Disukai
0
Dilihat
9
Selamat jalan Gendut
Drama
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Malam itu jarum jam sudah menunjuk ke angka sembilan. Septa melangkah tergesa-gesa meninggalkan rumah temannya, membelah keheningan malam yang pekat. Sisa hujan sore tadi masih menyisakan hawa dingin yang menusuk tulang, lengkap dengan jalanan tanah yang kini berubah menjadi kubangan lumpur. Sepatunya berkali-kali terbenam, menyisakan cipratan cokelat di celananya. Namun, Septa sudah terbiasa dengan rute ini. Ini adalah jalan pulang yang selalu dia lalui setiap hari.

Ketika langkahnya sampai di ujung jembatan tua dekat rumahnya, sebuah jembatan kayu yang menjadi pembatas antara jalan desa dan pekarangan rumah. Langkah Septa mendadak terhenti. Suasana sangat sepi, hanya terdengar suara jangkrik dan gemercik air sungai di bawahnya. Namun, di antara bayang-bayang tiang jembatan yang remang-remang, matanya menangkap sesuatu. Ada sesosok makhluk kecil berwarna abu-abu, berkaki empat, sedang duduk meringkuk. Tubuhnya gemetar hebat menahan dinginnya angin malam.

Septa mendekat perlahan, khawatir makhluk itu ketakutan dan melompat ke sungai. Saat jarak mereka hanya beberapa jengkal, terdengar suara mengeong yang sangat pelan dan serak. Ternyata itu adalah seekor anak kucing. Bulunya basah kuyup oleh sisa air hujan, dan matanya yang bulat menatap Septa dengan pandangan memelas, seolah meminta pertolongan. Hati Septa langsung tersentuh. Tanpa berpikir panjang, dia membuka jaketnya, membungkus tubuh ringkih itu dengan kehangatan, dan membawanya pulang ke rumah.

"Mulai sekarang, kamu aman di sini," bisik Septa malam itu sambil mengeringkan bulu si kucing dengan handuk kecil.

Karena bentuk tubuhnya yang sejak kecil sudah terlihat padat dan menggemaskan, Septa memutuskan untuk memberinya nama yang sederhana namun penuh kasih sayang: Gendut.

Kehadiran Gendut menambah ramai suasana rumah. Di sana, Gendut bergabung dengan beberapa kucing peliharaan Septa yang lainnya. Beruntung, proses adaptasi tidak memakan waktu lama. Hari-hari pun berlalu dengan cepat. Gendut tumbuh menjadi anak kucing yang sangat ceria. Dia tidak lagi kesepian atau ketakutan di bawah jembatan yang gelap. Kini, dia telah sepenuhnya menjadi bagian tak terpisahkan dari keluarga Septa.

 Seiring berjalannya waktu, ada banyak hal fisik yang membuat Gendut begitu mencolok di antara kucing-kucing lainnya. Jika kucing-kucing Septa yang lain mayoritas memiliki struktur wajah yang lonjong dan ramping, Gendut justru sebaliknya. Wajahnya bulat sempurna, dengan pipi yang tampak tembam seolah selalu penuh dengan makanan. Bulunya yang abu-abu tumbuh dengan sangat lebat dan luar biasa lembut, layaknya gumpalan kapas berjalan. Tubuhnya bulat, montok, dan menggemaskan.

Namun, bukan hanya keindahan fisiknya saja yang membuat Septa jatuh hati, melainkan sifatnya. Gendut memiliki keunikan tersendiri yang tidak dimiliki oleh kucing mana pun yang pernah Septa pelihara. Dia adalah kucing yang sangat patuh dan tahu sopan santun. Setiap kali Septa pulang dan memanggil namanya, “Gendut!”, dari sudut ruangan mana pun, Gendut akan langsung muncul dan berlari sekencang mungkin dengan kaki-kaki pendeknya menuju Septa, lalu mengesekkan kepalanya ke kaki Septa.

Kepatuhan Gendut yang paling luar biasa adalah saat waktu makan tiba. Ketika Septa memberikan sepotong ikan goreng di depannya, Gendut tidak akan pernah langsung menyambarnya. Dia akan duduk dengan tenang, menatap makanan itu, lalu beralih menatap wajah Septa seolah meminta izin. Gendut tidak akan menyentuh ikan tersebut sebelum Septa berkata, “Ayo makan, Gendut.” Setelah perintah itu terdengar, barulah dia memakannya dengan lahap. Sifat santun dan menggemaskan inilah yang membuat Gendut menjadi satu-satunya primadona bagi Septa. Bagi Septa, Gendut adalah makhluk paling lucu dan istimewa yang pernah hadir dalam hidupnya.

Waktu terus bergulir tanpa terasa hingga umur Gendut menginjak enam bulan. Pertumbuhannya sangat pesat. Tubuh bulatnya kian membesar, bahkan kini ukurannya sudah melampaui kucing-kucing Septa yang lain yang usianya jauh lebih tua. Gendut benar-benar sehat, aktif, dan selalu menjadi pusat perhatian di rumah itu.

Hingga akhirnya, tibalah bulan ketujuh. Sebuah hari yang tak pernah dibayangkan oleh Septa seumur hidupnya. Hari Minggu pagi yang tenang, saat matahari baru saja terbit memberikan kehangatan. Seperti ritual biasanya, Septa bangun dengan semangat dan bersiap-siap untuk memberi makan Gendut dan kucing-kucing lainnya di area dapur.

Namun, suasana damai pagi itu mendadak pecah menjadi kepanikan yang mencekam. Tanpa ada tanda-tanda sakit sebelumnya, tiba-tiba saja Gendut berlari dengan sangat kencang kesana kemari. Dia melompat dan berlari tak tentu arah, seolah-olah sedang melarikan diri dari sesuatu yang sangat menakutkan yang tak kasat mata. Septa yang melihat hal itu langsung panik dan mencoba memanggilnya, namun Gendut tidak mendengar.

Sesaat kemudian, tubuh bulat itu ambruk ke lantai. Gendut mulai kejang-kejang. Badannya yang besar bergetar dengan sangat hebat, kakinya kaku menegang, dan mulutnya mulai mengeluarkan busa putih. Semuanya terjadi begitu cepat, tanpa tahu apa sebab yang pasti. Apakah Gendut meracuni diri secara tidak sengaja, atau ada serangan penyakit mendadak yang mematikan, Septa sama sekali tidak tahu.

Dalam hitungan menit yang terasa bagai keabadian, perlahan-lahan getaran di tubuh Gendut mulai melemah. Hingga akhirnya, tubuh itu benar-benar diam dan langsung berubah menjadi kaku.

“Gendut... Gendut... Kamu kenapa?” suara Septa bergetar hebat. Air matanya langsung tumpah membasahi pipi.

Septa berlutut di atas lantai dingin, tidak tahu harus berbuat apa. Rasa takut, panik, dan sedih bercampur aduk menjadi satu hantaman keras di dadanya. Dia berusaha menggoyangkan tubuh Gendut yang semakin lama semakin kaku.

“Gendut, bangun... Ayo bangun. Ayo makan. Aku udah siapin ikan kesukaan kamu,” ajak Septa dengan suara serak, terisak-isak di antara tangisnya yang pecah. Dia terus menggoyang-goyangkan kaki dan perut bulat Gendut, berharap ada keajaiban, berharap mata bulat itu akan terbuka kembali dan mengeong manja seperti biasanya.

Namun, takdir berkata lain. Semakin lama, tubuh Gendut semakin tak berdaya. Detak jantungnya telah berhenti total. Tubuh bulat yang biasanya hangat dan lembut, kini terasa dingin dan mengeras kaku seperti batu dalam dekapan Septa.

Pada titik itulah, pertahanan Septa runtuh sepenuhnya. Dia tersadar dengan kenyataan pahit bahwa Gendut telah tiada. Primadona kecilnya telah berpulang ke pangkuan Sang Pencipta yang melahirkannya ke dunia. Kesedihan mendalam menyelimuti seluruh ruangan pagi itu. Rumah yang biasanya ceria seketika terasa begitu sunyi dan hampa.

Meskipun hatinya hancur berkeping-keping, Septa tahu dia tidak boleh membiarkan sahabat kecilnya begitu saja. Sembari menghapus air mata yang terus mengalir deras, Septa berusaha menguatkan hatinya, mencoba untuk tetap tegar demi memberikan penghormatan terakhir bagi Gendut. Dia berjalan ke halaman belakang rumah dekat pohon yang rindang, membawa sebuah cangkul kecil.

 Dengan sisa-sisa tenaganya, Septa mulai menggali tanah. Setiap tancapan cangkul diiringi oleh helaan napas berat dan air mata yang menetes ke bumi. Dia sedang membangun sebuah rumah baru, rumah terakhir yang akan menjaga Gendut selamanya. Setelah lubang dirasa cukup dalam, Septa kembali ke dalam rumah untuk mengambil jasad Gendut.

Septa mengambil sebuah karung beras kosong yang bersih. Dengan penuh kelembutan, seolah takut menyakiti tubuh yang sudah tak bernyawa itu, Septa memasukkan tubuh kaku Gendut ke dalam karung tersebut. Dia melipat ujung karung dengan rapi, membungkus sahabat kecilnya dengan penuh rasa hormat. Septa kemudian menggendong bungkusan itu ke halaman belakang dan perlahan-lahan menurunkannya ke dalam lubang tanah yang telah dia gali.

Septa berlutut di tepi lubang kubur tersebut. Tangannya memegang segenggam tanah pertama yang akan menutup karung itu. Namun, sebelum tanah itu terlepas dari genggamannya, dadanya kembali sesak. Memori tentang bagaimana Gendut berlari kencang saat dipanggil, bagaimana setianya Gendut menunggu aba-aba sebelum makan ikan goreng, dan bagaimana lembutnya bulu abu-abu itu, semuanya berputar kembali di benaknya.

Air matanya menetes, jatuh tepat di atas lipatan karung beras di dalam tanah. Dengan suara yang terbata-bata karena menahan tangis yang mendalam, Septa berbisik lirih untuk yang terakhir kalinya.

“Selamat jalan, Gendut... Terima kasih sudah hadir dan membawa kebahagiaan di hidupku. Kamu kucing paling pintar. Tidur yang nyenyak ya, Sayang...”

Ucap Septa sambil menangis, lalu perlahan-lahan menjatuhkan tanah pertama untuk menimbun jasad kucing kesayangannya, melepas Gendut pergi selamanya menuju kehadapan sang Pencipta.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Rekomendasi