nenek yang berjenis kelamin jantan tiba-tiba pergi meninggalkan rumah Putra secara bergantian. Kepergian ini tidak membuat Putra heran, sebab ayahnya pernah menjelaskan bahwa memang ketika sudah dewasa, biasanya kucing yang jantan akan pergi mengembara dari rumah tuannya demi mencari jodoh atau menemukan jati diri mereka di luar sana. Kini, kucing yang tinggal bersama Putra kembali menyusut menjadi dua ekor saja, yaitu Nenek dan satu anak betinanya.

Satu tahun kemudian, keajaiban kecil kembali terjadi di rumah itu. Perut Nenek kembali mengandung anak untuk yang kedua kalinya. Dan benar saja, beberapa minggu kemudian, Nenek melahirkan bayinya dengan selamat. Kali ini, takdir membawa kebahagiaan ganda bagi Putra; anak Nenek yang lahir adalah dua ekor kucing yang seluruh bulunya berwarna oren cerah. Putra merasa sangat senang dan bersorak gembira, karena sejak lama ia memang sangat menyukai kucing yang berwarna oren, yang menurutnya selalu memiliki karakter yang ceria dan unik.

Satu tahun kemudian, dua ekor kucing oren tersebut telah tumbuh menjadi kucing dewasa yang gagah dan lincah. Di antara kedua kucing oren yang kembar tersebut, ternyata ada satu yang paling Putra sayangi dengan porsi perhatian yang lebih. Putra memberinya nama yang sederhana namun sarat akan kasih sayang: *Oren*.

Yang paling membuat Putra menaruh rasa sayang yang amat mendalam dengan si *Oren* adalah karena suara mengeongnya yang sangat klasik, unik, dan luar biasa. Ketika suara kucing lain pada umumnya adalah *"meow"* atau *"miaw"* yang melengking standar, si *Oren* justru memiliki logatnya tersendiri yang sangat khas dan berkarakter. *"Urre, Urre, Urre..."* itulah suara khas yang selalu keluar dari mulut *Oren* setiap kali ia menyambut kedatangan Putra atau meminta makan. Suara parau yang menggemaskan itu selalu berhasil mengundang senyum di wajah Putra.

Bagian IV: Kehilangan dan Silsilah yang Berlanjut

Tapi, awan mendung kesedihan segera menggelayuti hati Putra. Takdir berkata lain, dan kebersamaan mereka yang indah tidak berlangsung lama. Usia si *Oren* tidak bertahan lama di dunia ini; usianya hanya bertahan selama beberapa bulan saja sejak ia menginjak dewasa. Sebelum si *Oren* meninggal, tanda-tanda malapetaka itu sudah terlihat jelas. Selama beberapa hari, *Oren* terlihat sakit keras, tubuhnya lemas, pandangan matanya sayu, dan ia sama sekali tidak mau menyentuh makanan ataupun air yang disodorkan Putra.

Keesokan harinya, Putra terbangun dengan kecemasan yang membuncah, si *Oren* telah hilang bak ditelan bumi dari tempat tidurnya. Putra yang panik langsung bergerak cepat; ia telah mencarinya ke berbagai tempat disekitar tempat tinggalnya, memeriksa kolong-kolong rumah, semak-semak perkebunan sawit, hingga bertanya ke rumah-rumah tetangganya sejauh radius beberapa meter. Tapi, meskipun melelahkan diri hingga senja tiba, Putra tetap tidak menemukan keberadaan si kucing oren kesayangannya itu.

Dengan hati yang hancur dan air mata yang menetes, Putra akhirnya pasrah dan merasa yakin di dalam lubuk hatinya bahwa si *Oren* telah meninggal dunia di suatu tempat yang tersembunyi, sebagaimana kebiasaan kucing yang menjauh saat ajalnya tiba. Dalam kesedihan yang mendalam itu, Putra hanya bisa berserah dan berharap kepada Tuhan melalui doa sederhananya: seandainya si *Oren* ternyata masih hidup di luar sana, ia hanya ingin *Oren* bisa kembali pulang ke pelukannya, apa pun kondisinya meskipun dalam keadaan cacat atau sakit sekalipun. Namun, keajaiban itu tidak pernah datang. Kini, kucing Putra yang berwarna oren hanya tinggal satu ekor saja, yaitu saudara kembar si *Oren*.

 

 

Kehidupan harus terus bergulir menembus duka. Waktu yang terus berjalan membawa fase baru bagi keturunan Nenek. Kini, anak Nenek yang pertama (yang betina) telah tumbuh menjadi induk yang matang dan punya anak juga sebanyak tiga ekor. Mereka adalah cucu Nenek yang pertama bagi Putra. Komposisi ketiganya adalah dua ekor betina dan satu ekor jantan. Seperti pola yang sudah dipelajari Putra sebelumnya, setelah beranjak dewasa, anak yang jantan dari generasi cucu pertama ini juga pergi meninggalkan rumah Putra untuk berkelana.

Setelah beberapa tahun kemudian berlalu, anak Nenek yang pertama itu kembali melahirkan dan memiliki anak berjumlah tiga ekor lagi, yang dicatat Putra sebagai cucu Nenek yang kedua. Komposisinya lagi-lagi sama persis seperti kelahiran sebelumnya, yaitu dua ekor betina dan satu ekor jantan. Dan sama seperti yang pertama kali terjadi, setelah mereka semua menginjak usia dewasa, anak yang jantan dari generasi cucu kedua ini juga pergi mengembara dari rumah Putra, menyisakan saudara-saudara betinanya.

Silsilah keluarga kucing itu terus berkembang bercabang-cabang. Setelah beberapa tahun kemudian, salah satu dari cucu Nenek yang pertama kini telah beranjak menjadi induk dan punya anak pula. Anaknya yang lahir ada tiga ekor. Namun, kebahagiaan itu sedikit terusik karena dari tiga bersaudara tersebut, hanya dua ekor yang mampu bertahan hidup hingga besar, sementara yang satunya telah mati ketika masih bayi akibat serangan sakit misterius.

Bagian V: Akhir Sebuah Era dan Kebahagiaan Baru

Perubahan besar kembali terjadi di rumah Putra. Setelah beberapa tahun menjadi ratu dan leluhur di lingkungan halaman belakang tersebut, Nenek si kucing belang tiga yang pertama kali ditemukan di semak-semak tiba-tiba pergi dari rumah Putra tanpa kembali lagi. Putra tidak pernah tahu apa sebabnya Nenek pergi; apakah karena ia merasa usianya sudah terlalu tua dan ingin mencari tempat peristirahatan terakhir, atau karena alasan lain yang tersembunyi di dalam insting liarnya. Kepergian Nenek menandai berakhirnya sebuah era, namun ia telah meninggalkan warisan keturunan yang sangat besar bagi Putra.

Kini, jika dihitung secara keseluruhan dari semua generasi yang bertahan dan berkumpul di rumahnya, jumlah kucing yang dimiliki Putra ada sebanyak delapan ekor. Halaman belakang rumah yang dulunya sepi di hari Minggu, kini tidak pernah lagi terasa lengang. Bersama mereka semua yang melompat, mengeong, dan berlarian ke sana kemari, Putra selalu menghabiskan waktu luangnya untuk bermain bersama dengan penuh suka cita. Rumahnya kini telah menjelma menjadi sebuah kerajaan kecil yang hangat bagi delapan ekor kucing setianya.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Rekomendasi