Aroma tanah basah dan sisa embun pagi selalu menjadi menu pembuka hari bagi Yusuf. Di bawah langit dusun yang masih remang, pemuda berusia dua puluh dua tahun itu sudah berlutut di atas tanah lempung yang pekat. Jari-jarinya yang kasar dengan cekatan mencabut rumput liar yang tumbuh di sela-sela tanaman kacang tanah. Rumput liar, tanah lempung, dan lumpur adalah teman sehari-hari yang paling setia baginya.
Pekerjaan Yusuf sangat sederhana, namun menuntut fisik yang prima. Ia adalah buruh tani yang merawat kebun kacang luas milik Pak Kardi, sang kepala desa. Yusuf sendiri hanyalah seorang pemuda miskin sebatang kara. Jangankan memiliki hamparan kebun hijau seperti ini, lemari pakaiannya di gubuk reyot sana bahkan sangat lowong. Ia hanya memiliki tiga pasang pakaian yang sudah pudar warnanya, digunakannya bergantian setiap hari hingga kainnya menipis di bagian bahu dan lutut.
Matahari perlahan merangkak naik, membakar tengkuk Yusuf dengan hawa panasnya yang terik. Ketika jarum jam di kepalanya mengisyaratkan waktu istirahat, Yusuf menyeka keringat di dahi dengan punggung tangan yang kotor oleh tanah. Ia berjalan gontai menuju sebuah gubuk bambu kecil di sudut kebun, tempat sebotol air putih dan sebungkus nasi tiwul menantinya.
Sambil mengunyah makanannya perlahan, pandangan mata Yusuf menerobos jauh melompati batas-batas kebun kacang, menembus gumpalan awan putih di langit. Di saat-saat istirahat seperti inilah, pikiran Yusuf sering kali mengembara, terbang menjauh meninggalkan tubuhnya yang lelah. Pikirannya melesat menuju satu tempat yang menurutnya sangat luar biasa dan juga spesial: Masjid Istiqlal.
Bagi warga Jakarta atau mereka yang terbiasa hidup di kota besar, Masjid Istiqlal mungkin terasa biasa saja. Sebuah bangunan megah di pusat ibu kota yang dilewati setiap hari saat berangkat kerja, atau tempat singgah sejenak untuk menunaikan salat zuhur di tengah hiruk-pikuk macetnya jalanan. Namun, bagi Yusuf, seorang anak kampung yang dunianya hanya sebatas cangkul, lumpur, dan upah harian, Masjid Istiqlal adalah sebuah mahakarya. Tempat itu adalah muara dari segala keinginan sekaligus cita-cita terbesarnya selama ini.
Yusuf sering melihat kemegahan masjid itu dari selembar halaman kalender bekas tahun lalu yang ia temukan di tempat sampah dekat balai desa. Gambar kubah raksasa yang dilapisi baja antikarat, menara tunggal yang menjulang tinggi menantang langit, dan hamparan marmer luas yang tampak berkilau dingin. Dalam kesendiriannya, Yusuf sangat ingin bisa merasakan langsung dari dekat betapa luar biasanya Masjid Istiqlal.
Ia sering memejamkan mata dan membayangkan dirinya melangkah masuk ke dalam ruang salat utama. Yusuf berkhayal kakinya yang biasa menginjak lumpur becek, kini menyentuh lantai marmer yang bersih dan sejuk. Ia ingin berdiri di bawah kubah besar berdiameter 45 meter itu, menengadah menatap arsitekturnya yang megah, lalu bersujud dengan khusyuk di atas karpet merahnya yang tebal. Baginya, beribadah di sana pasti akan membawa kedamaian yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Namun, lamunan indah itu selalu terbentur pada kenyataan yang keras saat ia membuka mata. Yusuf menatap telapak tangannya yang kapalan. Penghasilannya sebagai buruh tani kebun kacang hanya cukup untuk menyambung hidup dari hari ke hari. Upah harian dari Pak Kardi kerap habis hanya untuk membeli beras, garam, dan sedikit minyak goreng.
Jangankan untuk menyisihkan uang dan ditabung sebagai ongkos naik kereta ke ibu kota, untuk memperbaiki atap gubuknya yang bocor saja uang Yusuf masih selalu kurang. Setiap kali hujan deras mengguyur desanya di malam hari, Yusuf harus terjaga, sibuk memindahkan baskom-baskom plastik untuk menampung tetesan air yang menerobos langit-langit rumahnya yang lapuk.
Yusuf menghela nafas panjang. Hembusan nafasnya terasa berat, seolah membawa beban seluruh kemiskinan yang mengikat kakinya di tanah lempung ini. Angin siang bertiup kencang, menggoyang daun-daun kacang dan menerbangkan debu-debu kering di sekitarnya. Yusuf merasa impiannya tentang Masjid Istiqlal sama seperti debu-debu itu hanya bisa terbawa angin, melayang tinggi sesaat, lalu hilang entah ke mana tanpa pernah bisa ia sentuh.
Sore harinya, setelah menyelesaikan seluruh pekerjaan di kebun, Yusuf berjalan pulang melewati jalan setapak desa. Di pundaknya bertengger sebuah cangkul yang terasa kian berat. Langkah kakinya gontai, debu jalanan menempel di betisnya yang legam. Di sepanjang jalan, ia melihat tetangga-tetangganya yang sedang berkumpul di depan rumah, mengobrol santai sambil minum teh. Yusuf hanya melemparkan senyum sopan lalu mempercepat langkah. Ia merasa tidak memiliki tempat di dalam obrolan-obrolan riang itu.
Sesampainya di gubuknya yang sepi, Yusuf langsung menuju pancuran air di belakang rumah untuk membersihkan diri. Setelah tubuhnya segar dan berganti pakaian menggunakan baju pasangannya yang kedua, ia duduk di ambang pintu kayu yang sudah miring. Matanya kembali menatap kalender bekas yang dipaku di dinding anyaman bambu. Gambar Masjid Istiqlal itu mulai menguning di bagian sudutnya, namun di mata Yusuf, kilau marmer dan kemegahan kubahnya tidak pernah pudar.
“Apakah orang miskin sepertiku tidak pantas bertamu ke rumah Allah yang seindah itu?” bisik Yusuf lirik pada sunyi.
Pertanyaan itu kerap muncul di kepalanya, memicu rasa sesak di dada. Yusuf tahu bahwa Allah ada di mana saja, bahkan di mushola kecil berlantai semen retak di ujung desanya. Ia tidak pernah melewatkan ibadahnya di sana. Namun, keinginan untuk menginjakkan kaki di Istiqlal bukan sekadar urusan gengsi atau pamer. Bagi Yusuf, Istiqlal adalah simbol dari sebuah pencapaian hidup, sebuah bukti bahwa seorang anak kampung yang terbiasa dengan lumpur juga bisa menginjakkan kaki di tempat paling terhormat di negeri ini.
Malam pun jatuh, mengganti langit jingga dengan kegelapan yang pekat. Yusuf menyalakan lampu minyak kecil yang bergoyang ditiup angin malam yang menyusup dari celah dinding bambu. Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur tipis yang aromanya sudah apek. Sebelum memejamkan mata, Yusuf kembali berdoa. Sebuah doa sederhana yang selalu ia rapalkan setiap malam sebelum tidur.
“Ya Allah, jika engkau mengizinkan, bawalah hamba-Mu ini ke Masjid Istiqlal. Izinkan hamba bersujud di sana, meski hanya sekali seumur hidup hamba.”
Angin malam kembali berhembus kencang di luar gubuk, menggoyangkan pepohonan dan mengetuk-ngetuk atap rumbia rumah Yusuf yang bocor. Di dalam tidurnya yang mulai lelap, Yusuf kembali bermimpi. Ia bermimpi berjalan di atas lantai marmer yang putih bersih, angin sejuk berhembus dari jendela-jendela besar Masjid Istiqlal, menyapu semua rasa lelah, lumpur, dan kemiskinan yang selama ini melekat pada tubuhnya. Impian itu tetap hidup, terbang bebas bersama angin, menanti hari di mana ia tidak lagi sekadar menjadi bunga tidur.
Semoga Tuhan Yang Maha Esa memberikan kemudahan kepada Yusuf untuk mendapatkan keinginan nya.